Kamis, 29 Januari 2026

BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem dan Perubahan Iklim di Sebagian Wilayah Indonesia


 BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem dan Perubahan Iklim di Sebagian Wilayah Indonesia Peringatan BMKG, cuaca ekstrem (Net)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sekaligus mengeluarkan peringatan dini adanya angin kencang hingga hujan lebat yang akan melanda sebagian wilayah di Indonesia pada Selasa (12/10). BMKG mengeluarkan prediksi datangnya angin kencang yang perlu diwaspadai masyarakat Aceh, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara. Sementara potensi hujan sedang hingga lebat diprakirakan terjadi di Banten, Bengkulu, Jambi, Jawa Barat, Lampung, Maluku, Sulawesi Barat, dan Sumatera Selatan. Khusus di wilayah DKI Jakarta, BMKG mengeluarkan peringatan kepada masyarakat terkait adanya potensi hujan disertai kilat di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan di Nusa Tenggara Timur.

Waspadai Perubahan Iklim

Kepala BMKG Dwikorita Karmawati juga meminta masyarakat luas agar mewaspadai terjadinya perubahan iklim, khususnya di Tanah Air. Bencana alam hidrometeorologi di Indonesia meningkat cukup signifikan akibat perubahan iklim.

Menurutnya, bencana hidrometeorologi disebabkan oleh kondisi cuaca dan perubahan iklim. Kondisi tersebut diperparah dengan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menunjukan bahwa 99% bencana yang terjadi di Indonesia adalah hidrometeorologi.

“Hujan ekstrem yang sangat lebat menyebabkan terjadinya banjir, puting beliung, dan tanah longsor. Lalu, ada juga gelombang pasang dan abrasi,” jelasnya dalam webinar Kebijakan Pembangunan Berketahanan Iklim: Mengurangi Kerugian Ekonomi Akibat Dampak Iklim, Senin (11/10/2021)

Dijelaskan bahwa bencana hidrometeorologi memiliki berbagai parameter. Ada peningkatan dan penurunan curah hujan hingga suhu dan cuaca ekstrem.

Oleh karena itu, bencana hidrometeorologi juga dapat menyebabkan bencana kekeringan ekstrem. Contohnya adalah kebakaran hutan dan lahan dan kekeringan lain.

"Semua bencana alam tersebut tak terlepas dari faktor pengendali iklim atau cuaca. Kondisi ini juga korelatif dengan meningkatnya suhu global. Dampak ini pun sifatnya tak hanya lokal, tetapi bisa regional bahkan global,” ungkapnya.

Suhu udara diproyeksikan meningkat 0,5 celcius pada 10 tahun mendatang. Curah hujan pada musim kemarau diproyeksikan semakin berkurang sekitar 20%. Untuk musim kemarau di masa mendatang akan terasa lebih panas dan kering.

Sementara jumlah hujan pada periode musim hujan tidak banyak berubah, tetapi jumlah hari hujan lebat meningkat dan ekstrem serta intensitasnya semakin sering. Hal ini berpotensi bencana hidrometeorologi meningkat.

"Maka dari itu pengendalian banjir atau bencana hidrometeorologi lainnya harus mempertimbangkan kondisi iklim saat ini serta proyeksi iklim kedepan harus dipertimbangkan dalam membangun infrastruktur pengendalian banjir dan infrastruktur pendukung lainnya," tutup Dwikorita.

Oleh karena itu, bencana hidrometeorologi juga dapat menyebabkan bencana kekeringan ekstrem. Contohnya adalah kebakaran hutan dan lahan dan kekeringan lain.

"Semua bencana alam tersebut tak terlepas dari faktor pengendali iklim atau cuaca. Kondisi ini juga korelatif dengan meningkatnya suhu global. Dampak ini pun sifatnya tak hanya lokal, tetapi bisa regional bahkan global,” ungkapnya.

Suhu udara diproyeksikan meningkat 0,5 celcius pada 10 tahun mendatang. Curah hujan pada musim kemarau diproyeksikan semakin berkurang sekitar 20%. Untuk musim kemarau di masa mendatang akan terasa lebih panas dan kering.

Sementara jumlah hujan pada periode musim hujan tidak banyak berubah, tetapi jumlah hari hujan lebat meningkat dan ekstrem serta intensitasnya semakin sering. Hal ini berpotensi bencana hidrometeorologi meningkat.

"Maka dari itu pengendalian banjir atau bencana hidrometeorologi lainnya harus mempertimbangkan kondisi iklim saat ini serta proyeksi iklim kedepan harus dipertimbangkan dalam membangun infrastruktur pengendalian banjir dan infrastruktur pendukung lainnya," tutup Dwikorita.


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Nasional Terbaru