Loading
Roni bersama warga lainnya berjalan kaki membawa beban belanjaan sembako dari Lhokseumawe menuju Aceh Tengah, Jumat (5/12/2025). ANTARA/HO-Warga.
BANDA ACEH, ARAHKITA.COM — Dampak banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh Tengah membuat wilayah tersebut masih terisolasi. Putusnya ruas Jalan KKA sebagai jalur utama menuju Lhokseumawe membuat warga kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok, termasuk beras. Di tengah situasi darurat itulah, sejumlah warga memilih menempuh perjalanan panjang dan melelahkan hanya untuk membeli bahan pangan.
Salah satunya adalah Roni (43), warga Takengon, yang bersama istrinya harus berjalan kaki berjam-jam menuju Lhokseumawe demi mendapatkan beras, BBM, dan kebutuhan harian lainnya. Ia mengaku terpaksa mengambil risiko karena persediaan makanan di rumah benar-benar habis.
“Kami sudah satu hari tidak masak. Di rumah tidak ada apa-apa lagi. Terpaksa nekat pergi belanja ke Lhokseumawe,” ujar Roni saat ditemui, Senin (8/12/2025).
Akses Putus, Warga Cari Jalur Alternatif
Sejak bencana terjadi, ruas Jalan KKA — yang selama ini menjadi jalur tercepat menuju Lhokseumawe — lumpuh total. Sejumlah titik jalan amblas, tergerus banjir, dan tertutup material longsor sehingga tak bisa dilewati kendaraan.
Untuk memulai perjalanan, Roni mengendarai sepeda motor dari Takengon menuju Kampung Buntul, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah. Motor itu ia titipkan di rumah warga dengan biaya Rp10.000.
Perjalanan kemudian berlanjut dengan berjalan kaki selama 2,5 jam menuju Kampung Kem. Saat kembali ke arah Takengon sambil membawa belanjaan, waktu tempuhnya bisa mencapai lebih dari lima jam.
Dari Kampung Kem, Roni naik ojek lokal seharga Rp20.000 menuju Kampung Buntul Sara Ine. Perjalanan dilanjutkan dengan ojek lain menuju kawasan Gunung Salak dengan tarif Rp100.000 hingga tiba di perbatasan Lhokseumawe–Bener Meriah. Di titik itu, ia dijemput keluarganya untuk melanjutkan perjalanan ke Lhokseumawe.
Belanja Kebutuhan Darurat
Roni dan istrinya bermalam di rumah keluarga di Lhokseumawe sebelum berbelanja esok harinya. Mereka memastikan membawa kebutuhan pokok yang cukup agar keluarganya tidak kelaparan selama masa darurat bencana.
“Yang paling utama kami beli beras dan BBM. Takut kondisi di Aceh Tengah makin lama pulihnya,” jelasnya dikutip Antara.
Ia membeli beberapa kebutuhan penting, antara lain:
Beras 25 kilogram (lima sak)
Gas melon 3 kilogram
Mie instan satu dus
Minyak goreng tiga liter
Kecap tiga botol
Pertalite 10 liter
Roni, ayah empat anak itu, mengaku berat meninggalkan anak-anaknya di Takengon. Namun kebutuhan pangan memaksa ia mengambil keputusan tersebut. Anak-anaknya dititipkan kepada tetangga selama ia melakukan perjalanan.
Menurutnya, kondisi di Takengon sudah masuk fase krisis. Beras tidak lagi tersedia di pasar, sementara BBM juga sulit diperoleh.
“Kalau cuma tunggu bantuan pemerintah, anak-anak di rumah bisa tidak makan. Lambat kali pemerintah bergerak,” keluh Roni.