Loading
Kegiatan edukasi TB yang digelar di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (11/4/2026) yang berlangsung di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Pasar Senen ini menghadirkan suasana hangat dan penuh interaksi. (Foto: Istimewa)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Upaya melawan tuberkulosis (TB) tidak hanya bergantung pada tenaga medis, tetapi juga pada kesadaran masyarakat. Hal inilah yang terasa kuat dalam kegiatan edukasi TB yang digelar di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (11/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Pasar Senen ini menghadirkan suasana hangat dan penuh interaksi. Diselenggarakan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran yang tergabung dalam Asian Medical Student Association (AMSA) FKUI, acara ini berhasil menarik perhatian berbagai kalangan—mulai dari anak-anak, remaja, hingga lansia berusia 88 tahun yang masih aktif mengikuti diskusi.
Dosen Fakultas Kedokteran yang telah mengabdi sejak 1988, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menjadi narasumber utama dalam kegiatan ini. Dengan pengalaman hampir empat dekade, ia menyampaikan edukasi TB secara sederhana namun komprehensif, sehingga mudah dipahami masyarakat.
Ada lima poin penting yang dibahas dalam sesi tersebut. Pertama, mengenai penyebab dan cara penularan tuberkulosis yang masih menjadi salah satu penyakit menular paling serius di Indonesia. Kedua, bagaimana TB dapat dikenali dan didiagnosis secara tepat.
Selanjutnya, Prof. Tjandra menjelaskan tentang pengobatan TB, termasuk jenis obat, durasi terapi yang cukup panjang, serta pentingnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. Ia juga menyinggung bahaya resistensi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang dapat terjadi jika pengobatan tidak dijalankan secara disiplin.
Baca juga:
KJP Medical Center Hadir di CFD Depok, Bagi Layanan Kesehatan Gratis dan Edukasi Hidup SehatPoin terakhir yang tak kalah penting adalah peran aktif masyarakat dalam pengendalian TB. Menurutnya, kesadaran kolektif menjadi fondasi utama dalam memutus rantai penularan penyakit ini.
Menariknya, sesi diskusi berlangsung sangat hidup. Warga tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif bertanya. Beberapa pertanyaan yang muncul antara lain mengapa edukasi tidak menyinggung pentingnya cuci tangan, seberapa efektif vaksin dalam mencegah TB, hingga pola makan yang tepat bagi pasien.
Antusiasme ini menjadi sinyal positif bahwa masyarakat semakin peduli terhadap kesehatan, khususnya dalam menghadapi ancaman tuberkulosis.
“Semangat dari masyarakat di tingkat akar rumput seperti ini harus terus dijaga. Ini adalah modal penting dalam pengendalian TB di Indonesia,” ungkap Prof. Tjandra.
Kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan yang langsung menyentuh masyarakat mampu membangun kesadaran kolektif. Di tengah tantangan penanggulangan TB yang masih besar, partisipasi aktif warga menjadi harapan nyata untuk masa depan yang lebih sehat.