Minggu, 02 Agustus 2026

Swedia dan Finlandia Desak Spanyol Bertindak Cepat Hadapi Gelombang Migran dari Maroko


 Swedia dan Finlandia Desak Spanyol Bertindak Cepat Hadapi Gelombang Migran dari Maroko Petugas keamanan Spanyol berjaga saat para migran yang berenang dari Maroko tiba di pantai kota Ceuta, Spanyol, Jumat (31/7/2026). ANTARA/Anadolu/Marcos Moreno/aa.

HELSINKI, ARAHKITA.COM – Krisis migrasi di wilayah kantong Spanyol, Ceuta, memicu kekhawatiran sejumlah negara Eropa. Swedia dan Finlandia mendesak pemerintah Spanyol segera mengambil langkah tegas untuk mengendalikan arus masuk migran dari Maroko yang terus meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Perdana Menteri Swedia, Ulf Kristersson, menilai Spanyol harus segera memenuhi tanggung jawabnya sebagai penjaga perbatasan luar kawasan Schengen. Menurutnya, stabilitas di perbatasan Spanyol akan berdampak langsung terhadap keamanan dan sistem migrasi di seluruh Uni Eropa.

Kristersson menegaskan, apabila perkembangan situasi migrasi berpotensi mengganggu keamanan Swedia, pemerintahnya siap mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga ketertiban dan memastikan pengawasan tetap berjalan.

Sementara itu, Menteri Imigrasi Swedia Johan Forssell mengusulkan digelarnya pertemuan luar biasa para menteri imigrasi negara-negara Nordik guna membahas situasi yang berkembang.

Ia juga menyatakan Swedia siap membantu Spanyol melalui Badan Penjaga Perbatasan dan Pantai Eropa (Frontex), apabila Madrid secara resmi mengajukan permintaan bantuan.

Menurut Forssell, negara-negara Uni Eropa juga perlu meningkatkan tekanan kepada negara-negara tetangga agar memperkuat pengawasan perbatasan. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah perpindahan migran secara ilegal ke negara-negara lain di dalam kawasan Uni Eropa.

"Spanyol harus memulihkan kendali atas perbatasan luar Uni Eropa. Gambar-gambar yang beredar sangat mengkhawatirkan. Situasinya tampak seperti kekacauan," ujarnya dikutip Antara.

Nada serupa juga disampaikan Perdana Menteri Sementara sekaligus Menteri Keuangan Finlandia, Riikka Purra. Ia menilai Uni Eropa perlu bergerak bersama membantu Spanyol mengatasi krisis sesuai aturan migrasi yang berlaku.

Melalui unggahan di platform X, Purra mempertanyakan pelajaran yang telah dipetik Eropa sejak krisis pengungsi tahun 2015. Ia menegaskan Finlandia akan tetap mengutamakan keamanan nasional dan siap memberlakukan kembali pengawasan di perbatasan internal apabila situasi mengharuskannya.

Menteri Luar Negeri Finlandia Elina Valtonen turut mendesak agar situasi di Ceuta segera dikendalikan. Menurutnya, para pendatang yang memasuki wilayah Spanyol tanpa izin harus segera dipulangkan sesuai ketentuan yang berlaku.

Di sisi lain, otoritas Spanyol memperkirakan sekitar 50.000 migran telah memasuki Ceuta dari Maroko hanya dalam waktu dua hari. Angka tersebut menjadikan peristiwa ini sebagai salah satu gelombang migrasi ilegal terbesar yang pernah terjadi di wilayah kantong Spanyol tersebut.

Krisis ini juga menelan korban jiwa. Hingga Jumat (31/7/2026), sedikitnya 57 orang dilaporkan meninggal dunia saat berupaya mencapai Ceuta melalui jalur laut.

Perkembangan di Ceuta kini menjadi perhatian serius banyak negara Uni Eropa karena dikhawatirkan memicu gelombang migrasi lanjutan yang dapat memengaruhi stabilitas keamanan dan kebijakan perbatasan di kawasan Eropa.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru