Senin, 03 Agustus 2026

Prancis Tolak Wacana Spanyol Keluar dari Schengen, Krisis Migrasi Ceuta Jadi Sorotan Eropa


 Prancis Tolak Wacana Spanyol Keluar dari Schengen, Krisis Migrasi Ceuta Jadi Sorotan Eropa Ilustrasi Spanyol. /ANTARA/Anadolu/py. (Anadolu)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah Prancis menegaskan bahwa Spanyol harus tetap menjadi bagian dari Kawasan Schengen, meski tengah menghadapi tekanan akibat lonjakan migrasi ilegal di wilayah Ceuta.

Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, menolak keras usulan yang menyerukan agar Spanyol ditangguhkan atau bahkan dikeluarkan dari Perjanjian Schengen.

"Spanyol tidak boleh keluar dari Kawasan Schengen. Itu sama sekali tidak mungkin," tegas Nunez dalam konferensi pers, Sabtu (1/8/2026).

Menurut Nunez, hubungan bilateral antara Prancis dan Spanyol tetap berjalan sangat baik. Ia juga memastikan kedua negara terus menjalin koordinasi dalam menghadapi tantangan keamanan dan migrasi yang terjadi di kawasan perbatasan Eropa.

Pernyataan tersebut muncul setelah sejumlah negara anggota Uni Eropa, seperti Italia, Ceko, Finlandia, dan Denmark, pada Jumat (31/7) mengusulkan penangguhan keanggotaan Spanyol dalam Perjanjian Schengen.

Usulan itu dipicu oleh meningkatnya arus migran dari Maroko yang memasuki Ceuta dalam jumlah besar dalam beberapa hari terakhir.

Ceuta merupakan wilayah otonom Spanyol yang berada di pesisir utara Afrika dan berbatasan langsung dengan Maroko. Bersama Melilla, wilayah ini menjadi satu-satunya perbatasan darat antara Uni Eropa dan benua Afrika.

Posisi strategis tersebut membuat Ceuta dan Melilla selama bertahun-tahun menjadi jalur utama bagi para migran yang berusaha memasuki Eropa secara ilegal.

Belakangan ini, tekanan migrasi di Ceuta meningkat tajam. Otoritas Spanyol memperkirakan puluhan ribu migran telah menyeberangi perbatasan dan memasuki wilayah tersebut secara ilegal, memicu kekhawatiran sejumlah negara Uni Eropa terhadap pengelolaan perbatasan eksternal kawasan Schengen.

Perkembangan situasi di Ceuta kini menjadi perhatian serius para pemimpin Eropa karena dinilai dapat memengaruhi kebijakan migrasi, keamanan perbatasan, serta solidaritas antarnegara anggota Uni Eropa.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru