GMNI Jakarta Selatan Protes Polisi Masuk Sekretariat Usai Aksi di Pancoran, Desak Kapolda Minta Maaf


  • Rabu, 17 Juni 2026 | 14:00
  • | News
 GMNI Jakarta Selatan Protes Polisi Masuk Sekretariat Usai Aksi di Pancoran, Desak Kapolda Minta Maaf Tangkapan layar diduga aparat kepolisian yang masuk ke kantor sekretariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) pasca pembubaran aksi demonstrasi di kawasan SPBU Pancoran, Jumat (12/6/2026). ANTARA/HO-Instagram/@gmijaksel/Luthfia Miranda Putri.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Jakarta Selatan menyampaikan keberatan atas tindakan aparat kepolisian yang disebut memasuki sekretariat organisasi mereka setelah aksi demonstrasi di kawasan SPBU Pancoran, Jakarta Selatan.

GMNI menilai tindakan tersebut telah menimbulkan keresahan di kalangan mahasiswa dan mencederai ruang kaderisasi organisasi kemahasiswaan.Sekretaris Daerah GMNI Jakarta Selatan, Ahmad Fakhir, meminta Kapolda Metro Jaya dan Wakapolda Metro Jaya menyampaikan permintaan maaf secara resmi kepada seluruh kader GMNI serta masyarakat.

Menurutnya, peristiwa tersebut tidak hanya menyangkut penanganan aksi demonstrasi, tetapi juga menyentuh aspek penghormatan terhadap ruang organisasi mahasiswa.

“Kapolda dan Wakapolda harus meminta maaf secara resmi kepada seluruh kader GMNI dan masyarakat. Tindakan terhadap sekretariat organisasi mahasiswa ini telah melukai marwah gerakan mahasiswa dan menciptakan ketakutan di ruang-ruang kaderisasi,” kata Ahmad Fakhir di Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Berawal dari Aksi Demonstrasi di Pancoran

Fakhir menjelaskan, insiden itu bermula ketika kader GMNI menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Jalan Raya Pasar Minggu, Pancoran.

Dalam aksi tersebut, massa sempat membakar ban sebagai bentuk protes. Namun, api kemudian dipadamkan oleh aparat keamanan menggunakan alat pemadam api ringan (APAR). Situasi itu disebut memicu perdebatan antara peserta aksi dan petugas di lapangan.

Setelah massa diminta membubarkan diri dan kembali ke sekretariat organisasi, sejumlah anggota kepolisian disebut ikut memasuki area sekitar kantor sekretariat GMNI.

Dalam sebuah video yang beredar, tampak seorang anggota kepolisian berjalan memasuki lorong sekretariat sebelum keluar melalui pintu lain.

Fakhir menyebut para kader GMNI bersama warga sekitar berupaya menghalau aparat yang hendak memasuki area sekretariat maupun lingkungan permukiman warga.

“Mereka mau masuk ke sekretariat dan pekarangan warga. Karena itu dihalau oleh kader GMNI dan warga Pancoran,” ujarnya.

GMNI Minta Penegakan Hukum Dilakukan Secara Beradab

Meski menyampaikan kritik keras terhadap tindakan aparat, GMNI menegaskan tidak menolak proses penegakan hukum. Namun, organisasi tersebut meminta agar setiap tindakan dilakukan sesuai prosedur dan tidak menimbulkan intimidasi terhadap organisasi kemahasiswaan.

Menurut GMNI, ruang organisasi mahasiswa harus tetap dihormati sebagai bagian dari kebebasan berserikat dan menyampaikan pendapat di muka umum.

“Kami tidak menolak penegakan hukum. Namun penegakan hukum harus dilakukan dengan cara-cara yang beradab, menghormati prosedur, serta tidak mengintimidasi organisasi kemahasiswaan. Negara tidak boleh mempertontonkan wajah kekuasaan yang represif terhadap mahasiswa,” tegas Fakhir.

Polisi: Tidak Ada Penggerebekan atau Penangkapan

Di sisi lain, Kapolsek Pancoran Kompol Mansur membantah adanya penggerebekan maupun penangkapan terhadap anggota GMNI.

Menurut Mansur, ketegangan yang terjadi antara aparat dan massa aksi lebih disebabkan oleh kesalahpahaman di lapangan.

“Tidak ada penggerebekan, tidak ada penangkapan. Saat itu hanya salah paham saja,” kata Mansur saat dikonfirmasi dikutip Antara.

Ia juga menegaskan bahwa pihak Polsek Pancoran dan Polres Metro Jakarta Selatan telah menyampaikan permohonan maaf kepada pihak GMNI terkait insiden tersebut.

Peristiwa ini menambah daftar dinamika hubungan antara aparat keamanan dan kelompok mahasiswa dalam pelaksanaan aksi unjuk rasa. Meski kedua pihak memiliki versi berbeda mengenai kejadian di lapangan, dialog dan komunikasi yang terbuka dinilai penting untuk mencegah kesalahpahaman serupa terulang di masa mendatang.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru