Kardinal Suharyo memimpin peletakan batu pertama Gereja Santo Ignatius Jatisari di Bekasi yang diharapkan menjadi simbol persatuan, toleransi, pelayanan, dan penguatan iman. (Foto: Istimewa)
BEKASI, ARAHKITA.COM – Penantian hampir tiga dekade akhirnya berbuah sukacita. Umat Katolik TNI dan Polri di Jatisari, Jatiasih, Kota Bekasi, resmi memulai pembangunan Gereja Santo Ignatius Jatisari melalui prosesi peletakan batu pertama yang dipimpin langsung oleh Uskup Agung Jakarta sekaligus Uskup Ordinariat Castrensis Indonesia (OCI), Ignatius Kardinal Suharyo, Rabu (15/7/2026).
Momentum bersejarah ini bukan sekadar dimulainya pembangunan sebuah gedung gereja. Lebih dari itu, peletakan batu pertama menjadi simbol lahirnya harapan baru bagi ribuan umat Katolik TNI-Polri yang selama puluhan tahun mendambakan rumah ibadah sendiri. Acara juga menjadi penegasan pentingnya persatuan, toleransi, dan pelayanan di tengah keberagaman masyarakat.
Perayaan diawali dengan Misa Kudus yang bertepatan dengan peringatan Santo Bonaventura. Suasana berlangsung khidmat dengan kehadiran ratusan umat Katolik dari lingkungan TNI, Polri, serta umat Paroki Kampung Sawah, Keuskupan Agung Jakarta.
Baca juga:
Wakil Uskup TNI-Polri Temui Kedubes Vatikan, OCI Siapkan Audiensi Khusus dengan Paus Leo XIVKardinal Suharyo didampingi tujuh imam, yakni Romo Yohanes Wartaya SJ, Romo Ipda Antonius Arifin Samosir Pr, Romo Letda Inf Jimmy Yohanes Hyronimus Pr, Romo Lettu Sus Paulus Ardhi Pr, Romo Pungky Setiawan SVD, Romo Laurentius Sutarno SJ, dan Romo JB Clay Pareria SJ.
Peletakan Batu Pertama Jadi Fondasi Kehidupan Iman
Usai Misa Kudus, rangkaian acara dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti oleh Kardinal Suharyo bersama Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono, pemberkatan batu penjuru, peletakan batu pertama pembangunan gereja, hingga penanaman pohon sawo kecik.
Penanaman pohon dilakukan bersama Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama RI, Suparman, Wali Kota Bekasi, serta sejumlah tokoh lintas agama sebagai simbol kerukunan, persaudaraan, dan harapan agar gereja menjadi ruang bertumbuhnya iman sekaligus pelayanan bagi masyarakat.
Dalam homilinya, Kardinal Suharyo menegaskan bahwa pembangunan gereja tidak boleh dipandang hanya sebagai pembangunan fisik.
"Yang diletakkan hari ini bukan hanya batu pertama sebuah bangunan, tetapi juga fondasi kehidupan umat yang akan bertumbuh di tempat ini," ujar Kardinal Suharyo.
Ia mengajak seluruh umat untuk bersyukur karena pembangunan gereja akhirnya dapat dimulai setelah melewati berbagai tantangan.
Menurutnya, tujuan utama membangun gereja bukanlah menghadirkan bangunan yang megah, melainkan membentuk pribadi-pribadi yang semakin rendah hati, semakin dekat kepada Tuhan, dan semakin mampu mengasihi sesama.
"Tujuan akhirnya bukan gedungnya, tetapi agar melalui ibadah kita menjadi pribadi yang semakin rendah hati, semakin mengasihi sesama, dan semakin serupa dengan Yesus Kristus," pesannya.
Mimpi yang Terwujud Setelah Hampir 30 Tahun
Ketua Panitia Pembangunan, Marsda TNI (Purn.) Benedictus Wijanarko, mengungkapkan bahwa pembangunan Gereja Santo Ignatius Jatisari merupakan cita-cita yang telah diperjuangkan sejak 1996.
Saat itu jumlah umat Katolik di kawasan Jatisari hanya sekitar 100 orang. Kini jumlahnya telah berkembang menjadi 1.826 umat sehingga kebutuhan akan rumah ibadah sendiri menjadi semakin mendesak.
"Ini adalah mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan setelah menunggu hampir 30 tahun. Kami bersyukur seluruh proses perizinan dapat dilalui dengan baik berkat dukungan banyak pihak," ujarnya.
Ia menjelaskan proses panjang pembangunan dimulai dari terbitnya izin Kepala Staf Angkatan Udara pada Agustus 2023, dilanjutkan rekomendasi FKUB dan Kementerian Agama Kota Bekasi, persetujuan pemanfaatan aset, izin Wali Kota Bekasi, hingga keluarnya Surat Keputusan pembangunan gereja pada 6 Juli 2026.
Gereja Diharapkan Menjadi Pusat Pelayanan dan Pendidikan Karakter
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama RI, Suparman, menegaskan bahwa rumah ibadah memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat berdoa.
Menurutnya, gereja harus menjadi pusat pendidikan karakter, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, sekaligus ruang yang terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang.
"Gereja harus menjadi rumah yang menghadirkan kasih, harapan, dan pelayanan bagi semua. Rumah ibadah juga menjadi sumber inspirasi dalam memperkuat moderasi beragama, persatuan, dan kehidupan yang damai," katanya.
Pemkot Bekasi Tegaskan Komitmen Menjaga Kerukunan
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono menyatakan Pemerintah Kota Bekasi berkomitmen menjamin kebebasan seluruh warga dalam menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing.
Ia menilai toleransi dan kerukunan merupakan modal utama untuk menciptakan keamanan, menarik investasi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Tri berharap Gereja TNI-Polri Santo Ignatius Jatisari nantinya berkembang bukan hanya sebagai rumah ibadah, tetapi juga menjadi pusat pembinaan umat, pendidikan karakter, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan.
Acara ini turut dihadiri sejumlah pengurus Ordinariat Castrensis Indonesia (OCI), antara lain Irjen Pol (Purn.) Herry Dahana, Marsda TNI (Purn.) Joko Takarianto, Laksda TNI Antonius Widyoutomo, Kombes Pol V. Thirdy Hadmiarso, S.I.K., M.A.P., dan Kolonel Inf Norbertus Warikun, S.Ag., M.Si.
Dengan dimulainya pembangunan ini, Gereja TNI-Polri Santo Ignatius Jatisari diharapkan menjadi rumah rohani bagi umat Katolik TNI, Polri, dan masyarakat sekitar, sekaligus menjadi simbol persatuan, toleransi, pelayanan, dan pengabdian kepada bangsa melalui nilai-nilai iman Kristiani.