Tokoh Papua Selatan John Gluba Gebze. (Net)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Persoalan Papua tidak hanya berkaitan dengan pembangunan ekonomi, infrastruktur, dan kebijakan otonomi khusus. Isu identitas, keberagaman, serta bagaimana masyarakat dapat hidup berdampingan juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan dalam membangun masa depan Papua.
Pandangan tersebut disampaikan tokoh Papua, John Gluba Gebze, dalam pernyataannya di Jakarta, belum lama ini. Ia menilai persoalan identitas merupakan salah satu aspek mendasar dalam memahami berbagai dinamika yang terjadi di Papua.
“Persoalan Papua itu persoalan identitas,” ujar John.
Menurut dia, pembangunan Papua membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga memperhatikan hubungan sosial di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang beragam.
John berpandangan, setiap kelompok masyarakat perlu mendapatkan ruang untuk hidup berdampingan, saling menghormati, dan berkontribusi dalam pembangunan tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.
Keberagaman Menjadi Bagian dari Kehidupan Papua
John menyoroti kenyataan bahwa masyarakat yang tinggal di Papua berasal dari berbagai latar belakang daerah dan budaya. Selain masyarakat asli Papua, terdapat warga dari Jawa, Ambon, dan berbagai wilayah lain di Indonesia yang turut menjalankan kehidupan sosial dan ekonomi di Papua.
Menurut dia, keberagaman tersebut perlu dikelola melalui semangat saling menerima dan menghargai.
Perbedaan asal-usul, kata John, tidak seharusnya menjadi alasan untuk membangun sekat sosial. Sebaliknya, setiap warga perlu memiliki kesadaran bahwa kehidupan bersama membutuhkan sikap terbuka dan penghormatan terhadap sesama.
Ia juga mengingatkan agar tidak ada kelompok yang merasa berhak merendahkan kelompok masyarakat lainnya karena perbedaan identitas maupun latar belakang.
Mengusung Semangat Satu untuk Semua
Dalam pembicaraan mengenai kehidupan masyarakat Papua, John mengangkat semangat “Satu untuk Semua” sebagai prinsip kebersamaan.
Gagasan tersebut menekankan pentingnya membangun hubungan yang saling menghormati di tengah perbedaan. Menurut dia, Papua membutuhkan partisipasi berbagai kelompok masyarakat untuk mendorong pembangunan dan menciptakan kehidupan sosial yang lebih baik.
Namun, semangat inklusivitas juga perlu berjalan bersama penghormatan terhadap identitas dan keberadaan masyarakat asli Papua.
Dengan demikian, keterbukaan terhadap seluruh warga tidak berarti mengabaikan identitas masyarakat setempat. Keduanya perlu ditempatkan dalam hubungan yang saling menghargai.
Bagi John, pembangunan Papua harus memberikan ruang bagi masyarakat lokal sekaligus membuka kesempatan bagi semua warga untuk berkontribusi.
Pembangunan Bukan Hanya Persoalan Anggaran
John juga menghubungkan persoalan identitas dengan arah pembangunan dan pelaksanaan otonomi di Papua.
Menurut dia, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan anggaran pemerintah maupun proyek infrastruktur. Penguatan kapasitas masyarakat, kemandirian, dan kesempatan untuk berpartisipasi juga harus menjadi perhatian.
Ia menilai otonomi seharusnya memberikan ruang bagi daerah untuk mengembangkan potensi dan kemampuan masyarakatnya sendiri.
“Kalau inti dari sentralisasi itu ketergantungan, kalau inti dari otonomi adalah kemandirian,” katanya.
Pandangan tersebut menjadi bagian dari pemikirannya mengenai masa depan Papua. Kemandirian daerah, menurut John, tidak hanya menyangkut kemampuan mengelola sumber daya alam dan ekonomi, tetapi juga membangun kehidupan sosial yang terbuka serta menghargai keberagaman.
Identitas dan Kebersamaan dalam Masa Depan Papua
Bagi John, isu identitas perlu menjadi bagian dari pembicaraan yang lebih luas mengenai masa depan Papua. Pembangunan tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, besarnya anggaran, atau jumlah proyek yang dilaksanakan.
Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana masyarakat dapat hidup berdampingan, memperoleh kesempatan berpartisipasi, dan saling menghormati di tengah perbedaan.
Ia mendorong agar semangat kebersamaan menjadi landasan dalam membangun Papua. Masyarakat asli Papua dan warga dari berbagai latar belakang perlu ditempatkan dalam kehidupan sosial yang saling menghargai.
Melalui semangat “Satu untuk Semua”, John mengingatkan bahwa masa depan Papua membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Identitas tetap dihormati, keberagaman diterima, dan pembangunan diarahkan untuk kepentingan masyarakat secara luas.