Loading
Kekacauan di Dalam pesawat Foto Aljazeera
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Satu orang tewas saat penerbangan Singapore Airlines dari London dilanda turbulensi parah, hingga terpaksa mendarat darurat di Thailand.
Penerbangan SQ321 yang mengangkut 211 penumpang dan 18 awak, melakukan pendaratan darurat pada pukul 15:45 (08:45 GMT) pada hari Selasa.
“Penerbangan SQ321 mengalami turbulensi parah dalam perjalanan,” kata Singapore Airlines dalam sebuah pernyataan di halaman Facebook-nya seperti dilansir Aljazeera.
Baca juga:
SQ Tawarkan Kompensasi pada Semua Penumpang Korban Turbulensi Ekstrem yang Terjadi Mei 2024“Kami dapat mengonfirmasi ada korban luka dan dan satu korban jiwa..Kami bekerja sama dengan pihak berwenang di Thailand untuk memberikan bantuan medis yang diperlukan dan mengirim tim ke Bangkok untuk memberikan bantuan tambahan yang diperlukan.” ujar pernyataan dari Singapore Airlines, dikutip dari Time.com.
Kronologi
Setelah sekitar 11 jam waktu terbang, pesawat tersebut turun tajam dari ketinggian sekitar 37.000 kaki (11.278 meter) menjadi 31.000 kaki (9.449 meter) dalam waktu lima menit saat melintasi Laut Andaman dan mendekati Thailand, demikian menurut data FlightRadar 24.
“Tiba-tiba pesawat mulai miring dan terjadi guncangan, sehingga saya bersiap menghadapi apa yang terjadi, dan tiba-tiba terjadi penurunan yang sangat drastis sehingga semua orang yang duduk dan tidak mengenakan sabuk pengaman langsung terlempar ke langit-langit,” Dzafran Azmir, 28 tahun seperti dikutip Aljazeera.
Baca juga:
SQ Tawarkan Kompensasi pada Semua Penumpang Korban Turbulensi Ekstrem yang Terjadi Mei 2024“Beberapa orang kepalanya terbentur kabin bagasi di atas dan penyok, mereka menabrak tempat lampu dan masker,” kata Azmir.
Andrew Charlton, direktur Aviation Advocacy, sebuah perusahaan konsultan, mengatakan bahwa kematian yang disebabkan oleh turbulensi sangat jarang terjadi.
Dia mengatakan pesawat itu terbang di atas daerah tropis di mana badai petir sering terjadi, yang dapat menyebabkan turbulensi.
Charlton mengatakan perubahan suhu udara, yang disebabkan oleh pendinginan lapisan bawah udara saat siang berakhir dan malam dimulai, juga dapat menyebabkan turbulensi parah.
Dia menekankan bahwa pesawat Singapore Airlines dirancang untuk menahan turbulensi yang parah. Namun, ia juga mengingatkan turbulensi masih dapat menyebabkan cedera pada penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman.
Maskapai ini tidak menyebutkan berapa banyak orang yang terluka, namun beberapa laporan media Thailand menyebutkan ada 30 orang terluka.
Polisi imigrasi Thailand mengatakan personel medis telah naik ke pesawat untuk melihat korban, namun tidak mengkonfirmasi jumlah korban. Dikatakan bahwa penumpang yang tidak terluka telah turun.