Selasa, 27 Januari 2026

Manchester United Bangkit, Sepak Bola Era Sir Alex Seolah Hidup Kembali


 Manchester United Bangkit, Sepak Bola Era Sir Alex Seolah Hidup Kembali Pelatih Interim Manchester United Michael Carrick (kanan) dan pesepak bola Matheus Cunha (kiri) berselebrasi usai laga lanjutan Premier League melawan Manchester City di Old Trafford, Manchester, Inggris, Sabtu (17/1/2026). ANTARA FOTO/Reuters/Phil Noble/bar

JAKARTA, ARAHKITA.COM  - Butuh waktu panjang bagi Manchester United untuk kembali menemukan jati dirinya. Lebih dari satu dekade setelah Sir Alex Ferguson pensiun, berganti 10 pelatih dan enam kali pemecatan, Setan Merah akhirnya kembali menampilkan permainan yang mengingatkan publik pada era keemasan 1990-an dan 2000-an.

Musim Liga Inggris 2024/2025 menjadi titik terendah United setelah finis di posisi ke-15, hanya terpaut tiga peringkat dari zona degradasi. Namun situasi berubah drastis di pertengahan musim berikutnya. Dengan 15 laga tersisa, Manchester United kini menempati peringkat keempat klasemen sementara dengan koleksi 38 poin—zona Liga Champions.

Posisi itu terasa semakin manis karena diraih lewat kemenangan atas dua kekuatan terbesar Liga Inggris musim ini, Manchester City dan Arsenal, yang masing-masing berstatus pemuncak dan runner-up klasemen.

Manchester City datang ke Old Trafford dengan rekor impresif: 13 laga tanpa kekalahan di semua kompetisi. Namun rekor tersebut terhenti setelah United menang 2-0. Tak hanya kalah, City bahkan gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran.

Arsenal pun mengalami nasib serupa. Sebelum tumbang 3-2 dari United, The Gunners belum pernah kalah di Emirates Stadium sepanjang musim 2025/2026. Pasukan Mikel Arteta juga tengah memimpin klasemen Liga Champions dengan rekor sempurna tujuh kemenangan.

“Pertandingan seperti inilah yang saya impikan sejak kecil. Saat datang ke United, inilah Manchester United yang dulu saya tonton di televisi,” ujar Matheus Cunha, pencetak gol penentu kemenangan atas Arsenal,seperti yang dikutip dari Antara.

Kemenangan tersebut terasa istimewa karena Arsenal nyaris selalu menang saat mencetak dua gol di era Arteta. Dari ratusan pertandingan, hanya dua kali mereka kalah dalam kondisi itu—keduanya saat menghadapi Manchester United.

Legenda klub pun tak menyembunyikan rasa puasnya. Peter Schmeichel, mantan kiper ikonik United, menyebut atmosfer permainan tim kembali ke masa lalu.

“Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, menonton Manchester United benar-benar menyenangkan. Terima kasih Carrick,” kata Schmeichel.

Komentar senada datang dari Michael Owen.

“Itu adalah Manchester United yang kita kenal dulu. Bertahun-tahun kami menunggu penampilan seperti ini,” ujar mantan penyerang MU tersebut.

Sepak bola yang diperagakan United terasa sederhana, bahkan terkesan kuno: bertahan rapat, agresif merebut bola, umpan-umpan cepat ke depan, lari tanpa kompromi, dan penyelesaian langsung. Tanpa formasi rumit atau build-up bertele-tele dari lini belakang.

Inilah DNA Manchester United yang selama ini dianggap hilang—energi, keberanian, dan keinginan untuk terus menyerang meski sudah unggul.

Michael Carrick, yang kini bertugas di sisi lapangan, memilih untuk tidak mengamankan skor saat unggul. Melawan Arsenal, ketika kedudukan 2-1, ia justru menambah daya serang. Sebuah keputusan yang mencerminkan filosofi lama klub.

Sebagai pelatih interim, rekam jejak Carrick sebenarnya bukan hal baru. Pada 2021, ia pernah mengalahkan Arsenal, menahan Chelsea, dan menundukkan Villarreal di Eropa. Kini skalanya lebih besar: Pep Guardiola dan Mikel Arteta kembali ditaklukkan.

Namun sejarah juga mengajarkan kehati-hatian. Euforia serupa pernah hadir di era Ole Gunnar Solskjaer, sebelum akhirnya meredup. Tantangan terbesar United bukan hanya soal pelatih, melainkan konsistensi, struktur klub, dan mentalitas jangka panjang.

Sir Alex Ferguson pernah berkata bahwa kekalahan adalah bagian terpenting dalam membentuk seorang pemenang. Dari sembilan final yang kalah, ia belajar—hingga akhirnya mengangkat trofi di 32 final lainnya.

Kini, pertanyaannya bukan lagi soal seberapa indah Manchester United bermain, melainkan apakah kebangkitan ini bisa bertahan, atau sekadar kilatan singkat yang kembali memudar.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Olahraga Terbaru