Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Antaranews)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Piala Dunia FIFA 2026 tak hanya menyajikan persaingan di lapangan hijau, tetapi juga menjadi panggung memanasnya tensi politik internasional. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuding Amerika Serikat memanfaatkan posisinya sebagai salah satu tuan rumah turnamen untuk memberikan tekanan kepada negara-negara yang dianggap sebagai lawan politiknya.
Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian melalui akun media sosial X, Rabu. Ia menilai kebijakan Amerika Serikat selama penyelenggaraan Piala Dunia mencerminkan pola diplomasi yang selama ini dijalankan Washington.
"Perilaku pemerintah AS sebagai tuan rumah Piala Dunia mengikuti kebijakan luar negerinya selama ini: membengkokkan aturan, mengintimidasi lawan, menciptakan hambatan, dan berbuat curang. Ini adalah taktik MAGA mereka. Iran menolak permainan semacam itu. Kami teguh mempertahankan hak-hak kami," tulis Pezeshkian.
Ketegangan Politik Membayangi Piala Dunia
Pernyataan Presiden Iran muncul ketika hubungan Teheran dan Washington sedang berada dalam fase yang sangat sensitif. Ketegangan meningkat setelah serangan udara Amerika Serikat terhadap sejumlah sasaran militer Iran terkait eskalasi konflik di Selat Hormuz dikutip Antara.
Situasi semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Iran telah berakhir.
Di saat yang sama, hubungan kedua negara juga diwarnai perselisihan mengenai penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Baca juga:
Mbappe Ingatkan Prancis Jangan Cepat Puas, Jalan Menuju Gelar Piala Dunia 2026 Masih PanjangIran Keluhkan Pembatasan Visa dan Aturan Keamanan
Salah satu sumber ketegangan berasal dari kebijakan visa Amerika Serikat yang dinilai sangat ketat. Sejumlah staf teknis penting tim nasional Iran dilaporkan tidak memperoleh izin masuk ke wilayah AS.
Selain itu, aturan keamanan membuat tim Iran tidak diizinkan membangun kamp pelatihan di Amerika Serikat selama turnamen berlangsung.
Akibat pembatasan tersebut, skuad Iran harus menjadikan Tijuana, Meksiko, sebagai markas utama. Mereka hanya diperbolehkan memasuki Amerika Serikat pada hari pertandingan dan diwajibkan kembali ke Meksiko segera setelah laga selesai.
Meski menghadapi berbagai kendala logistik, Iran tetap mampu tampil kompetitif. Tim berjuluk Team Melli itu menutup fase grup tanpa kekalahan, sebelum akhirnya gagal melaju ke babak gugur pada 28 Juni 2026.
Kontroversi Baru Libatkan Donald Trump dan FIFA
Di tengah kritik Iran, kontroversi lain juga mengguncang penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Donald Trump mengaku secara pribadi meminta Presiden FIFA Gianni Infantino membatalkan sanksi skors terhadap penyerang tim nasional Amerika Serikat, Folarin Balogun.
Pernyataan tersebut memicu kritik dari sejumlah otoritas sepak bola Eropa dan beberapa negara peserta yang menilai adanya campur tangan politik terhadap independensi olahraga.
Perdebatan itu semakin memperkuat kekhawatiran bahwa Piala Dunia 2026 bukan hanya menjadi ajang kompetisi sepak bola terbesar di dunia, tetapi juga arena tarik-menarik kepentingan politik internasional.