Senin, 09 Februari 2026

Hey, Siapa Dia? Membaca Ismail Marzuki Lewat Mata Garin Nugroho


 Hey, Siapa Dia? Membaca Ismail Marzuki Lewat Mata Garin Nugroho Ilustrasi - Opini Jaya Suprana tentang film Siapa Dia karya Garin Nugroho yang menghidupkan kembali lagu-lagu Ismail Marzuki, menafsirkan Payung Fantasi sebagai jiwa utama sinema musikal Indonesia. (Foto: Istimewa)

Oleh: Jaya Suprana

Budayawan dan penggagas Kelirumologi

SAYA memang tak pernah menyembunyikan posisi batin saya terhadap Ismail Marzuki. Sebagai penggubah siklus Suita Marzukiana yang kemudian saya rekam sebelum dibawakan dalam resital pianoforte tunggal di Carnegie Hall, hubungan saya dengan karya-karyanya bukan sekadar hubungan pendengar dengan komposer. Ada rasa kagum yang sulit saya taklukkan, bahkan mungkin mendekati pemujaan—meski kata itu terdengar terlalu bombastis untuk selera saya.

Sebagai warga Indonesia, saya kerap berani “nakal” membandingkan Marzuki dengan nama-nama besar dunia seperti Franz Schubert. Bukan untuk mengecilkan Schubert, melainkan untuk menegaskan keistimewaan Marzuki. Para maestro Lieder Jerman—Schubert, Schumann, Hugo Wolf, Brahms, hingga Richard Strauss—umumnya hanya menggubah melodi dan harmoni. Syairnya datang dari penyair lain. Sementara Ismail Marzuki mengerjakan keduanya: nada dan kata, jiwa dan raga lagu. Di situlah letak keunggulannya yang sering luput dari percakapan musik dunia.

Ketika mendengar Garin Nugroho membuat film berjudul “Siapa Dia”, saya sempat bertanya-tanya: siapa yang dimaksud? Baru setelah menontonnya di Netflix, terutama pada bagian akhir, saya tersadar. Judul itu rupanya dipetik dari lirik lagu Payung Fantasi—“Hey, hey siapa dia?” Sebuah pertanyaan sederhana yang justru membuka ruang tafsir seluas samudra.

Lirik Payung Fantasi memang ajaib. Ada kejenakaan, kerinduan, sekaligus kelembutan yang khas Marzuki: wajah yang bersembunyi di balik payung, bidadari dari surga, burung kenari pembawa harapan. Imaji-imaji itu seolah diciptakan untuk melompat dari dunia bunyi menuju dunia gambar bergerak. Dan Garin menangkap lompatan itu dengan intuisi seorang penyair sinema.

Menonton film tersebut, saya merasa menemukan “teman selera”. Mayoritas adegan dibalut lagu-lagu Marzuki: Rangkaian Melati, Di Wajahmu Kulihat Bulan, Kopral Jono, hingga tentu saja Payung Fantasi. Seakan Garin sedang menyusun album visual tentang Marzuki, bukan sekadar film musikal. Bahkan ia dengan sengaja mengabaikan kronologi sejarah demi dramaturgi rasa. Payung Fantasi ditempatkan di bagian finale, dinyanyikan bersama oleh para pemain yang dipimpin Nikolas Saputra—sebuah penutup yang hangat sekaligus getir.

Di titik itulah saya melihat keberanian Garin. Ia tidak memuja Marzuki sebagai patung museum, melainkan menghidupkannya sebagai energi masa kini. Lagu-lagu lawas itu tidak diperlakukan sebagai benda antik, tetapi sebagai bahasa emosi yang masih relevan untuk generasi Netflix.

Bagi saya, film ini bukan sekadar tontonan, melainkan dialog lintas zaman. Dialog antara seorang komponis yang telah lama berpulang dengan seorang sineas yang gelisah membaca Indonesia hari ini. Dan di antara keduanya, kita—penonton—diajak kembali bertanya seperti dalam lagu: hey, siapa dia?

Jawabannya mungkin tidak tunggal. Bisa Ismail Marzuki, bisa Garin Nugroho, bisa pula diri kita sendiri yang sedang mencari payung fantasi di tengah hujan kenyataan.

Bravissimo, Mas Garin!

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Suara Kita Terbaru