Kamis, 17 September 2026

Nurani Antropologi Kekuasaan


 Nurani Antropologi Kekuasaan DR Prudensius Maring. (Foto: Istimewa)

(Inside Out pada Sosok Prof. Dr. Achmad Fedyani Saifuddin)

Oleh: DR Prudensius Maring

TULISAN ini bermaksud mengenang Profesor Doktor Achmad Fedyani Saifuddin, Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia, perintis pembelajaran Antropologi Kekuasaan di Indonesia, yang meninggal seratus hari lalu. Dalam gegap gempita praktek kekuasaan kita hari-hari ini, penting sejenak kita menginspirasi corak kekuasaan persuasif yang diperkenalkan beliau melalui antropologi kekuasaan.

TAK kupikir bakal cepat! Tahun 1997 saya duduk di deret kursi mahasiswa magister antropologi, lalu tahun 2004 berlanjut menjadi mahasiswa doktoral antropologi di Universitas Indonesia. Banyak pengalaman berkesan dan bermakna. Satu yang membekas adalah interaksi bersama Prof. Dr. Achmad Fedyani Saifuddin dalam menyelami antropologi hingga tiba pada antropologi kekuasaan. Tulisan ini coba menyelami penggalan pengalaman interaksi itu dari sisi relasi kekuasaan, baik pada sisi formal maupun nurani.

Satu kesatuan kisah ini disajikan dalam tiga bagian. Pertama mencatat bahwa jauh sebelum diskusi berlangsung atas nama antropologi kekuasaan, sejak awal perjumpaan Prof Afid mengirim kesan dari dalam dirinya tentang corak kekuasaan yang persuasif, terbuka, dan rileks dalam keseharian dan dalam proses pembelajaran. Kedua melihat bahwa ekspresi kekuasaan persuasif itu membuat mahasiswa bergairah memahami teori antropologi dan antropologi kekuasaan. Ketiga tentang interaksi yang berlanjut di luar kelas.

Secara keseluruhan, proses pembelajaran antropologi kekuasaan dan corak kekuasaan yang inside out dari sosok Prof Afid itu secara perlahan membentuk gambaran basis ontologi, epistemologi, dan aksiologi antropologi kekuasaan. Tapi jangan berharap ulasan yang berat-berat dan lengkap. Kisah ringan ini terangkai dari ragam peristiwa dengan mengandalkan memori lebih dari 20 tahun silam.

Relasi dan Ekspresi Nurani Kekuasaan

Beberapa kesan awal masih membekas dari kelas-kelas di Salemba tahun 1997-2000. Prof Afid selalu tampil rapi dengan posisi duduk yang rileks dari balik meja kuliah. Tas sederhananya selalu di sisi pinggir meja. Rapi dan rileks memberi kesan nyaman dari kursi otoritas keilmuan. Suaranya pelan mengalir sambil sekali-sekali dibarengi guratan spidol di white-board. Guratan untuk memastikan judul buku, judul artikel, tahun publikasi, dan nama penerbit. Itu kebiasaan Prof Afid yang gampang diingat tanpa perlu mengernyitkan dahi.

Kesan itu menyebar ke seantero kelas yang selalu diisi topik seputar paradigma dan teori antropologi. Kesan kesederhanaan yang konsisten hingga berpola, tumbuh dari dalam dirinya. Ketika berjumpa di bulan Agustus 2018, beliau tetap tampak rapi dan rileks dari balik meja diskusi. Tertangkap kesan perubahan fisik namun itu segera dikuasai keutamaan isi yang keluar dari dalam dirinya. Ia persilahkan saya duduk dan bicara, didengarkannya, lalu lahirlah sebuah testimoni yang jernih untuk buku saya.

Ketika menulis ini, teringat kebiasaan saya menjelaskan wujud kebudayaan kepada mahasiswa saya yang non prodi antropologi. Saya yakinkan bahwa pakaian yang melekat pada tubuh mahasiswa adalah wujud fisik kebudayaan yang tidak serta merta dipakai. Pilihan itu digerakkan oleh sistem nilai, sistem budaya, pengetahuan, perilaku/tindakan, dan kebiasaan tertentu. Bukankah kebiasaan Prof Afid (tampilan yang rapi, cara bicara yang santun, sikap duduk, dan mengelola kelas dengan rileks) juga digerakkan oleh nilai, sistem budaya, sistem pengetahuan, dan kebiasaan tertentu yang mengindikasikan nilai kesederhanaan dan sikap-perilaku yang persuasif.

Masih di kelas Salemba sekitar 20 tahun silam. Sebagai mahasiswa magister antropologi dengan basis sarjana non antropologi (menyebut non untuk sekaligus mewakili beberapa rekan lain di kelas itu) saya melihat Prof Afid sebagai pembuka gerbang antropologi. Hal yang penting artinya bagi saya yang awam antropologi kala itu. Tidak hanya membuka pintu, saya merasa seperti dibawa masuk lebih jauh menyelami antropologi yang dinamis dan meyakinkan saya memilih peminatan antropologi yang beraneka. Dalam proses itu, banyak interaksi perlihatkan terjadinya hubungan kekuasaan yang otentik.

Satu topik yang merepotkan saya di masa awal itu adalah memaknai evolusi organik sebagai tonggak evolusi budaya. Evolusi otak manusia mendapat penekanan dari Prof Afid. Otak itu organ sentral dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Ia menggambar letak dan perubahan volume otak dalam rongga kepala. Saya pun asyik menggambar dalam catatan saya. Saat ujian tiba muncullah soal tentang peran sentral otak itu. Untuk memberi impresi jawaban, saya gambar posisi otak di rongga kepala manusia. Ketika itu dibahas di kelas, terjadi sorakan karena gambar saya menyerupai perban di kepala.

Di balik sorakan itu Prof Afid menimpali, jika itu bertujuan menguatkan penjelasan maka itu sangat membantu. Memori pengalaman itu membawa hikmah. Hingga kini, dalam kuliah pengantar antropologi, saya meyakinkan mahasiswa soal pentingnya memahami pentingnya otak. Perkembangan organ otak manusia (dan organ lainnya) selalu menempuh jalur evolusi organik yang amat panjang. Namun ketika tiba pada titik kesempurnaan, evolusi organik itu memicu perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan melalui jalur super organik yang melaju cepat.

Kebiasaan lain adalah membuat pertanyaan atau pernyataan untuk diskusi kelas. Biasanya pernyataan telah dirumuskan, entah di komputer atau pada naskah tertentu. Ketika sedang menyiapkan naskah artikel atau naskah buku, Prof Afid beberapa kali membacakan paragraf pendek naskahnya lalu meminta komentar dari mahasiswa. Kebiasaan itu menyerupai teknik membangun framing agar mahasiswa masuk dalam kerangka pemikiran tertentu.

Teknik serupa terlihat pula dalam penyiapan materi powerpoint kuliah. Prinsip bahwa materi presentasi harus pendek dan ringkas untuk pertama kali saya dengar dari Prof Afid dalam suatu persiapan seminar matakuliah di kampus Depok. Materi powerpoint yang pendek membuat presenter bisa leluasa mengimprovisasi dan mengeksplorasi materi. Naskah yang panjang membuat kita mencari-cari kata kunci. Mencari-cari kata kunci membuat kita kehilangan percaya diri dan grogi. Prof Afid menjelaskan mengapa ia memilih format powerpoint yang menyisahkan ruang untuk catatan. Ia ingin agar mahasiswa bisa memberi catatan kritis atas materi yang disiapkannya. Apa yang dilakukan Prof Afid memperlihatkan sebuah kalkulasi metode dan taktik kekuasaan untuk memberi ruang bagi orang lain mengekspresikan kekuasaan. Pilihan metode yang tepat akan membantu ekspresi kekuasaan yang otentik, sebaliknya pilihan yang salah justru mempengaruhi ekspresi kekuasaan dari orang atau pihak lain.

Suatu saat ada diskusi kelas yang menyentuh topik kekuasaan, meski saat itu belum ada matakuliah antropologi kekuasaan. Prof Afid menjelaskan gejala power distance yang sering terjadi dalam interaksi sosial. Contoh yang diambil tentang relasi mahasiswa dan dosen, membuat saya masih ingat momentum itu. Di luar kelas, bisa saja relasi dosen dan mahasiswa berlangsung informal, rileks, santai, atau bahkan bisa “temanan”. Tetapi saat masuk kelas, orang-orang yang sama tadi tanpa sadar akan merasakan suatu nuansa relasi yang beda.

Seperti ada kekuatan yang bekerja hingga membuat orang-orang tersebut mengambil jarak dan posisi sebagai mahasiswa dan dosen. Yang mahasiswa menempatkan diri sebagai pencari ilmu yang harus lebih siap mendengarkan, yang dosen menempatka diri sebagai sumber ilmu yang harus lebih siap membagi. Semua itu muncul begitu saja. Tapi seketika, saat kelas bubar maka mereka akan melebur dalam relasi yang beda lagi. Konsep power distance itu kemudian terelaborasi ketika tahun 2004-2008 ada kelas antropologi kekuasaan.

Kebiasaan bermakna lainnya adalah menugaskan mahasiswa membuat refleksi diri (self-reflection) dan ujian di kelas. Mahasiswa membuat refleksi pribadi tentang proses perkuliahan, kesiapan materi, kesiapan mahasiswa, dan metode perkuliahan yang telah berlangsung. Ketika menyiapkan tulisan ini, masih tersimpan file refleksi tahun 2004/2005 ketika digelar matakuliah Teori Antropologi II. Setiap mahasiswa membuat refleksi dengan jujur karena tujuan untuk menguatkan komitmen berubah pada mahasiswa.

Kebiasaan ujian di kelas semula terkesan kaku jika dibandingkan matakuliah lain di mana mahasiswa buat makalah, artikel, atau tugas lain di luar kelas. Prof Afid sering menyelenggarakan ujian di kelas. Mahasiswa harus hadir di kelas pada jam yang ditentukan, mengerjakan soal di kelas, dan diawasi. Menurutnya, cara demikian membantu mahasiswa mempersiapkan diri dengan mempelajari materi kuliah. Cara dengan alasan serupa kini kerap saya terapkan untuk mahasiswa saya.

Kisah-kisah di atas berlangsung sejak tahun 1997 dan setelahnya. Itu adalah hal-hal yang biasa, yang berlangsung dalam interaksi keseharian. Suatu praktek strategi kekuasaan persuasif yang dijalankan tanpa judul kekuasaan. Ketika tahun 2004 mulai terlibat dalam kelas antropologi kekuasaan, saya melihat pola relasi yang dijalankan Prof Afid sebelumnya itu sebagai strategi mempengaruhi orang lain agar patuh dan taat. Itu menyerupai corak kekuasaan persuasif yang digemari Foucault. Itulah yang saya maksudkan sebagai ekspresi nurani kekuasaan.

Relasi Atas Nama Antropologi Kekuasaan

Rentang waktu 2004-2008 adalah fase relasi yang diperkaya dengan nomenklatur antropologi kekuasaan. Rekan seangkatan kompak mengambil matakuliah antropologi kekuasaan yang dibimbing Prof Afid. Sebut saja Dr. Agusthina Kakiay, Dr. Keron A. Petrus, Dr. Jansen Tangketasik, dan Dr. Hendri, yang selalu kompak dan guyup. Prof Afid menjadikan kelas antropologi kekuasaan sebagai kelas yang terbuka, selalu dalam proses pembentukan, dan pematangan.

Banyak referensi untuk matakuliah antropologi kekuasaan ditawarkan Prof Afid. Ia membuka ruang bagi semua mahasiswa menyelami minat teori dan referensi masing-masing. Masih ingat, Dr. Keron menyelami minat pada teori/referensi konflik, Dr. Jansen menyelami minat pada teori/referensi strukturasi, Dr. Agusthina dan Dr. Hendri menyelami teori/referensi tentang pelayanan publik. Semua mahasiswa sejak awal difasilitasi untuk mengarah pada pilihan kajian disertasi kelak.

Saya berminat pada perspektif kekuasaan Foucault. Itu saya lakukan karena dengan memahami kerangka pikir Foucault, saya terbantu memahami antropologi kekuasaan – untuk membedakannya dengan konsep kekuasaan yang lazim. Jika lazimnya kekuasaan dimaknai dalam kerangka otoritas (authority), maka dalam perspektif Foucault kekuasaan dimaknai sebagai kemampuan mempengaruhi yang melekat pada semua orang atau semua pihak. Kekuasaan dilihat bersifat dinamis dalam kaca mata Foucault.

Saya membangun rasionalitas bahwa kerangka pikir Foucault ini antropologi banget. Teman-teman lain, dengan fokus masing-masing tentu melakukan hal serupa. Antropologi kekuasaan tidak boleh terjebak dalam cara pandang yang kaku, dan berhenti pada kekuasaan dalam arti formal dan otoritas. Antropologi harus melihat kekuasaan dalam ruang yang lebih terbuka dan dinamis. Kekuasaan sebagai hubungan timbal balik, bisa datang dari berbagai pihak, pada berbagai level, bisa diproduksi, dan direproduksi.

Saya berusaha menyelami kerangka pikir Foucault untuk menjelaskan masalah konflik, perlawanan, dan kolaborasi. Masalah tersebut terjadi di tempat yang sama, melibatkan orang-orang yang sama, dan berlangsung pada waktu yang sama pula. Perspektif Foucault bisa membantu melihat tiga peristiwa itu (konflik, resistensi, dan kolaborasi) secara terpadu atau tidak partial (mengkaji konflik saja, resistensi saja, atau kolaborasi saja). Perspektif Foucault membuka jalan bahwa untuk memahami kekuasaan maka pelajari itu dalam realitas konflik dan resistensi, lalu saya menambahkan “pelajari pula dalam kolaborasi”.

Ruang lingkup kajian antropologi kekuasaan itu memang kompleks. Namun Prof Afid selalu rileks, prinsipnya tidak ada yang salah dalam proses kelas dan bimbingan. Sikap terbuka Prof Afid saya alami pula ketika bimbingan disertasi. Saya telah menentukan tema konflik, resistensi, dan kolaborasi dalam kajian disertasi saya. Berbeda dengan konflik dan resistensi yang cukup tersedia referensi ilmiah, Prof Afid mengingatkan saya bahwa konsep kolaborasi mungkin jarang dijumpai dalam artikel ilmiah. Tapi itu tantangan untuk mengeksplorasi fenomena kolaborasi secara ilmiah.

Satu mekanisme pendasaran kajian disertasi adalah ujian kualifikasi. Prof Afid mengajukan 2 pertanyaan utama dengan sejumlah sub pertanyaan untuk membantu saya keluar dari pengaruh latar aktivitas saya pada resolusi konflik sumberdaya alam yang dipengaruhi perspektif politik ekologi. Ia menghendaki disertasi saya dipengaruhi perspektif antropologi kekuasaan. Dua butir pertanyaan ujian kualifikasi itu saya olah menjadi makalah. Untunglah file makalah ujian kualifikasi itu masih saya simpan. Berikut ini adalah pertanyaan pokoknya:

1.a. Bagaimana cara pandang teori untuk membangun keterkaitan isu konflik, sumberdaya alam, masyarakat dan kebudayaan, dan kekuasaan: 1.b. Apakah materialisme kebudayaan = neo-struktural fungsionalisme? 1.c. Bagaimana menghindari sekundarisasi kebudayaan dalam analisis konflik penguasaan hutan: 1.d. Apa implikasi basis materialisme terhadap kecenderungan pendekatan politik lingkungan: 2.a. Bagaimana logika analisis pandangan materialisme, kekuasaan dan resistensi-kultural: 2. b. Apa implikasi paradigma terhadap metodologi, metode dan teknik penelitian lapangan: 2.c. Mengapa metodologi interaksionisme simbolik relevan menanggulangi kerumitan konseptual?

Hal lain yang mencengangkan saya, terjadi setelah draf disertasi hampir final. Prof Afid menyarankan saya membaca bukunya – tentang integrasi. Saya diminta melihat komparasi antara teori integrasi dengan kolaborasi yang saya elaborasi. Itu membuat saya sempat berpikir, jika sejak awal membaca buku Prof Afid mungkin saya memilih konsep integrasi dari pada kolaborasi. Begitulah Pof Afid mendorong mahasiswa mengkaji hal yang diyakini mahasiswa. Ia mendorong saya menguatkan kolaborasi sebagai realitas empirik yang pantas dikaji secara ilmiah.

Dengan menginspirasi Filsafat Ilmu, apa yang dibahas di kelas antropologi kekuasaan di atas merupakan upaya menemukan basis ontologi antropologi kekuasaan. Itu terlihat sejak penawaran referensi buku dan artikel, bagaimana mahasiswa berjuang menemukan pilihan kajiannya, upaya pendasaran disertasi melalui ujian kualifikasi, hingga kajian disertasi. Semua itu sebagai upaya memperoleh gambaran tentang apa itu antropologi kekuasaan, bagaimana ruang lingkup kajiannya, obyek apa yang bisa dikaji, dan isu apa yang boleh dikaji dalam antropologi kekuasaan?

Beberapa pengalaman lain bisa dilihat sebagai upaya membangun basis epistemologi antropologi kekuasaan. Saya ingat dalam seminar proposal penelitian disertasi saya, usai pertanyaan dari dosen lain, muncul pernyataan yang mengagetkan saya: “Proposal ini sudah selesai. Apa yang mau diteliti lagi?”. Prof Afid secara kritis melihat bahwa proposal saya sudah terlalu jauh karena banyak hal yang disampaikan sebetulnya adalah hasil penelitian. Bagaimana penelitian ini mau dilakukan, jika isi proposal ini sudah menjawab pertanyaan penelitian.

Dalam hati ada rasa optimis karena hasilnya sudah kelihatan, tetapi lebih prinsip saya menyadari bahwa saya telah melangkahi alur kajian ilmiah. Saya menyadari, mestinya saya bisa menempatkan pengalaman lapangan sebelumnya itu sebagai data yang bakal dilihat kembali melalui metodologi penelitian kualitatif. Saya menata ulang proposal seraya membangun jarak kritis dengan data. Data harus saya kumpulkan melalui metode lapangan secara ilmiah. Bias pengalaman sebelumnya harus dilihat secara proporsional melalui metode kerja ilmiah.

Satu pengalaman penting lain justru saya peroleh ketika menghadapi persoalan selama penelitian lapangan. Dengan menggali data secara menyeluruh atas peristiwa konflik, perlawanan, dan kolaborasi, saya terdorong menentukan titik mulai dari aktor-aktor konflik yang jauh dari masyarakat desa/kampung. Satu nasihat akademik dari Prof Afid membuat saya temukan jalan keluar: “Mulailah dari masyarakat desa/kampung. Dari situ barulah menarik garis keluar, menyentuh aktor-aktor yang ada di luar kampung”.

Akhirnya kekhawatiran saya terobati karena penelitian saya memenuhi kaidah kualitatif berciri induktif-emik. Saya menghasilkan disertasi yang dinilai bagus. Ketika ujian promosi, satu penguji menyatakan: “Selama menguji tesis dan disertasi di antropologi UI, kali ini saya membaca disertasi yang jelas menyajikan diskusi teori-konsep, merumuskan metode penelitian, seolah pembaca ikut turun lapangan, mengalami dialog data, hingga pengolahan data dan analisis,” terima kasih Prof. Dr. Yasmine Z. Shahab.

Secara formal akademik, saya menimba banyak hal dari Prof Afid. Saya pernah melontarkan pertanyaan kecil ke Prof Afid, kenapa Prof Afid biasanya tidak ikut bertanya saat ujian disertasi mahasiswa bimbingannya, kecuali klarifikasi seperlunya. Prof Afid menjawab pendek: “Semua mahasiswa bimbingan saya sudah terlibat diskusi panjang lebar selama proses bimbingan. Jadi saat ujian itu saya ingin melihat bagaimana mahasiswa menampilkan mental doktor-nya dalam menjawab pertanyaan penguji. Jika mental doktor dari mahasiswa sudah muncul, maka bagi saya itu sudah bagus.”

Relasi Berlanjut di Luar Kelas

Akhir tahun 2008, interaksi berlanjut melalui Institut Antropolologi Kekuasaan (Institute for Anthropology of Power). Wadah yang didirikan beberapa mahasiswa yang pernah belajar antropologi kekuasaan. Beberapa buku yang diterbitkan melalui lembaga tersebut selalu mendapat dukungan Prof Afid. Di luar itu, dukungan berupa nasihat pengembangan karir dosen, rekomendasi untuk jaringan kerja profesional, penulisan artikel ilmiah dan populer selalu mendapat respon.

Tahun 2010 Prof Afid memberi Kata Pengantar untuk buku saya “Bagaimana Kekuasaan Bekerja di Balik Konflik, Perlawanan, dan Kolaborasi.” Kata pengantar yang inspiratif dengan judul: “Outside In, Inside Out: Suatu Catatan Reflektif Tentang Kekuasaan”. Membaca artikel tersebut, tergambar bagaimana seharusnya visi antropologi kekuasaan memahami realitas konflik sosial yang kian dinamis. Kesediaannya memberi kata pengantar untuk edisi kedua buku “Penguatamaan Kolaborasi di Balik Konflik” belum sempat terwujud karena kami mengejar deadline penerbitan buku lainnya.

Awal Agustus 2018 saya meminta dukungan penerbitan buku. Saat bertemu tanggal 9 Agustus 2018, Prof Afid tampak rapi dan rileks dari balik meja diskusi. Ia persilahkan saya duduk dan cerita tentang buku saya. Didengarkannya. Saya ceritakan bahwa Kata Pengantar sudah kudapat dari Dr. Ery Seda, mohon kesediaan Prof memberi testimoni. Jawabnya, “Mengapa tidak. Ini buku yang bagus”. Usai saya cerita, Prof Afid menyahut lisan: “Jika demikian maka testimoninya kira-kira begini....”. Mataku basa, tak kuduga mendapatkan respon sangat positif. Malamnya kuterima testimoni untuk buku: “Belajar Itu Proses Kreatif: Pengalaman Bermakna Bersama Anak Sejak Prasekolah Hingga Perguruan Tinggi.” Berikut ini adalah testimoni Prof Afid.

“Proses belajar berlangsung sejak “di buaian hingga ke liang lahat.” Proses pendidikan asasi adalah keluarga, sehingga keluarga harus menjadi dasar pertama bagi berlangsungnya proses pendidikan. Tatkala pendidikan diserahkan ke institusi pendidikan formal karena kom­pleksitas dan modernitas, pendidikan sesungguhnya kehilangan landasan ideal. Pada hakikatnya inilah yang hendak dituju buku ini — suatu karya yang menggugah dan mengingatkan kita kembali kepada asas kesejatian pendidikan, yakni learning process through life.” (Prof. Dr. Achmad Fedyani Saifuddin, Guru Besar Antropologi UI).

Penggalan kisah-kisah di atas memperlihatkan bahwa jauh sebelum diskusi berlangsung atas nama antropologi kekuasaan, sejak awal Prof Afid mengirim kesan dan praktek kekuasaan yang persuasif, terbuka, dan rileks dalam keseharian dan pembelajaran kelas. Ekspresi kekuasaan persuasif itu membuat mahasiswa bergairah memahami teori antropologi. Bekal kekuasaan persuasif yang inside out dari sosok guru besar itu membuka pemahaman dan praktek antropologi kekuaaan yang secara perlahan memberi gambaran basis ontologi dan epistemologi.

Akhirnya, selain kemanfaatan berupa pesan kekuasaan persuasif yang inside out dari sosok sang guru besar, basis aksiologi antropologi kekuasaan terpenting adalah menumbuhkan kesadaran kita sebagai makluk berakal-budi agar sadar bahwa kekuasan itu melekat pada semua orang. Kita tidak bisa mengklaim sebagai yang paling berkuasa atas orang lain. Karenanya kita harus membangun relasi kekuasaan yang persuasif agar terhindar dari benturan dalam proses saling mempengaruhi, sebaliknya harus tumbuh saling respek dan hormat! (*)

Penulis adalah Dosen PNS di LLDikti Wilayah III Jakarta; Pendiri Institut Antropologi Kekuasaan (Institute for Anthropology of Power); Alumni Program Doktor Antropologi UI.

 

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Suara Kita Terbaru