Pro Kontra Tahbisan Uskup Ruteng di Balik COVID-19, Bagaimana Menyembuhkan?


 Pro Kontra Tahbisan Uskup Ruteng di Balik COVID-19, Bagaimana Menyembuhkan? Uskup Keuskupan Ruteng, Mgr Siprianus Hormat Pr. (Foto: Istimewa)

Oleh: Dr Prudensius Maring

PERISTIWA penahbisan Uskup Manggarai sudah berlalu. Tapi pro dan kontra masih saja berlangsung di berbagai media sosial. Pihak-pihak yang mengekspresikan pro dan kontra sangat beragam basisnya. Tulisan pendek ini sekadar sebuah respon cepat (quick response) atas peristiwa yang masih menyisahkan pro-kontra.

Pihak/orang-orang yang pro (mendukung peristiwa pentahbisan tersebut) umumnya melihat dan memaknainya dari sudut pandang iman keyakinan. Posisi demikian, membuat mereka menerima dan memahami peristiswa itu sebagai hal wajar dan semestinya, dan juga dijadikan amunisi untuk menyerang mereka yang menentang acara pentahbisan itu. Namun, sikap yang diambil kelompok pro itu pun harus menuai kritik, seolah mereka yang pro itu beriman dengan "menutup mata", tanpa melihat pijakan realitas. 

Pihak/orang-orang yang kontra (menyesalkan, mengritik, protes, marah, bahkan ada yang merasa frustasi) datang dari banyak ragam posisi, struktur, peran, dan fungsi. Menariknya, kritik tegas dan masih sampai pagi ini datang dari beberapa orang (yang saya kenali) sebagai orang Katolik. Dengan tegas mereka serukan agar pimpinan Gereja (Uskup) perlu minta maaf secara terbuka. Di balik seruan itu, terlihat mereka tersamar membangun posisi mereka sebagai orang-orang beriman secara rasional. Beriman ya, tapi sadar akan kaki yang berpijak di tengah serangan Covid-19 (singkatya demikian). Sikap dan pikiran demikian ini, sahut menyahut dengan kelompok pro dari beragam posisi, peran, dan latar agama (sekadar memberi konteks, tidak sebagai basis analisis dari sisi identitas agama).

Menarik juga mencermati pemikiran dan sikap dari banyak pihak/orang-orang yang menempatkan diri di luar atau melampaui garis batas "iman keyakinan". Mereka melihat peristiwa pentahbisan Uskup Ruteng yang mengumpulkan banyak orang (konon sekitar 1.500 orang dari rencana 7.000 orang) adalah tindakan tidak sensitif, egois, bertentangan, tidak bertanggung jawab, dan tidak mendukung agenda pemerintah dalam memerangi Covid-19. Terlihat, ada pula basis ekspresi dan argumentasi yang menyandingkan dengan agenda serupa (misal, agenda Ijtima Ulama Dunia di Gowa) yang dibatalkan oleh para pemimpinnnya sebagai respon himbaun pemerintah. Tapi ada pula yang terlihat basis ekspresi dan membangun argumentasi yang benar-benar diletakkan di atas kepentingan bersama dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara. 

Dalam pandangan saya, dinamika pro dan kontra di atas sah-sah saja. Namun penting diingat, sikap masing-masing pihak yang meremehkan pandangan yang pro, atau sebaliknya meremehkan yang kontra, justru akan makin menguatkan posisi bertahan di tempat. Pertanyaannya, untuk apa dan apa pentingnya berlama-lama berdebat soal ini dalam situasi darurat serangan Covid-19 sekarang? 

Lalu bagaimana?

Saya berpikir bahwa dalam situasi ini, kita tidak cukup berhenti "di dalam pagar" sudut pandang kita masing-masing. Kita perlu “keluar dari” basis argumentasi, alasan-alasan, dan pijakan cara melihat kita. Sejenak kita perlu "saling masuk" ke dalam dunia dan cara berpikir pihak/orang lain yang berbeda dengan kita. Lihat latar belakang mereka, sepak terjang mereka, perjuangan mereka, tanggung jawab mereka sebelumnya, dan peran-peran mereka saat ini (tidak terfokus pada acara pentahbisan), sebelum akhirnya saat ini secepat kilat kita didera Covid-19. 

Mengapa kita harus keluar dari pagar cara pikir kita dan masuk dalam pagar cara pikir dan dunia orang lain? Agar kita tidak merasa dan menjadi jago kandang. Tidak merasa benar sendiri. Tidak merasa sangat berenergi dan sangat kuat sendiri. Lalu kita gunakan energi itu untuk saling menyerang, menghantam, mencaci, dan menyakiti yang lain. Jika pola yang sama terjadi maka sesungguhnya kita sedang saling menghakimi. Pikiran produktif dan kontributif tidak akan lahir dari sikap merasa diri paling benar dan menghakimi yang lain salah. Pandangan benar sendiri itu, kalaupun dieksekusi pasti menuai kritik, resistensi, dan penolakan. 

Coba bayangkan, tanggung jawab besar di pundak Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang mendapat tugas dari Presiden RI, Joko Widodo (dan tentu kelompok yang mengritik acara pentahbisan Uskup). Saya berpikir bahwa tanggung jawab dan kepedulian besar itulah yang mendorong mereka menyatakan sikap: “Menyayangkan dan protes terhadap sebuah peristiwa pentahbisan yang mengumpulkan sekitar 1.500 orang". Atau kita bisa lakukan sebalikya. Coba bayangkan, tanggung jawab seorang Kardinal/Uskup yang harus merawat tradisi pentahbisan Uskup yang sakramantali dan dinanti-nanti umat. Bayangkan juga sepak terjang mereka sebelumnya dalam merawat kebhinekaan bernegara-bangsa, yang akhirnya beberapa hari lalu mereka tetap menyelenggarakan acara pentahbisan Uskup.

Dalam pandangan saya, dalam situasi sekarang, jauh lebih perlu mencoba memahami: Mengapa kelompok/orang lain marah/mengritik sikap kita? Lalu dari situ dan ke depan kita memperbaiki pikiran dan tindakan kita. Dari  pada secara masif dan berlanjut kita mengajukan alasan-alasan membela diri, seperti mengatakan: Surat himbauan pembatalan dari pejabat datang terlambat; toh mereka yang ikut perayaan itu juga pulang dalam keadaan sehat-sehat; atau mengatakan yang kritik itu imannya lemah. Atau sebaliknya, mengatakan Uskup tidak memberi teladan yang baik, semua karya sebelumnya  menjadi "mentah" dan bertentangan dengan keputusan bertindak dalam peristiwa yang baru lalu ini.

Saat-saat ini sedang ada situasi darurat. Para tokoh agama, para pembesar agama, para pemimpim negara-bangsa, yang sudah sejak lama merawat dan berjuang mewariskan nilai-nilai besar universal berbasis agama, mereka sedang menghadapi tantangan membuta keputusan. Keputusan untuk merawat hal-hal yang kita sebagai warga dan umatnya pun menganggap itu baik dan menjalankannya pada zaman peradaban sekarang. Para pemimpin dan kita semua sedang merasakan, mengalami, dan menghadapi tekanan dan tantangan luar biasa besar akibat serangan kilat Covid-19 yang mendunia. Bayangkan saja, perayaan ekaristi di Gereja dibatasi bahkan dihimbau secara resmi agar dihentikan dulu. Perayaan keagamaan lain pun demikian, dibatasi dan dihentikan sementara. Hal-hal yang kita rawat, jaga, dan pelihara ribuan tahun sebagai mekanisme dan cara membangun relasi vertikal kita dengan Sang Maha Kuasa, seketika harus dibatasi, ditunda, dan dihentikan dulu akibat serangan kilat Covid-19.

Pasti ada galau, panik, gelisah, takut, khawatir, was-was, prihatin yang kini melanda kita semua, termasuk para pemimpin negara-bangsa dan agama. Mari kita hadapi Covid-19 (dan tentu urusan lain juga) secara  bersama-sama, dengan segala kekuatan akal budi kita. Semoga ini sedikit saja membantu agar kita melihat masalah sekarang secara berbeda. Mohon maaf, sekiranya ini tidak berkenan. Tuhan memberkati kita sekalian!

Penulis adalah Dosen Universitas Budi Luhur, Jakarta

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Suara Kita Terbaru