Kamis, 05 Februari 2026

Mengapa Anak Muda Lebih Nyaman Curhat ke AI daripada ke Manusia?


  • Kamis, 05 Februari 2026 | 14:00
  • | Tekno
 Mengapa Anak Muda Lebih Nyaman Curhat ke AI daripada ke Manusia? Seorang pria muda dengan rambut pirang terang yang disisir rapi dan dipotong pendek tampak menatap ke seberang bingkai. Ia mengenakan hoodie hitam dan duduk di depan vas bunga di area dalam ruangan.(DocoDocumentaries/TullenProductions/bbc.com)

PAISLEY 23 tahun, mengaku pernah berbicara dengan ChatGPT hingga delapan kali sehari. Bukan sekadar bertanya hal teknis, ia curhat tentang hidupnya—tentang rasa cemas, kebingungan, bahkan hal-hal yang biasanya hanya diceritakan kepada sahabat dekat.

Baginya, berbicara dengan AI terasa jauh lebih mudah dibanding berbincang dengan manusia sungguhan. Setelah bertahun-tahun terjebak dalam kesendirian sejak masa lockdown Covid-19, ia merasa kehilangan kemampuan bersosialisasi. “Saya seperti tidak tahu lagi cara berbicara dengan orang lain. Hanya AI yang terasa aman,” ungkapnya.

Pengalaman Paisley bukan kasus tunggal. Banyak anak muda seusianya merasakan hal serupa. Generasi yang tumbuh sebagai digital native justru menghadapi ironi: terhubung secara teknologi, tetapi terisolasi secara emosional.

Generasi Paling Kesepian

Sejumlah riset menunjukkan Generasi Z menjadi kelompok usia paling rentan terhadap kesepian. Di Inggris, sepertiga anak muda berusia 16–29 tahun mengaku sering merasa sendirian. Angka itu jauh lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.

Kondisi ini membuat banyak dari mereka mencari pelarian ke teknologi, termasuk chatbot berbasis AI. Survei terhadap ribuan remaja menemukan hampir 40% pernah menggunakan chatbot untuk mendapatkan dukungan emosional. Sebagian bahkan merasa berbicara dengan AI lebih mudah daripada dengan manusia.

Fenomena ini semakin kuat sejak pandemi. Banyak anak muda menyelesaikan sekolah, kuliah, atau mulai bekerja dari rumah tanpa kesempatan membangun lingkar sosial yang sehat. Paisley, misalnya, langsung bekerja secara remote setelah lulus sekolah dan perlahan kehilangan interaksi nyata.

“Saya berharap ChatGPT bisa menjadi teman saya,” katanya jujur. “Robot itu selalu memberi respons, tidak menghakimi, dan terasa ada untuk saya,”sebagaimana dilaporkan bbc.com.

AI Bukan Jawaban

Pembuat film dokumenter muda, Sam Tullen, meneliti pengalaman seperti yang dialami Paisley dalam karyanya berjudul Generation Lonely. Ia menyimpulkan bahwa AI memang memberi rasa ditemani, tetapi tidak bisa menggantikan hubungan manusia.

“Banyak yang mencoba mengisi kekosongan lewat chatbot. Awalnya terasa menolong, tapi lama-lama mereka sadar itu bukan solusi berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, dunia digital membuat percakapan dengan mesin terasa lebih praktis daripada bertemu teman. Anak muda bahkan menanyakan hal remeh ke chatbot seperti pilihan pakaian atau rencana harian—pertanyaan yang dulu diarahkan kepada sahabat.

Namun interaksi seperti itu tidak memberi kehangatan emosional yang sesungguhnya.

Risiko bagi Remaja

Pekerja komunitas kepemudaan di Manchester mengingatkan bahwa AI tidak memiliki kecerdasan emosional layaknya manusia. Anak dan remaja masih berada dalam tahap perkembangan, sehingga tidak selalu mampu menyaring informasi yang mereka terima dari chatbot.

Ada kekhawatiran bahwa sebagian anak muda menganggap jawaban AI sebagai kebenaran mutlak. Padahal, tanpa pendampingan orang dewasa, teknologi bisa memperkuat kecemasan, bahkan pola pikir keliru.

Peran “orang dewasa yang dapat dipercaya”—guru, keluarga, atau pekerja sosial—tetap tak tergantikan. Sayangnya, layanan kesehatan mental bagi remaja sering kali tidak memadai untuk menampung lonjakan kebutuhan.

Hubungan tanpa Perlawanan

Seorang peneliti hubungan manusia–AI menjelaskan daya tarik chatbot terletak pada sifatnya yang selalu ramah dan tidak pernah menolak. Ia tidak iri, tidak tersinggung, dan siap diajak bicara kapan saja, bahkan pukul tiga pagi.

Masalahnya, hubungan seperti itu tidak mencerminkan relasi manusia yang sesungguhnya. Chatbot jarang memberi penolakan atau sudut pandang berbeda. Akibatnya, remaja bisa terbiasa dengan komunikasi satu arah yang memantulkan keinginan mereka sendiri.

Tanpa tantangan atau batasan, perkembangan sosial anak muda berpotensi terhambat. Mereka bisa kesulitan menghadapi perbedaan pendapat, kritik, atau konflik di dunia nyata.

Memahami Dunia yang Berubah

Banyak remaja merasa orang tua tidak memahami realitas yang mereka hadapi. Nasihat untuk “keluar dan bersosialisasi seperti dulu” terasa tidak relevan dengan kehidupan yang kini serba digital.

Tekanan akademik, budaya kerja jarak jauh, serta interaksi yang makin banyak terjadi di layar membuat generasi ini menjalani masa dewasa dengan cara berbeda.AI mungkin memberi kenyamanan sesaat, tetapi bukan obat bagi rasa sepi. Yang dibutuhkan adalah ruang aman untuk berbicara, dukungan komunitas, dan hubungan manusia yang nyata—sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh algoritma secerdas apa pun.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tekno Terbaru