Foto yang diambil pada 13 November 2021 menunjukkan logo Microsoft di London, Inggris. ANTARA/Xinhua
SAN FRANCISCO, ARAHKITA.COM – Microsoft kembali melakukan langkah besar dengan memangkas sekitar 4.800 karyawan di berbagai negara. Jumlah tersebut setara sekitar 2,1 persen dari total tenaga kerja global perusahaan. Kebijakan ini menjadi bagian dari restrukturisasi terbaru yang dilakukan raksasa teknologi asal Amerika Serikat tersebut untuk menyesuaikan diri dengan perubahan industri yang berlangsung sangat cepat.
Dalam pengumuman yang disampaikan kepada karyawan pada Senin (6/7/2026), Microsoft menjelaskan bahwa perusahaan tengah menyederhanakan struktur organisasi agar dapat bergerak lebih cepat dan lebih efisien di tengah perkembangan teknologi, termasuk pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI).
PHK kali ini terutama menyasar divisi penjualan komersial serta bisnis gim Xbox, dua unit yang dinilai membutuhkan penyesuaian organisasi dalam strategi bisnis perusahaan ke depan.
Microsoft: Bukan Karena AI Menggantikan Pekerja
Wakil Presiden Eksekutif sekaligus Chief People Officer Microsoft, Amy Coleman, menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan disebabkan AI menggantikan tenaga kerja manusia.
Menurutnya, Microsoft sedang menghadapi perubahan besar dalam kebutuhan pelanggan dan arah perkembangan teknologi sehingga perusahaan harus beradaptasi melalui penyederhanaan organisasi.
Ia menambahkan bahwa transformasi ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Microsoft untuk menjaga daya saing di industri teknologi yang terus berubah.
Karyawan Terdampak Mendapat Pesangon
Microsoft memastikan seluruh karyawan yang terkena PHK akan memperoleh paket kompensasi sesuai kebijakan perusahaan.
Bantuan yang diberikan meliputi:
Paket pesangon.
Tunjangan kesehatan.
Bantuan transisi karier.
Dukungan program pencarian pekerjaan.
Perusahaan juga menyebut program pensiun sukarela yang diperkenalkan pada awal tahun telah membantu mengurangi jumlah karyawan yang harus terkena PHK dalam restrukturisasi kali ini.
Investasi AI Terus Berjalan
Gelombang PHK ini terjadi ketika perusahaan-perusahaan teknologi global berlomba menggelontorkan investasi besar di bidang kecerdasan buatan. Di sisi lain, mereka juga berupaya menekan biaya operasional agar tetap efisien di tengah persaingan yang semakin ketat dilansir Antara.
Berdasarkan laporan tahunan Microsoft, perusahaan memiliki sekitar 228.000 karyawan penuh waktu di seluruh dunia hingga Juni 2025. Dengan pengurangan sekitar 4.800 pekerja, Microsoft berharap struktur organisasinya menjadi lebih ramping sekaligus mampu mendukung fokus investasi pada teknologi masa depan, termasuk AI.