Loading
Ratu Maxima dari Belanda berdialog soal keuangan dengan pembatik dari Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Eny Zaqiyah, Selasa (25/11/2025). ANTARA/Aris Wasita
SOLO, ARAHKITA.COM — Suasana Kampung Batik Laweyan mendadak lebih hangat dari biasanya pada Selasa (25/11/2025). Ratu Maxima dari Belanda, yang hadir sebagai Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Kesehatan Finansial (UNSGSA), menyempatkan diri berdialog langsung dengan Eny Zaqiyah, salah satu pembatik perempuan yang telah lama berkarya di kawasan bersejarah tersebut.
Kedatangan Ratu Maxima bukan sekadar kunjungan seremonial. Ia benar-benar turun langsung melihat proses membatik, bahkan mencoba memegang canting. Sambil tersenyum, ia berkelakar kepada Eny, “Terima kasih sudah mengajari membatik, tetapi sepertinya saya tidak akan bisa jadi pembatik.” Candaannya memecah suasana dan membuat proses kunjungan terasa akrab.
Bahas Keuangan Usaha Perempuan Pembatik
Dalam dialognya, Ratu Maxima menanyakan bagaimana Eny mengelola usaha batiknya, terutama setelah menjadi nasabah layanan keuangan digital Amartha. Ia ingin tahu sudah berapa lama Eny bergabung, pengalaman selama menjadi nasabah, serta perubahan apa saja yang dirasakan dalam perjalanan bisnisnya.
Eny mengungkapkan bahwa dirinya telah menjadi nasabah Amartha selama tiga tahun. Menurutnya, akses layanan keuangan tersebut sangat membantu perkembangan usahanya. “Sejak bergabung, usaha saya jauh lebih maju. Kami juga rutin diajak ikut pameran di berbagai tempat, jadi pemasaran kami makin luas. Tidak pernah ada masa sepi penjualan,” ujarnya dikutip Antara.
Ia juga menjelaskan bahwa pameran dan pendampingan yang diberikan membuat produknya dikenal lebih banyak pembeli, termasuk dari luar daerah.
Peran Amartha dalam Pemberdayaan Perempuan
VP Public Relations Amartha, Harumi Supit, menjelaskan bahwa Amartha telah konsisten mendukung UMKM perempuan sejak berdiri pada 2010. Program mereka berfokus pada kelompok ibu rumah tangga di daerah, terutama melalui layanan digital dan pendampingan usaha.
“Awalnya penyaluran pembiayaan mulai dari Rp5 juta, disertai pendampingan dari tenaga ahli,” tutur Harumi. Ia juga mengapresiasi kunjungan Ratu Maxima yang dianggap sebagai bentuk dukungan penting terhadap upaya peningkatan kesehatan finansial dan keberlanjutan UMKM lokal, khususnya di Kampung Batik Laweyan.
“Kami bangga bisa menjadi bagian dari agenda kunjungan Ratu. Beliau dikenal sangat peduli dengan isu literasi dan kesehatan keuangan. Ini jadi energi positif bagi kami untuk terus menghadirkan dampak nyata bagi perempuan pelaku usaha,” tambahnya.
Kunjungan ini menegaskan bahwa dukungan terhadap UMKM perempuan, terutama di sentra budaya seperti Laweyan, bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang keberlanjutan, pemberdayaan, dan warisan budaya yang terus hidup melalui tangan-tangan pembatik.