Senin, 05 Januari 2026

Hipmi Dorong Penguatan IHSG Awal 2026 Diikuti Kebijakan Nyata untuk UMKM dan Pengusaha Menengah


 Hipmi Dorong Penguatan IHSG Awal 2026 Diikuti Kebijakan Nyata untuk UMKM dan Pengusaha Menengah Warga memantau pergerakan saham melalui gawainya usai pembukaan perdagangan saham 2026 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (2/1/2026). Pada pembukaan perdagangan saham awal tahun 2026 IHSG dibuka menguat 37,130 poin atau 0,43 persen ke level 8.684,069. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/YU.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal 2026 dinilai sebagai sinyal positif bagi perekonomian nasional. Namun, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menegaskan bahwa optimisme pasar modal tersebut harus segera diterjemahkan ke dalam kebijakan konkret agar manfaatnya dirasakan langsung oleh sektor riil, terutama pengusaha menengah dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Ketua Badan Pengurus Pusat Hipmi Bidang Sinergitas Danantara, BUMN, dan BUMD, Anthony Leong, menilai pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang inklusif dan berkelanjutan. Menurutnya, perluasan akses pembiayaan yang terjangkau, pemberian insentif usaha, serta penyederhanaan regulasi menjadi kunci agar penguatan pasar modal tidak berhenti di atas kertas.

“Penguatan pasar modal harus berdampak nyata pada ekonomi riil. Di titik inilah peran pengusaha menengah dan UMKM menjadi sangat strategis,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (3/1/2025)..

Anthony menegaskan, Hipmi siap berperan sebagai mitra strategis pemerintah untuk memastikan pertumbuhan ekonomi berjalan inklusif dan tidak hanya menguntungkan kelompok usaha tertentu. Ia menyoroti masih adanya ketimpangan perhatian kebijakan yang cenderung terfokus pada UMKM mikro dan korporasi besar, sementara pengusaha menengah kerap terabaikan.

Padahal, kelompok pengusaha menengah memiliki kontribusi signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja dan menjadi penghubung penting dalam rantai pasok nasional.

“Mereka sering berada di wilayah abu-abu—tidak lagi kecil, tetapi belum besar. Padahal justru mereka adalah tulang punggung ekonomi dan jembatan bagi UMKM untuk naik kelas,” kata Anthony dikutip Antara.

Lebih lanjut, ia menilai penguatan IHSG di awal 2026 mencerminkan kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia serta arah kebijakan pemerintah yang dinilai semakin fokus pada stabilitas dan pertumbuhan jangka menengah hingga panjang. Namun, menurutnya, indikator pasar modal tidak boleh hanya menjadi ukuran kepercayaan investor besar semata.

Anthony juga mengapresiasi komitmen pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan, dalam menjaga stabilitas fiskal dan konsistensi arah kebijakan ekonomi. Fondasi tersebut dinilai penting agar pelaku usaha, terutama di sektor menengah dan UMKM, memiliki keberanian untuk berinvestasi dan melakukan ekspansi usaha.

“Stabilitas dan kepastian kebijakan adalah modal utama agar pengusaha mau meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing,” ujarnya.

Sebagai informasi, IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat (2/1) ditutup menguat 101,19 poin atau 1,17 persen ke level 8.748,13. Sejalan dengan itu, indeks LQ45 juga mengalami penguatan sebesar 0,64 persen ke posisi 852,00, mencerminkan optimisme pelaku pasar di awal tahun 2026.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru