Analis Ingatkan Ketegangan AS–Venezuela Bisa Tekan Pasar Keuangan Awal 2026


 Analis Ingatkan Ketegangan AS–Venezuela Bisa Tekan Pasar Keuangan Awal 2026 Ilustrasi Karyawan memotret layar pergerakan indeks harga saham gabungan IHSG. (Antaranews)

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Dinamika geopolitik global kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Analis pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, Hendra Wardana, mengingatkan bahwa memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Venezuela berpotensi memberi tekanan pada pasar keuangan global, termasuk Indonesia, di awal 2026.

Menurut Hendra, isu penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh otoritas Amerika Serikat telah meningkatkan tensi geopolitik dan memicu lonjakan persepsi risiko di kalangan investor global.

“Ketegangan ini mendorong sikap lebih defensif dari investor dalam jangka pendek, terutama pada aset-aset berisiko,” ujarnya kepada Antara di Jakarta.

Ia menjelaskan, Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Karena itu, setiap eskalasi konflik berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global dan memicu volatilitas harga minyak.

“Dalam kondisi seperti ini, harga minyak cenderung bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat,” kata Hendra.

IHSG Berpotensi Melemah Terbatas

Dari sisi domestik, Hendra memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melemah terbatas untuk menguji area support di kisaran 8.642–8.672. Level tersebut dinilai krusial untuk melihat ketahanan pasar di tengah tekanan global.

Sementara itu, area resistance terdekat masih berada di level tertinggi sepanjang masa, yakni 8.777. Meski begitu, ketegangan geopolitik justru berpotensi memberikan sentimen positif bagi saham-saham sektor energi dan komoditas.

Namun di sisi lain, kondisi ini juga meningkatkan kekhawatiran investor terhadap inflasi global dan ketidakpastian arah ekonomi dunia. Dampaknya, investor asing cenderung mengambil sikap wait and see.

Faktor Global dan Domestik Masih Berperan

Selain isu AS–Venezuela, pergerakan IHSG ke depan juga dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan suku bunga global, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta dinamika arus dana asing di pasar negara berkembang.

Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati kesinambungan kebijakan ekonomi pemerintah, stabilitas makroekonomi, serta kinerja awal tahun emiten-emiten berkapitalisasi besar.

“Kombinasi sentimen global dan domestik membuat pergerakan IHSG cenderung fluktuatif, namun masih berada dalam fase konsolidasi yang sehat selama support utama mampu dipertahankan,” jelasnya.

Target IHSG 10.000 Dinilai Masih Realistis

Dalam perspektif jangka menengah hingga panjang, Hendra menilai proyeksi IHSG menembus level 10.000 pada akhir 2026 masih berada dalam koridor realistis, meski terkesan ambisius.

Ia menyoroti penguatan IHSG lebih dari 1 persen pada hari perdagangan pertama 2026 dengan nilai transaksi yang besar sebagai sinyal kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi nasional.

Meski demikian, pencapaian level psikologis tersebut tetap memerlukan dukungan fundamental yang kuat, terutama dari pertumbuhan laba emiten berkapitalisasi besar serta kembalinya arus dana asing seiring ekspektasi penurunan suku bunga global, inflasi yang terkendali, dan stabilitas nilai tukar rupiah.

“Di tengah volatilitas jangka pendek akibat sentimen geopolitik, strategi yang lebih relevan adalah selektif dan memanfaatkan koreksi sebagai peluang trading maupun akumulasi terbatas,” ujarnya dikutip Antara.

Penutupan IHSG

Berdasarkan data penutupan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (2/1), IHSG ditutup menguat 101,19 poin atau 1,17 persen ke level 8.748,13.

Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 3,12 juta transaksi, dengan volume 51,14 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp22,26 triliun. Sebanyak 479 saham menguat, 200 saham melemah, dan 131 saham stagnan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru