Loading
Para pejalan kaki di area pasar elektronik Huaqiangbei di Shenzhen, Tiongkok, pada hari Rabu, 14 Januari 2026. (Qilai Shen | Bloomberg | Getty Images)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal keempat 2025 menunjukkan sinyal pelambatan yang makin jelas. Produk domestik bruto (PDB) Tiongkok hanya tumbuh 4,5% pada periode Oktober–Desember, menjadi laju terlemah dalam hampir tiga tahun. Angka ini juga turun dibanding kuartal ketiga yang masih berada di 4,8%.
Meski demikian, untuk kinerja setahun penuh, China tetap bisa “menyentuh target”. Sepanjang 2025, output ekonomi tercatat tumbuh 5%, sesuai sasaran resmi Beijing yang berada di kisaran sekitar 5%. Namun, capaian tahunan ini menyimpan catatan penting: mesin ekonomi di dalam negeri belum benar-benar bertenaga.
Konsumsi Melemah, Belanja Warga Tak Sekuat Perkiraan
Salah satu sorotan terbesar datang dari sisi konsumsi. Data Desember menunjukkan penjualan ritel hanya naik 0,9% secara tahunan, lebih lambat dari proyeksi ekonom 1,2%, dan turun dari 1,3% pada bulan sebelumnya. Ini menjadi pertumbuhan paling lambat sejak akhir 2022—periode ketika konsumsi sempat berada dalam tekanan dan bahkan mengalami kontraksi.
Bagi pasar, angka ini bukan sekadar statistik bulanan. Penjualan ritel sering dibaca sebagai “termometer” kepercayaan masyarakat. Saat masyarakat memilih menahan belanja, artinya ada kekhawatiran: mulai dari ketidakpastian pendapatan, prospek pekerjaan, sampai rasa aman terhadap kondisi ekonomi.
Industri Masih Tangguh, Produksi Mengalahkan Ekspektasi
Di tengah lemahnya konsumsi, kabar yang sedikit lebih positif justru datang dari sektor manufaktur. Produksi industri naik 5,2% pada Desember, melampaui perkiraan sekitar 5%, dan lebih baik dibanding capaian bulan sebelumnya 4,8%.
Ini memberi sinyal bahwa sektor produksi masih bergerak. Namun, banyak analis menilai kekuatan industri China saat ini tidak bisa dilepaskan dari peran ekspor yang semakin dominan, terutama karena permintaan domestik belum pulih kuat.
Properti dan Investasi Jadi “Batu Berat” yang Terus Menarik Turun
Sisi lain yang memperberat ekonomi China adalah investasi, terutama yang berkaitan dengan real estat. Data menunjukkan investasi aset tetap (yang mencakup properti) tahun lalu mengalami kontraksi 3,8%, lebih buruk dari perkiraan penurunan sekitar 3%.
Yang paling tajam terlihat pada investasi pengembangan properti, yang turun 17,2% pada 2025. Tekanan ini lebih dalam dibanding penurunan 10,6% pada 2024. Artinya, krisis sektor properti belum selesai—bahkan cenderung membentuk “luka panjang” dalam struktur ekonomi.
Ketika properti melemah, dampaknya menjalar: industri bahan bangunan, penyerapan tenaga kerja, keuangan perbankan, hingga konsumsi masyarakat yang sering bergantung pada nilai aset rumah.
China Kian Bertumpu pada Ekspor
Menariknya, ketahanan pertumbuhan sepanjang 2025 banyak ditopang oleh sektor eksternal. China mencatat surplus perdagangan hampir 1,2 triliun dolar AS, rekor tertinggi, didorong lonjakan ekspor ke pasar non-AS. Banyak produsen juga melakukan diversifikasi pengiriman untuk menghindari potensi tarif lebih tinggi dari Amerika Serikat.
Sejumlah pihak menilai kondisi ini memberi “ruang napas” bagi Beijing karena pemerintah tidak perlu buru-buru menggelontorkan stimulus besar-besaran. Namun konsekuensinya, struktur pertumbuhan menjadi timpang.
Dalam konferensi pers, pejabat statistik menyebut total perdagangan China setara hampir sepertiga dari PDB pada 2025. Sementara kontribusi konsumsi disebut berada di kisaran 52% dari output ekonomi. Angka ini cukup besar, tetapi tetap dianggap belum ideal untuk ekonomi sebesar China yang sedang diarahkan menjadi lebih berbasis belanja domestik sebagaimana dilansir dari CBNC.com.
Reformasi Struktural Jadi PR Lama yang Belum Selesai
Seiring data terbaru, para ekonom kembali mengingatkan bahwa model pertumbuhan berbasis ekspor, investasi, dan produksi memiliki risiko jangka panjang. Jika konsumsi rumah tangga tidak ikut menguat, China berisiko menghadapi pertumbuhan yang rapuh, terutama saat dunia mengalami perlambatan.
Sejumlah analis menilai ketergantungan pada ekspor bukan situasi berkelanjutan—bukan hanya bagi China, tetapi juga bagi ekonomi global. Ketika pertumbuhan China “mendorong keluar” lewat barang dan produksi, tekanan kompetisi harga juga meningkat di pasar dunia.
Deflasi Masih Mengintai, Walau Inflasi Konsumen Naik
Masalah lain yang belum hilang adalah tekanan harga. Inflasi konsumen naik menjadi 0,8% pada Desember, laju tercepat hampir tiga tahun. Namun di sisi lain, harga produsen turun 1,9%, menandakan tekanan deflasi di tingkat industri masih berlanjut.
Deflator PDB—ukuran paling luas untuk harga barang dan jasa—juga masih berada di zona negatif sejak 2023. Bahkan ada perkiraan deflator PDB akan kembali turun sekitar 0,5% pada 2026, yang berarti periode deflasi panjang berlanjut.
Kredit Menyusut, Stimulus Mulai Dibuka Lagi
Sinyal pelemahan permintaan juga terlihat dari perbankan. Pinjaman bank baru pada 2025 dilaporkan menyusut ke level terendah tujuh tahun. Kondisi ini menggarisbawahi bahwa dunia usaha dan rumah tangga belum agresif mengambil kredit—tanda bahwa keyakinan ekonomi belum solid.
Merespons situasi ini, Bank Rakyat China (PBoC) mulai membuka jalur pelonggaran: termasuk pemotongan suku bunga 25 basis poin pada sejumlah instrumen, serta meningkatkan kuota program pinjaman bagi sektor prioritas seperti pertanian, teknologi, dan perusahaan swasta.
Beberapa ekonom juga memperkirakan bank sentral masih akan melanjutkan langkah tambahan, termasuk penurunan rasio cadangan wajib (RRR) dan pemangkasan suku bunga kebijakan pada awal 2026.
Arah 2026: Pertumbuhan Masih Ada, tapi Tantangan Lebih Nyata
Jika ditarik garis besarnya, China memang masih tumbuh—dan bahkan berhasil memenuhi target 2025. Namun perlambatan kuartal terakhir memperlihatkan titik lemah yang sulit diabaikan: konsumsi melemah, investasi properti belum pulih, sementara ekspor menjadi penopang utama.
Artinya, beberapa bulan ke depan bisa menjadi periode penting: apakah China mampu menyalakan kembali permintaan domestik, atau justru semakin “mengandalkan luar negeri” untuk menjaga laju pertumbuhan.