Loading
Para peserta berdiskusi di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, 20 Januari 2025. (Xinhua/Lian Yi)
JENEWA, ARAHKITA.COM — Presiden World Economic Forum (WEF) Borge Brende menilai China akan kembali menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi global pada 2026. Ia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi China dapat melampaui 5 persen tahun ini, menunjukkan ketahanan yang kuat meski dunia masih dibayangi tantangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi.
Dalam wawancara dengan Xinhua menjelang pertemuan tahunan WEF 2026, Brende mengatakan China tidak hanya bertahan di sektor-sektor ekonomi tradisional, tetapi juga sedang memperlebar langkah ke sektor-sektor baru. Akselerasi itu, menurutnya, didorong oleh peningkatan investasi besar di bidang riset, pengembangan, inovasi, hingga penguatan ekosistem kewirausahaan.
Brende menegaskan dirinya cukup optimistis terhadap prospek jangka panjang ekonomi China. Ia berpendapat, selama China konsisten melanjutkan reformasi ekonomi dan menjaga fokus investasi pada inovasi, maka laju pertumbuhan berpotensi berkelanjutan.
“China telah beralih menuju revolusi industri kelima, yang mewakili perubahan paradigma besar. Teknologi menawarkan peluang luar biasa untuk mendorong produktivitas dan pertumbuhan pada tahun-tahun mendatang, dan China merupakan kontributor utama,” ujar Brende.
Teknologi, EV, dan Energi Hijau Jadi Kartu Kuat
Brende menyoroti posisi China yang semakin dominan di sektor strategis berbasis teknologi. Ia menyebut kepemimpinan China dalam manufaktur turbin angin dan peralatan tenaga surya, serta peran besarnya dalam produksi kendaraan listrik (EV).
Nama-nama seperti BYD dan sejumlah merek EV asal China lainnya, menurut Brende, kini mendapat pengakuan luas secara global dan ikut membentuk peta baru industri otomotif dunia.
Ekonomi Global Bertahan, Tapi Risiko Perang Jadi Kekhawatiran
Dari sisi global, Brende menilai kondisi perekonomian dunia secara mengejutkan masih relatif tangguh, meski ketegangan geopolitik meningkat dan beberapa negara menerapkan tarif yang memberi tekanan pada perdagangan.
Ia menyebut perdagangan tetap menjadi “mesin pertumbuhan” yang penting, sementara teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI) telah menarik arus investasi besar dan menjadi pendorong pertumbuhan baru.
Namun, Brende menyampaikan satu catatan serius: kekhawatiran terbesar WEF adalah kemungkinan terjadinya eskalasi perang berskala besar.
“Kami paling khawatir tentang eskalasi besar perang. Itu bisa menghancurkan pertumbuhan global,” katanya dilansir Antara.
Meski begitu, ia menambahkan bahwa apabila risiko eskalasi itu dapat dihindari, pertumbuhan ekonomi global masih berpeluang melampaui 3 persen pada 2026.
Multilateralisme Berubah: Lebih Fleksibel dan Berskala Kecil
Brende juga menyinggung laporan Global Cooperation Barometer yang baru dirilis WEF. Ia menyebutkan bahwa meskipun multilateralisme menghadapi banyak hambatan, kerja sama global tidak berhenti—namun bergerak ke pola yang lebih lentur, lebih pragmatis, dan sering kali lewat mekanisme yang lebih kecil.
Dalam konteks tersebut, Brende menilai peran China tetap penting dalam menjaga semangat multilateralisme. Ia juga menegaskan bahwa lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) masih esensial untuk menjawab tantangan global—mulai dari pandemi hingga kejahatan siber—serta telah berkontribusi besar pada kemakmuran dunia sejak Perang Dunia II.
WEF 2026 Digelar 19–23 Januari di Davos
Sebagai informasi, Pertemuan Tahunan WEF 2026 dijadwalkan berlangsung pada 19–23 Januari di Davos, Swiss, mengusung tema “Semangat Dialog” (A Spirit of Dialogue).
Forum ini diperkirakan dihadiri hampir 3.000 peserta dari lebih 130 negara, dengan agenda diskusi meliputi penguatan kerja sama global, pemanfaatan sumber-sumber pertumbuhan baru, hingga investasi pada pembangunan manusia.
Brende menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa dalam dunia yang makin kompetitif dan terfragmentasi, dialog bukan sekadar formalitas.“Dialog bukanlah kemewahan, tetapi kebutuhan,” ujar Brende.