Loading
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian ditemui di kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (21/1/2026). (ANTARA/Maria Cicilia Galuh)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — World Economic Forum (WEF) 2026 dinilai bukan sekadar ajang hadir-absen diplomasi. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, melihat forum global di Davos itu sebagai momen strategis Indonesia menegaskan posisi, karakter kebijakan, serta arah langkah nasional di tengah dunia yang sedang penuh ketidakpastian.
Saat ditemui di kantor Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) di Jakarta, Rabu (21/1/2026), Fakhrul menilai Indonesia seharusnya datang bukan hanya sebagai peserta, melainkan sebagai negara yang aktif menjadikan forum tersebut sebagai panggung positioning—memperlihatkan komitmen sekaligus prioritas utama kepada komunitas global.
“WEF ini sarana positioning, sebuah acara yang strategis. Yang paling penting, saya berharap besok Presiden Prabowo memberikan statement atau pidato yang menunjukkan di mana posisi Indonesia,” ujar Fakhrul.
Pesan Kunci: Disiplin dan Keberlanjutan Fiskal
Menurut Fakhrul, salah satu pesan krusial yang perlu disampaikan Indonesia di WEF adalah soal komitmen disiplin fiskal dan kesinambungan kebijakan anggaran.Ia mengingatkan bahwa tahun 2025 merupakan masa konsolidasi, di mana defisit fiskal meningkat dengan realisasi berada di atas 2,9 persen. Meski begitu, ia menilai pemerintah tetap harus menunjukkan bahwa keberlanjutan fiskal bukan hal yang dinegosiasikan, melainkan fondasi agar operasional negara tetap terjaga dalam jangka panjang.
Dengan kata lain, di tengah tekanan global, Indonesia harus memberi sinyal jelas: negara ini tetap serius menjaga kesehatan fiskal, bukan sekadar mengejar target jangka pendek.
Indonesia di “Tengah” Saat Dunia Bergejolak
Selain urusan fiskal, Fakhrul juga menilai pidato Presiden Prabowo di Davos akan menjadi kesempatan penting untuk menegaskan posisi Indonesia yang berada di tengah, saat dinamika geopolitik dan geoekonomi dunia sedang tidak stabil.
Baginya, komunikasi yang tegas dan terarah akan membantu Indonesia memperkuat citra sebagai negara yang stabil, kredibel, serta punya visi jangka panjang.
“Karena itu kita sangat-sangat mengharapkan statement yang firm untuk disampaikan besok. Harus bisa menjelaskan bagaimana posisi Indonesia di tengah berbagai macam gejolak dunia yang sedang terjadi,” imbuhnya dikutip Antara.
Prabowo ke Davos, Presiden RI 10 Tahun Absen dari WEF
Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan hadir pada WEF 2026 di Davos, Swiss. Kehadiran ini menjadi sorotan karena Presiden Republik Indonesia disebut sudah 10 tahun absen dari panggung WEF.
Dalam catatan, presiden Indonesia yang pertama kali hadir dan berpidato di WEF adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tahun 2011, dengan mengangkat tema ekonomi hijau atau ramah lingkungan.
Pada edisi kali ini, Prabowo dijadwalkan hadir bersama CEO Danantara Rosan Roeslani, serta sejumlah menteri. Di antaranya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.WEF sendiri merupakan forum tahunan yang mempertemukan pemimpin negara, pelaku usaha, akademisi, dan elemen masyarakat sipil dunia. Tema WEF 2026 adalah “A Spirit of Dialogue”, menekankan pentingnya dialog di tengah polarisasi dan ketegangan global yang meningkat.