Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna dalam wawancara dengan wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Senin (8/12/2025). (ANTARA/ Muhammad Heriyanto)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Aktivitas pencatatan saham baru di pasar modal Indonesia masih terbilang sepi di awal 2026. Hingga 20 Februari 2026, belum ada satu pun perusahaan yang resmi melangsungkan initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia.
Meski demikian, Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan geliat menuju lantai bursa tetap berjalan. Saat ini, tercatat delapan perusahaan sudah masuk dalam pipeline atau antrean IPO.
“Hingga saat ini, terdapat delapan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, dalam keterangannya di Jakarta, Senin (23/2/2026).
Dari sisi skala aset, mayoritas calon emiten tergolong perusahaan besar. Lima perusahaan memiliki aset di atas Rp250 miliar, sementara tiga perusahaan lainnya berada di kategori aset menengah, yakni Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Klasifikasi ini mengacu pada ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53/POJK.04/2017.
Ragam Sektor Calon Emiten
Baca juga:
Dua Emiten Baru Resmi Melantai di BEI, Raih Dana IPO Rp517 Miliar dan Langsung Diburu InvestorJika dilihat dari sektor usaha, antrean IPO tahun ini cukup beragam. Rinciannya, dua perusahaan berasal dari sektor barang baku, dua dari sektor keuangan, serta masing-masing satu perusahaan dari sektor transportasi dan logistik, barang konsumen primer, energi, dan industri. Komposisi ini menunjukkan bahwa minat melantai di bursa tidak hanya datang dari satu sektor tertentu.
Pasar Utang Masih Aktif
Di sisi lain, aktivitas pasar modal tidak sepenuhnya melambat. Hingga 20 Februari 2026, BEI mencatat telah terjadi 20 emisi efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) dari 13 penerbit, dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp15,71 triliun.
Tak hanya itu, terdapat pula 20 emisi dari 21 penerbit EBUS yang saat ini masih berada dalam antrean penerbitan. Hal ini menandakan bahwa instrumen pendanaan melalui pasar utang masih cukup diminati.
Rights Issue dan Jumlah Emiten
Untuk aksi rights issue, hingga 26 September 2025 tercatat tiga perusahaan telah melaksanakannya dengan total nilai Rp3,75 triliun. Ke depan, masih ada satu perusahaan sektor properti yang masuk antrean rights issue.
Sebagai gambaran, hingga 20 Februari 2026, jumlah perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia telah mencapai 956 emiten. Angka ini mencerminkan fondasi pasar modal yang terus berkembang, meski IPO di awal tahun masih menunggu momentum yang tepat.