Dampak Konflik Timur Tengah ke RI Masih Terbatas, Ini Risiko Tersembunyinya


 Dampak Konflik Timur Tengah ke RI Masih Terbatas, Ini Risiko Tersembunyinya Head of Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani.(Foto: Dok. Bank Eksim)

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah belum memberikan dampak langsung yang signifikan terhadap perdagangan Indonesia. Namun, ancaman sesungguhnya justru datang dari jalur tidak langsung—terutama lewat lonjakan harga energi, nilai tukar, dan perlambatan ekonomi global.

Hal ini disampaikan oleh Head of Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani. Menurutnya, keterkaitan perdagangan Indonesia dengan kawasan Timur Tengah masih relatif kecil.

Data menunjukkan, ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2 persen dari total ekspor nasional. Sementara impor dari kawasan tersebut berada di angka 3,9 persen, yang sebagian besar berupa komoditas energi seperti minyak.

“Dampak langsung memang terbatas. Tapi kita harus waspada terhadap efek tidak langsung, terutama dari harga energi dan volatilitas global,” jelas Rini.

Risiko Nyata: Energi, Rupiah, dan Industri Global

Meski hubungan dagang langsung kecil, konflik Timur Tengah tetap punya efek domino yang tak bisa dianggap sepele.

Kawasan ini menyumbang lebih dari 30 persen produksi minyak dunia, dan sekitar 20–30 persen perdagangan minyak global melewati jalur strategis seperti Selat Hormuz.

Jika jalur ini terganggu, dampaknya bisa langsung terasa: harga minyak melonjak, biaya logistik naik, dan tekanan ekonomi global meningkat.

Bagi Indonesia, efeknya terasa melalui negara mitra. Sekitar 75 persen impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia, yang juga bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah.

Artinya, meski tidak membeli langsung, Indonesia tetap terkena imbas kenaikan harga energi.

Negara Mitra Bisa Melemah, Ekspor RI Ikut Tertekan

Negara-negara seperti China, Jepang, India, dan Korea Selatan yang menjadi pasar utama ekspor Indonesia juga sangat bergantung pada minyak Timur Tengah.

Jika harga energi naik, biaya produksi mereka meningkat, aktivitas industri melambat, dan permintaan terhadap produk Indonesia bisa ikut turun.

Inilah risiko tidak langsung yang dinilai lebih krusial.

Harga Minyak Bisa Tembus 120 Dolar

Jika konflik berlarut, harga minyak global pada 2026 diperkirakan bisa berada di kisaran 85 hingga 120 dolar AS per barel, jauh di atas rata-rata awal tahun yang masih sekitar 60 dolar.

Kenaikan ini akan memicu efek berantai:

  • Biaya produksi industri meningkat
  • Harga logistik global naik
  • Margin eksportir tertekan

Sektor yang paling rentan adalah manufaktur, petrokimia, dan logam dasar, yang sangat bergantung pada bahan baku impor.

Ditambah lagi, potensi pelemahan rupiah akibat gejolak global akan membuat biaya impor semakin mahal.

Di Balik Risiko, Ada Peluang

Meski penuh tantangan, ada juga peluang yang muncul.

Beberapa komoditas unggulan Indonesia justru bisa diuntungkan, seperti:

  • Batu bara (kontributor 8–9 persen ekspor nasional)
  • Minyak kelapa sawit (CPO) yang permintaannya tetap kuat

Kenaikan harga energi global biasanya ikut mendorong harga komoditas ini.

Selain itu, sektor berbasis bahan baku lokal juga mendapat keuntungan dari biaya produksi yang lebih terkendali.

Proyeksi Ekspor RI Tetap Tumbuh

Di tengah ketidakpastian global, kinerja ekspor Indonesia masih cukup optimistis.

LPEI memperkirakan:

  • 2026: tumbuh sekitar 4–5 persen
  • 2027: berpotensi naik ke 5–6 persen

Catatannya, tensi geopolitik tidak semakin memburuk dan permintaan global mulai pulih.

“Komoditas energi dan agro bisa menopang ekspor dalam jangka pendek. Tapi sektor industri tetap perlu waspada jika ekonomi global melambat lebih dalam,” tutup Rini.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru