Jajak Pendapat: 59% Warga AS Anggap Serangan ke Iran Sudah Kelewat Batas


 Jajak Pendapat: 59% Warga AS Anggap Serangan ke Iran Sudah Kelewat Batas Arsip - Sejumlah warga kota membentangkan poster saat berunjuk rasa menentang serangan AS-Israel terhadap Iran, di New York, Amerika Serikat, 28 Februari 2026. (ANTARA FOTO/Xinhua/Zhang Fengguo/nz/am.)

WASHINGTON, ARAHKITA.COM — Mayoritas warga Amerika Serikat menilai langkah militer negaranya terhadap Iran sudah melampaui batas. Kekhawatiran tidak hanya soal konflik, tetapi juga dampaknya terhadap harga bahan bakar yang kian terasa.

Temuan ini terungkap dalam survei terbaru yang dilakukan AP-NORC pada 19–23 Maret terhadap 1.150 responden dewasa di AS.

Hasilnya, sebanyak 59 persen responden menyatakan aksi militer Amerika Serikat terhadap Iran sudah “terlalu jauh”. Pandangan ini terutama kuat di kalangan pemilih Partai Demokrat, di mana hampir 9 dari 10 orang menyuarakan ketidaksetujuan. Sementara itu, di kalangan independen, sekitar 6 dari 10 orang memiliki pandangan serupa.

Meski demikian, tidak semua responden menolak peran AS di kawasan. Sekitar 4 dari 10 warga masih menganggap upaya mencegah Iran mengancam Israel sebagai prioritas penting dalam kebijakan luar negeri.

Namun, hanya sekitar 3 dari 10 responden yang menilai bahwa mengganti pemerintahan Iran dengan rezim yang lebih bersahabat dengan kepentingan AS adalah hal yang sangat penting.

Di sisi lain, tingkat kepuasan publik terhadap kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump relatif stagnan. Survei mencatat 34 persen responden menyatakan setuju dengan cara Trump menangani isu global, tidak jauh berbeda dari 36 persen pada Februari.

Eskalasi Konflik dan Dampak Global

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat setelah serangan pada 28 Februari, yang melibatkan AS dan Israel terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan serta korban jiwa dari kalangan sipil.

Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah, memperparah eskalasi konflik.

Situasi ini berdampak langsung pada jalur energi global. Selat Hormuz—yang menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak dan gas alam cair dunia—mengalami gangguan serius, bahkan disebut mengalami blokade de facto.

Akibatnya, produksi dan distribusi energi di kawasan Teluk Persia terganggu, memicu kenaikan harga minyak dunia yang berimbas pada harga bahan bakar di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dikutip Antara.

Kekhawatiran Publik Bergeser ke Ekonomi

Bagi banyak warga Amerika, konflik ini bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga soal dompet sehari-hari. Kenaikan harga BBM menjadi kekhawatiran nyata yang ikut memengaruhi penilaian publik terhadap kebijakan militer pemerintah.

Survei ini menunjukkan bahwa di tengah dinamika global yang memanas, masyarakat semakin sensitif terhadap dampak ekonomi dari keputusan politik luar negeri.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru