Ilustrasi - Harga minyak dunia naik hampir 2% setelah Iran menolak negosiasi langsung dengan Amerika Serikat. (Foto: Freepik)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Harga minyak dunia kembali menguat pada Kamis (26/3/2026), didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat. Kenaikan ini terjadi setelah Iran memberi sinyal tidak tertarik melakukan negosiasi langsung dengan Washington, meski proposal penyelesaian konflik masih dikaji di Teheran.
Minyak mentah Brent—yang menjadi acuan global—tercatat naik sekitar 1,95% ke level US$104,21 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat ikut menguat 2,05% menjadi US$92,17 per barel.
Kenaikan ini mencerminkan respons pasar terhadap ketidakpastian arah diplomasi kedua negara yang hingga kini masih saling bertolak belakang.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa komunikasi melalui pihak ketiga tidak bisa diartikan sebagai negosiasi langsung dengan Amerika Serikat. Pernyataan tersebut mempertegas sikap Teheran yang tetap menjaga jarak dalam proses diplomasi.
Bahkan, laporan media pemerintah Iran menyebutkan bahwa Teheran cenderung menolak tawaran gencatan senjata dari AS. Sebaliknya, Iran dikabarkan ingin mengajukan syaratnya sendiri sebagai dasar penghentian konflik.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyampaikan bahwa kedua negara “sedang dalam negosiasi.” Pernyataan itu bahkan diikuti dengan langkah Washington yang menarik kembali ancaman terhadap infrastruktur energi Iran, dengan alasan adanya proses dialog yang sedang berjalan.
Perbedaan narasi antara kedua negara inilah yang membuat pasar energi global menjadi sensitif. Ketidakjelasan arah negosiasi meningkatkan kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan minyak di masa depan.
Meski demikian, para analis menilai lonjakan harga minyak ini belum cukup kuat untuk memicu perubahan kebijakan moneter secara agresif.
Bank investasi TD Securities menyebut bahwa gejolak harga energi kemungkinan besar tidak akan langsung direspons oleh Federal Reserve. The Fed diperkirakan tetap berada dalam posisi “wait and see”, sambil memantau perkembangan inflasi dan kondisi ekonomi global dilaporkan dan dikutip dari CNBC.
Selama ekspektasi inflasi jangka panjang tetap terkendali, dampak kenaikan harga minyak dinilai masih bisa ditahan tanpa perlu kebijakan drastis. Bahkan, peluang penurunan suku bunga di akhir 2026 masih terbuka.
Dengan situasi geopolitik yang masih dinamis, pasar minyak diprediksi akan tetap fluktuatif dalam waktu dekat—terutama jika ketegangan Iran dan AS belum menemukan titik temu.