IMF Prediksi Harga Minyak Tetap Tinggi Meski Jalur Selat Hormuz Kembali Dibuka


 IMF Prediksi Harga Minyak Tetap Tinggi Meski Jalur Selat Hormuz Kembali Dibuka Foto yang diambil dengan ponsel ini menunjukkan kapal dagang terdampar di perairan Selat Hormuz, dekat Khasab, sebuah kota kecil di Oman utara, Jumat (29/5/2026). ANTARA/Xinhua/Winu Xintian/aa.

WASHINGTON, ARAHKITA.COM – Harapan agar harga minyak dunia segera kembali normal tampaknya masih harus ditunda. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan harga minyak mentah belum akan turun dengan cepat ke level sebelum pecahnya konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Prediksi itu tetap berlaku meski jalur pelayaran di Selat Hormuz diperkirakan mulai kembali normal pada pertengahan Juli. Menurut IMF, dampak geopolitik dari konflik tersebut masih akan membayangi pasar energi global dalam waktu yang tidak singkat.

Direktur Departemen Komunikasi IMF, Julie Kozack, menyampaikan hal tersebut dalam pengarahan pers di Washington pada Kamis (9/7/2026).

Harga Minyak Diprediksi Masih Tinggi

Dalam pembaruan proyeksi ekonomi yang dirilis Rabu (8/7), IMF memperkirakan rata-rata harga minyak mentah dunia akan mencapai sekitar 89,27 dolar AS per barel pada 2026. Angka tersebut naik hampir sepertiga dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Baru pada 2027, harga minyak diperkirakan mulai terkoreksi menjadi sekitar 78,7 dolar AS per barel.

"Kami tidak berasumsi bahwa situasi harga minyak akan langsung kembali seperti kondisi normal sebelum perang," ujar Kozack.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa pemulihan jalur distribusi energi global saja belum cukup untuk mengembalikan stabilitas harga. Ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar.

Selat Hormuz Mulai Pulih, Risiko Tetap Ada

IMF tetap optimistis aktivitas pelayaran di Selat Hormuz akan mulai membaik dalam waktu dekat. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute pengiriman minyak paling vital di dunia sehingga setiap gangguan langsung memengaruhi harga energi global.

Meski demikian, IMF menegaskan akan terus memperbarui proyeksi berdasarkan perkembangan terbaru di Timur Tengah serta kondisi pasar komoditas internasional.

Konflik AS-Iran Kembali Memanas

Ketegangan terbaru dipicu oleh serangan udara besar-besaran militer Amerika Serikat ke wilayah Iran pada Rabu dini hari.

Komando Sentral Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut operasi itu sebagai respons atas tindakan Iran yang dianggap mengganggu kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke sejumlah pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait.

Pemerintah Iran juga menuduh Washington telah melanggar memorandum penghentian permusuhan yang sebelumnya disepakati dilansir Antara.

Situasi semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran sudah tidak lagi berlaku.

Perkembangan tersebut membuat pelaku pasar masih mewaspadai potensi gangguan baru terhadap pasokan energi global, sehingga tekanan terhadap harga minyak diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru