Harga Minyak Anjlok, Saham Global Menguat Usai Gencatan Senjata AS-Iran


 Harga Minyak Anjlok, Saham Global Menguat Usai Gencatan Senjata AS-Iran Pengendara mengisi BBM jenis Pertamax di salah satu SPBU di kawasan Tanjung Barat, Jakarta, Rabu (1/1/2025). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kabar meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran langsung mengguncang pasar global. Harga minyak anjlok tajam, sementara bursa saham dunia kompak menguat.

Dilaporkan dan dikutip dari BBC, penurunan ini terjadi setelah kedua negara menyepakati gencatan senjata bersyarat selama dua minggu, termasuk pembukaan kembali jalur vital Selat Hormuz—salah satu jalur perdagangan minyak paling penting di dunia.

Harga minyak mentah Brent langsung turun sekitar 13% ke level US$94,80 per barel, sementara minyak AS jatuh lebih dari 15% menjadi sekitar US$95,75 per barel. Meski turun drastis, angka ini masih lebih tinggi dibanding sebelum konflik pecah pada akhir Februari lalu, saat harga berada di kisaran US$70 per barel.

Ketegangan Reda, Pasar Langsung Bereaksi

Sebelumnya, harga energi melonjak akibat ancaman Iran yang akan menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan udara dari AS dan Israel. Gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah sempat membuat pasar global waspada.

Namun, kesepakatan gencatan senjata membawa angin segar. Jalur distribusi energi mulai terbuka kembali, dan pasar merespons cepat.

Bursa saham global langsung menghijau:

  • FTSE 100 London naik 2,53%
  • CAC Prancis melonjak 4%
  • DAX Jerman naik hampir 5%
  • Nikkei Jepang menguat 5%
  • Kospi Korea Selatan melonjak hampir 6%
  • Hang Seng Hong Kong naik 2,8%
  • ASX 200 Australia menguat 2,7%

Kontrak berjangka saham AS juga menunjukkan sinyal positif menjelang pembukaan Wall Street.

Peran Trump dan Respons Iran

Dalam unggahan media sosial, Presiden AS Donald Trump menyatakan kesediaannya menghentikan serangan selama dua minggu, dengan syarat Iran membuka Selat Hormuz secara penuh dan aman.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Teheran siap menyetujui gencatan senjata jika serangan terhadap Iran dihentikan sebagaimana dilaporkan dan dikutip BBC.

Kesepakatan ini dinilai sebagai kemenangan parsial bagi Trump, meski tetap menyisakan risiko geopolitik dan ekonomi.

Dampak ke Energi dan Ekonomi Global

Meski gencatan senjata memberi harapan, para analis menilai pemulihan tidak akan terjadi seketika.

Menurut analis energi, produksi di Timur Tengah kemungkinan butuh waktu berbulan-bulan untuk pulih sepenuhnya. Bahkan, riset dari Rystad Energy memperkirakan kerusakan infrastruktur bisa menelan biaya lebih dari US$25 miliar dan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki.

Sementara itu, kawasan Asia menjadi pihak yang paling terdampak. Negara-negara seperti Filipina bahkan sempat menetapkan darurat energi akibat lonjakan harga bahan bakar.

Maskapai penerbangan juga ikut terdampak, dengan kenaikan harga tiket dan pengurangan jadwal penerbangan akibat mahalnya bahan bakar jet.

Harapan Baru, tapi Belum Sepenuhnya Aman

Meski beberapa kapal tanker mulai kembali melintasi Selat Hormuz, volume pengiriman masih jauh dari normal.

Para analis menilai, pasar baru benar-benar stabil jika ada kepastian perdamaian jangka panjang.

“Gencatan senjata ini kabar baik, terutama bagi Asia. Namun, untuk kembali ke kondisi normal, butuh waktu,” ujar Ichiro Kutani dari Institute of Energy Economics Jepang.

 

 

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru