Freeport Fokus Operasional Aman di Tengah Gejolak Geopolitik Global


 Freeport Fokus Operasional Aman di Tengah Gejolak Geopolitik Global Direktur Utama PT Freeport Indonesia, Tony Wenas. (Net)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan geopolitik global, termasuk konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, ikut memengaruhi harga energi dunia.

Namun di tengah situasi yang penuh ketidakpastian ini, PT Freeport Indonesia memilih untuk tetap fokus pada hal yang paling bisa mereka kendalikan: operasional tambang yang aman, selamat, dan berkelanjutan.

Direktur Utama PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, menegaskan bahwa perusahaan tidak ingin terlalu larut dalam dinamika global yang sulit diprediksi. Fokus utama saat ini adalah memastikan target produksi tetap tercapai tanpa mengorbankan aspek keselamatan dan keberlanjutan.

“Iya, kita tetap fokus ke kegiatan produksi. Target 2026 kita upayakan tercapai, tapi yang paling penting adalah dilakukan dengan aman, selamat, dan berkelanjutan,” ujar Tony saat ditemui di Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Fokus pada Hal yang Bisa Dikendalikan

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik global memang menjadi tantangan tersendiri bagi industri tambang. Namun, Freeport memilih strategi realistis: mengendalikan faktor internal yang bisa dioptimalkan.

Menurut Tony, perusahaan telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menekan biaya operasional, terutama yang terdampak kenaikan harga energi.

“Kita fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Geopolitik itu di luar kendali kita. Jadi kita antisipasi dan mitigasi, tapi tetap menjaga operasional tambang berjalan aman dan efisien,” jelasnya.

Langkah ini menjadi penting, mengingat fluktuasi harga energi dan komoditas seperti emas serta tembaga dapat langsung memengaruhi biaya produksi dan profitabilitas perusahaan.

Pemulihan Produksi Pascainsiden Grasberg

Di sisi lain, Freeport juga terus memulihkan operasional pasca insiden longsor di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) yang terjadi pada 8 September 2025.

Saat ini, tingkat produksi telah kembali ke kisaran 40–50 persen. Perusahaan menargetkan operasional bisa mendekati 100 persen pada akhir 2026, dan mencapai kapasitas penuh pada awal kuartal 2027.

Upaya pemulihan ini dilakukan secara bertahap dengan tetap mengedepankan standar keselamatan kerja yang ketat.

Adaptif di Tengah Ketidakpastian Global

Bagi Freeport, naik turunnya harga minyak, emas, maupun tembaga adalah bagian dari dinamika industri yang tidak bisa dihindari. Namun, perusahaan memilih untuk tidak terjebak dalam ketidakpastian tersebut.

Sebaliknya, fokus diarahkan pada efisiensi, mitigasi risiko, dan keberlanjutan operasional jangka panjang.

“Apakah harga minyak naik, emas turun, atau tembaga berubah—itu bukan berarti kita abaikan. Tapi fokus utama kita tetap pada produksi yang aman, selamat, dan berkelanjutan,” tegas Tony dikutip Antara.

Dengan strategi ini, Freeport menunjukkan bahwa stabilitas operasional dan keselamatan kerja tetap menjadi prioritas utama, bahkan di tengah tekanan global yang terus berubah.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru