Loading
Tangkapan virtual Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro dalam Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook di Jakarta, Senin (11/5/2026). ANTARA/Muhammad Baqir Idrus Alatas
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketidakpastian ekonomi global dinilai semakin sulit diprediksi. Situasi geopolitik yang memanas, tingginya harga energi, hingga tekanan terhadap pasar keuangan dunia membuat berbagai institusi ekonomi harus menyiapkan skenario yang jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya.
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan kondisi ekonomi global saat ini menjadi salah satu periode paling rumit yang pernah dihadapi sektor keuangan dan pelaku usaha.
Dalam acara Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook yang digelar secara virtual di Jakarta, Senin (11/5/2026), Andry menyebut banyaknya variabel yang mempengaruhi perekonomian membuat penyusunan proyeksi ekonomi menjadi semakin sulit.
Menurutnya, tantangan tidak hanya datang dari sisi geopolitik, tetapi juga dari dinamika perdagangan global, pasar keuangan, hingga harga energi yang terus berfluktuasi.
Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian adalah konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini belum menemukan titik terang. Ketegangan tersebut memicu kekhawatiran terhadap gangguan di Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak dunia.
Kondisi ini membuat risiko pasokan energi global tetap tinggi dan mendorong harga minyak dunia bertahan di atas 100 dolar AS per barel. Di tengah situasi tersebut, investor global cenderung memilih aset yang lebih aman sehingga memperkuat dolar AS dan menekan aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di sisi lain, International Monetary Fund atau IMF juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 menjadi 3,1 persen dari sebelumnya 3,3 persen. Penurunan itu dipengaruhi meningkatnya risiko geopolitik serta melambatnya perdagangan internasional.
Pasar juga memperkirakan suku bunga acuan Amerika Serikat atau Fed Fund Rate (FFR) belum akan turun sepanjang tahun ini dan diproyeksikan bertahan di level 3,75 persen. Situasi tersebut berpotensi menahan aliran modal masuk ke negara berkembang dan bahkan dapat memicu arus keluar modal akibat meningkatnya sikap hati-hati investor global.
Andry menilai ada sejumlah risiko yang perlu diwaspadai Indonesia. Mulai dari lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik, meningkatnya subsidi energi, hingga tekanan inflasi yang dapat mempersempit ruang kebijakan moneter Bank Indonesia.
Selain itu, sentimen pasar global yang cenderung menghindari risiko juga dapat memicu pelemahan rupiah, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta tekanan terhadap pasar saham domestik.
Tidak hanya itu, kenaikan suku bunga pasar dan tingginya impor di tengah terbatasnya penerimaan ekspor juga dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian nasional.
Meski demikian, Indonesia masih memiliki sejumlah peluang di tengah ketidakpastian global tersebut. Kenaikan harga komoditas seperti crude palm oil (CPO), batu bara, dan nikel dinilai dapat memberikan keuntungan tambahan bagi penerimaan negara dan neraca transaksi berjalan.
Relokasi rantai pasok global juga membuka peluang masuknya investasi asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia yang mulai dilirik sebagai pusat manufaktur alternatif.
Pemerintah juga dinilai terus memperkuat kebijakan hilirisasi industri guna meningkatkan nilai tambah ekspor. Pergeseran dari ekspor bahan mentah menuju produk olahan seperti smelter, katoda, hingga bahan baku baterai disebut menjadi salah satu kekuatan baru ekonomi Indonesia dikutip Antara.
Selain itu, tren transisi energi global turut mendorong investasi di sektor kendaraan listrik, nikel, dan energi terbarukan. Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pemain penting dalam ekosistem baterai dan kendaraan listrik dunia.
Andry menegaskan bahwa komitmen terhadap transisi energi tetap dijalankan pemerintah Indonesia meskipun dunia sedang menghadapi konflik geopolitik.
“Jangan lupa bahwa walaupun terjadi perang, komitmen transisi energi global ini tetap dilakukan dengan konsisten oleh pemerintah Indonesia,” ujar Andry.