Kamis, 05 Februari 2026

Ekonomi RI Kuartal IV 2025 Tembus di Atas Ekspektasi, Ditopang Daya Beli dan Investasi


 Ekonomi RI Kuartal IV 2025 Tembus di Atas Ekspektasi, Ditopang Daya Beli dan Investasi (Ki-ka) Chief Economist Permata Bank Josua Pardede, Head of Industry & Regional Research Permata Bank Adjie Harisandi, dan Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman memaparkan laporan PIER Economic Outlook “Reviving Domestic Growth, Navigating Global Shocks.” (ANTARA/HO-Permata Bank)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Laju ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 mencatat hasil lebih baik dari perkiraan pasar. Penguatan permintaan domestik, terutama dari sisi konsumsi masyarakat dan investasi, menjadi penopang utama kinerja tersebut.

Data terbaru Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi tumbuh 5,39 persen secara tahunan, meningkat dibanding kuartal sebelumnya yang berada di level 5,04 persen. Capaian ini juga melampaui proyeksi sejumlah ekonom yang memperkirakan pertumbuhan berada di kisaran 5,1–5,25 persen.

Ekonom Permata Bank Faisal Rachman menilai momentum akhir tahun memberi dorongan signifikan. Aktivitas belanja saat musim liburan, peningkatan mobilitas, serta realisasi anggaran pemerintah yang lebih ekspansif ikut memperkuat daya beli masyarakat. Di sisi lain, iklim investasi menunjukkan perbaikan yang tercermin dari naiknya pembentukan modal tetap bruto.

Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 mencapai 5,11 persen, sedikit lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Menurut Faisal, tren ini mengindikasikan fondasi ekonomi yang makin solid setelah melalui berbagai tantangan global.

Dari struktur pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang terbesar. Komponen ini tumbuh 5,11 persen, kembali ke level pertumbuhan sebelum pandemi. Sementara itu, investasi melonjak lebih tinggi hingga 6,12 persen, didorong proyek pembangunan fisik dan ekspansi sektor swasta.

Belanja pemerintah memang sedikit melambat, namun sebagian stimulus dialihkan langsung untuk mendorong konsumsi dan investasi produktif. Strategi ini dinilai cukup efektif menjaga ritme ekonomi tetap positif.

Di sisi eksternal, kontribusi ekspor neto mulai berkurang. Pertumbuhan ekspor melandai setelah sempat melonjak pada pertengahan 2025, sementara impor justru menguat sejalan dengan kebutuhan bahan baku dan barang modal untuk kegiatan investasi dirangkum dari berbagai sumber.

Secara sektoral, manufaktur, perdagangan, dan pertanian masih menjadi tiga penyangga utama. Ketiganya menikmati efek berantai dari naiknya permintaan dalam negeri.Melihat ke depan, tim ekonom Permata Bank memproyeksikan pertumbuhan 2026 berada di kisaran 5,1–5,2 persen. Angka tersebut bisa terdongkrak lebih tinggi apabila tekanan eksternal mereda, iklim politik stabil, dan reformasi struktural mulai terasa dampaknya pada dunia usaha.

Namun risiko tetap ada. Keseimbangan antara kebijakan pro-pertumbuhan dan stabilitas makro menjadi kunci. Jika pengelolaan fiskal dan moneter tidak berjalan selaras, potensi perlambatan masih mungkin terjadi.

Meski demikian, modal ekonomi Indonesia saat ini dinilai cukup kuat untuk melanjutkan tren positif. Dengan daya beli yang terjaga dan investasi yang terus mengalir, optimisme menyongsong 2026 masih terbuka lebar.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru