Loading
Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, ASEAN Economist HSBC Global Pranjul Bhandari dalam acara bertajuk “Outlook Makro Ekonomi dan Prospek Investasi Indonesia 2026” di Jakarta, Senin (12/01/2025). (HSBC)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Kabar segar bagi Anda yang menantikan pelonggaran kebijakan moneter. Bank Indonesia (BI) diprediksi bakal lebih "berani" memangkas suku bunga acuannya sepanjang tahun 2026 ini.
Tak tanggung-tanggung, HSBC memproyeksikan adanya pemangkasan sebesar 75 basis poin (bps). Langkah ini diharapkan menjadi angin segar untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tantangan global yang masih dinamis.
Pemangkasan Bertahap: Kapan Jadwalnya?
Pranjul Bhandari, Managing Director sekaligus ASEAN Economist HSBC Global, mengungkapkan bahwa penurunan ini tidak akan terjadi sekaligus, melainkan secara bertahap dalam tiga fase utama.
"Perkiraan kami, akan ada tiga kali pemangkasan suku bunga yang masing-masing sebesar 25 bps. Jadi totalnya 75 bps seiring berjalannya tahun 2026," ujar Pranjul dalam acara Outlook Makro Ekonomi di Jakarta, Senin (12/1/2026).
Jika sesuai jadwal, kita bisa melihat penurunan suku bunga ini terjadi di setiap kuartal, mulai dari Kuartal I hingga Kuartal III-2026.
Mengapa Moneter Lebih "Seksi" dari Fiskal?
Ada alasan kuat mengapa BI memiliki ruang gerak yang lebih luas. Menurut Pranjul, kebijakan moneter saat ini jauh lebih efektif digunakan untuk memacu ekonomi dibandingkan kebijakan fiskal (anggaran negara).
Mengapa demikian? Karena per Desember 2025, defisit fiskal Indonesia tercatat sudah menyentuh angka 2,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini cukup mepet dengan batas aman undang-undang sebesar 3 persen.
"Indonesia punya kesempatan melakukan pelonggaran moneter yang lebih besar saat ini, daripada memaksakan pelonggaran fiskal," jelas Pranjul dikutip Antara.
Menunggu Momentum Dolar AS Melemah
Meski ada ruang besar, BI tentu tidak asal potong. Pranjul menekankan pentingnya sikap "oportunistik" atau jeli melihat peluang. Momen paling pas untuk menurunkan suku bunga adalah saat indeks dolar Amerika Serikat (AS) sedang melandai.
Ketika dolar melemah, mata uang negara berkembang seperti Rupiah akan terlihat lebih perkasa. Di situlah celah bagi Bank Indonesia untuk mengeksekusi pemangkasan suku bunga tanpa merusak stabilitas nilai tukar.
Tetap Optimis Meski Defisit Melebar
Menariknya, meski defisit anggaran sedikit melebar, HSBC menilai pemerintah tidak perlu terlalu khawatir. Program-program besar seperti skema makan gratis dan kesejahteraan sosial diprediksi tetap bisa berjalan aman.
Keyakinan ini muncul karena pendapatan pajak di tahun 2026 diperkirakan akan lebih baik seiring pulihnya ekonomi global. "Pemerintah bisa melanjutkan pengeluaran penting tanpa harus cemas berlebih soal defisit," pungkasnya.