Loading
Arsip foto - Guru Besar Ilmu Ekonomi Moneter Universitas Indonesia (UI) Telisa Aulia Falianty menyampaikan paparan dalam konferensi pers tentang analisis cukai minuman berpemanis di Antara Heritage Center, Jakarta, Kamis (19/12/2024). ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kemudahan perizinan dan kepastian regulasi dinilai menjadi faktor penting untuk meningkatkan minat investasi di Indonesia. Dengan iklim usaha yang lebih kondusif, target investasi nasional tahun 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun diyakini dapat tercapai.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, mengatakan pemerintah perlu bekerja lebih keras menghadapi tantangan global yang saat ini masih penuh ketidakpastian.
Menurut Telisa, reformasi perizinan, pengurangan praktik rent-seeking, hingga penguatan tata kelola investasi menjadi langkah penting agar Indonesia tetap menarik di mata investor internasional.
Ia menilai kondisi geopolitik global, perang yang belum mereda, hingga arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat membuat banyak investor masih bersikap wait and see.
“Ketidakpastian global membuat investor lebih berhati-hati. Karena itu Indonesia harus mampu menghadirkan kepastian aturan dan pelayanan yang lebih baik,” ujarnya di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Telisa juga mendorong penguatan Satgas Debottlenecking melalui sinergi antarkementerian dan lembaga agar hambatan investasi dapat diselesaikan lebih cepat. Selain itu, pelayanan publik di pusat dan daerah juga perlu semakin proinvestasi.
Menurutnya, Indonesia sebenarnya memiliki modal besar berupa pasar domestik yang kuat dan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil. Namun, investor juga ingin memastikan bahwa daya beli masyarakat benar-benar terjaga dan pertumbuhan ekonomi dirasakan hingga daerah.
“Kalau investor melihat pasar Indonesia benar-benar kuat dan masyarakat memiliki daya beli yang baik, maka investasi akan datang dengan sendirinya,” katanya.
Selain kepastian regulasi, Telisa menilai pemerintah perlu memperkuat kredibilitas kebijakan melalui skema government participation guarantee atau jaminan partisipasi pemerintah dalam proyek strategis. Langkah tersebut dianggap penting agar risiko investasi lebih terukur dan kepercayaan investor meningkat.
Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengatakan investasi menjadi salah satu motor utama untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen.
Menurut Rosan, kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional terus meningkat. Pada kuartal I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen dengan kontribusi investasi sekitar 31–32 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi.
Angka tersebut meningkat dibanding periode sebelumnya yang berada di kisaran 27–28 persen.
“Investasi memainkan peran yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Rosan dalam acara Kadin Monthly Economic Diplomatic Breakfast di Jakarta dikutip Antara.
Ia menjelaskan konsumsi domestik masih menjadi penopang utama ekonomi Indonesia, sementara investasi menjadi kontributor terbesar kedua.
Pemerintah sendiri menargetkan investasi nasional tahun 2026 mencapai Rp2.041,3 triliun sesuai Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2026. Target tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi menuju 8 persen dalam periode RPJMN 2025–2029.
Sepanjang triwulan I 2026, realisasi investasi Indonesia tercatat mencapai Rp498,8 triliun atau tumbuh 7,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Investasi tersebut juga berhasil menyerap 706.569 tenaga kerja.