Jumat, 02 Oktober 2026

Putin Sebut Barat Bangun Tirai Besi Baru, Rusia Soroti Isolasi Geopolitik


 Putin Sebut Barat Bangun Tirai Besi Baru, Rusia Soroti Isolasi Geopolitik Presiden Rusia Vladimir Putin. ANTARA/Xinhua

MOSKOW, ARAHKITA.COM - Presiden Rusia Vladimir Putin menuding negara-negara Barat tengah membangun kembali sekat geopolitik yang menyerupai “Tirai Besi” pada era Perang Dingin. Menurutnya, berbagai kebijakan pembatasan dan upaya mengisolasi Rusia justru memperlebar jurang perpecahan dalam hubungan internasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Putin dalam pidato pada sidang pleno pertemuan tahunan ke-23 Valdai International Discussion Club di Moskow, Kamis (1/10/2026).

Dalam forum yang mempertemukan sejumlah tokoh dan pemikir internasional itu, Putin menegaskan bahwa Rusia tidak memiliki kepentingan untuk menciptakan perpecahan di tengah masyarakat dunia. Sebaliknya, ia menilai negara-negara Barat sedang membangun penghalang baru melalui kebijakan politik, ekonomi, dan diplomatik.

Putin menyoroti berbagai pembatasan yang diberlakukan terhadap Rusia, termasuk sanksi ekonomi, pembatasan hubungan diplomatik, serta upaya membatasi keterlibatan Moskow dalam sejumlah organisasi internasional.

Menurut dia, kebijakan tersebut mencerminkan kecenderungan untuk mengisolasi Rusia dari pergaulan global. Ia pun mengingatkan bahwa pendekatan semacam itu tidak akan menghasilkan tatanan dunia yang stabil.

Belajar dari Sejarah Perang Dingin

Untuk memperkuat pandangannya, Putin mengangkat kembali pengalaman sejarah ketika dunia terbelah dalam dua blok besar selama Perang Dingin.

Istilah “Tirai Besi” sendiri merujuk pada pemisahan politik, ideologi, dan militer antara negara-negara Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur yang berada di bawah pengaruh Uni Soviet.

Menurut Putin, sejarah telah memperlihatkan bahwa membangun sekat ideologis dan geopolitik bukanlah jalan keluar dari persaingan antarnegara.

Ia menilai upaya membatasi hubungan internasional melalui pendekatan isolasionis hanya akan menciptakan persoalan baru. Dalam dinamika dunia yang semakin terhubung, penghalang semacam itu dinilai sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Putin juga menyinggung perubahan besar yang terjadi setelah runtuhnya Uni Soviet. Ia mengingatkan bahwa kegagalan mengelola perubahan politik dan hubungan antarnegara dapat membawa konsekuensi panjang bagi stabilitas internasional.

Keamanan Satu Negara Tidak Boleh Mengorbankan Negara Lain

Di luar kritik terhadap kebijakan Barat, Putin kembali mengangkat prinsip keamanan yang tidak terpisahkan atau indivisible security sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun tatanan dunia baru.

Prinsip tersebut menekankan bahwa keamanan suatu negara maupun kelompok negara tidak seharusnya dibangun dengan mengorbankan kepentingan keamanan pihak lain.

Dalam pandangannya, stabilitas global hanya dapat diwujudkan apabila setiap negara saling menghormati kepentingan keamanan dan kedaulatan masing-masing.

Putin juga menilai bahwa mekanisme hubungan internasional yang selama ini berjalan perlu menyesuaikan diri dengan perubahan keseimbangan kekuatan dunia. Ia mendorong pembentukan sistem global yang lebih mencerminkan kepentingan berbagai kawasan, termasuk Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah.

Ia turut menyinggung perlunya pembenahan lembaga internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), agar lebih mampu merepresentasikan perkembangan geopolitik saat ini.

Tatanan Dunia Multipolar Jadi Sorotan

Gagasan mengenai dunia multipolar menjadi salah satu tema penting dalam pidato Putin di forum Valdai tahun ini.

Menurutnya, dunia sedang bergerak menuju konfigurasi kekuatan yang tidak lagi didominasi satu kelompok negara. Perubahan tersebut, kata dia, membuka ruang bagi negara-negara lain untuk memainkan peran lebih besar dalam menentukan arah hubungan internasional.

Putin menyebut kerja sama antarnegara perlu dibangun melalui dialog, kompromi, dan penghormatan terhadap kepentingan bersama. Ia juga mengingatkan bahwa meningkatnya ketegangan, aksi saling membalas, serta penggunaan sanksi sebagai instrumen tekanan dapat memperbesar risiko konflik.

Pandangan tersebut muncul di tengah ketegangan Rusia dengan negara-negara Barat yang terus berlangsung, terutama berkaitan dengan perang Rusia-Ukraina dan berbagai kebijakan pembatasan terhadap Moskow.

Dalam laporan Reuters mengenai pidato yang sama, Putin juga memperingatkan negara-negara Barat agar tidak meningkatkan eskalasi konflik terkait Ukraina. Ia menRyatakan Rusia ingin hidup berdampingan secara damai dengan negara-negara Eropa, meskipun hubungan kedua pihak masih diwarnai ketegangan.

Berbagai pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa isu keamanan, persaingan geopolitik, dan perubahan tatanan dunia masih menjadi perhatian utama Moskow.

Bagi Putin, membangun hubungan internasional tidak cukup hanya dengan memperkuat posisi masing-masing negara. Diperlukan pula kesediaan untuk membuka ruang dialog dan menghindari kebijakan yang semakin memperdalam perpecahan.

Meski demikian, gagasan mengenai keamanan bersama dan tatanan dunia multipolar masih menghadapi tantangan besar. Perbedaan kepentingan antara Rusia, negara-negara Barat, dan kekuatan global lainnya menunjukkan bahwa membangun kesepahaman internasional bukan perkara sederhana.

Di tengah situasi tersebut, pernyataan Putin mengenai “Tirai Besi” baru kembali menempatkan masa depan hubungan Rusia dan Barat dalam sorotan. Pertanyaannya, apakah dunia mampu membangun pola kerja sama baru atau justru semakin terjebak dalam persaingan blok seperti yang pernah terjadi pada masa Perang Dingin?

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru