Loading
Vice President Director Prudential Indonesia Vikas Sinha menyampaikan sambutan pembuka dalam acara Risk Awareness Series 2026 di Jakarta. (Antara/HO/Prudential Indonesia)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Industri asuransi kesehatan di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan finansial. Namun di balik pertumbuhan tersebut, ancaman fraud atau kecurangan klaim juga semakin kompleks dan melibatkan berbagai pihak dalam ekosistem layanan kesehatan.
Melihat kondisi itu, Prudential Indonesia memperkuat langkah antisipasi fraud melalui penguatan tata kelola perusahaan dan pemanfaatan teknologi digital berbasis kecerdasan buatan (AI).
Vice President Director Prudential Indonesia, Vikas Sinha mengatakan industri asuransi kesehatan nasional masih memiliki potensi pertumbuhan besar karena tingkat inklusi yang relatif rendah. Namun di sisi lain, tantangan yang dihadapi perusahaan asuransi juga semakin rumit.
Menurutnya, keterlibatan banyak pihak dalam layanan kesehatan membuat risiko fraud meningkat signifikan, mulai dari manipulasi data hingga penyalahgunaan klaim.
“Fraud dalam asuransi kesehatan bukan hanya menimbulkan kerugian finansial, tetapi juga dapat menurunkan kepercayaan nasabah. Dalam jangka panjang, hal ini bisa melemahkan inklusi dan ketahanan keuangan masyarakat,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Rabu (27/5/2026).
Ia menegaskan penanganan fraud kini bukan lagi sekadar memenuhi regulasi, melainkan menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan industri asuransi kesehatan di Indonesia.
Sebagai bagian dari langkah preventif, Prudential Indonesia menggelar program tahunan Risk Awareness Series 2026. Program ini bertujuan meningkatkan literasi anti-fraud, memperkuat budaya sadar risiko di lingkungan perusahaan, serta menegaskan komitmen bisnis yang berintegritas.
Ketua Dewan Pengurus ACFE Indonesia Chapter, Hery Subowo mengungkapkan berdasarkan Hasil Survei Fraud Indonesia 2025, pola kecurangan dalam klaim kesehatan kini semakin beragam.
Beberapa modus yang banyak ditemukan antara lain manipulasi diagnosis, pengajuan klaim berulang, hingga penyalahgunaan identitas peserta layanan kesehatan.
Karena itu, ia menilai pelaku industri harus segera memperkuat sistem pencegahan fraud melalui kombinasi pengawasan manual dan teknologi digital.
“Strategi pencegahan fraud perlu dilakukan melalui verifikasi, audit, dan validasi klaim secara menyeluruh, disertai pemanfaatan AI, analitik data, dan sistem pemantauan real-time agar pola tidak wajar bisa terdeteksi lebih dini,” katanya.
Hal senada disampaikan Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum BPJS Kesehatan, Vetty Yulianty Permanasari. Ia mengungkapkan fraud di sektor layanan kesehatan masih menjadi tantangan serius.
Menurutnya, beberapa bentuk fraud yang kerap ditemukan meliputi klaim atas layanan yang tidak diberikan, penggunaan obat maupun alat kesehatan secara berlebihan, hingga penjiplakan klaim.
“Pencegahan fraud dilakukan secara menyeluruh melalui penguatan manajemen risiko, peningkatan kapasitas SDM, kepatuhan mitra, serta pemanfaatan data dan sistem deteksi agar potensi kecurangan bisa diidentifikasi sejak dini,” jelasnya dikutip Antara.
Sementara itu, Prudential Indonesia juga terus memperkuat sistem deteksi fraud dengan mengintegrasikan teknologi AI, otomatisasi, dan analitik data dalam proses pengelolaan klaim asuransi kesehatan.
Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko Prudential Indonesia, Maria Rosalinda menegaskan seluruh karyawan diharapkan memiliki pemahaman dan kewaspadaan yang sama dalam mengenali potensi fraud.
“Ini menjadi fondasi penting untuk membangun ekosistem asuransi kesehatan yang bersih, berkelanjutan, dan terpercaya bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya.