Airlangga: Kenaikan BI Rate Jadi Sinyal Kuat Jaga Rupiah dan Stabilitas Ekonomi Indonesia


 Airlangga: Kenaikan BI Rate Jadi Sinyal Kuat Jaga Rupiah dan Stabilitas Ekonomi Indonesia Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keterangan kepada wartawan di Jakarta, Selasa (9/6/2026). (ANTARA/Aria Ananda)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kebijakan tersebut memberikan sinyal kuat kepada pelaku pasar bahwa Indonesia tetap responsif dalam menghadapi berbagai tekanan ekonomi dunia, termasuk gejolak nilai tukar dan ketidakpastian geopolitik.

Menurut Airlangga, respons pasar terhadap kenaikan BI Rate sejauh ini menunjukkan hasil yang cukup positif. Penguatan rupiah dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi indikator bahwa kebijakan tersebut diterima dengan baik oleh investor.

"BI Rate naik karena yang diutamakan adalah stabilitas. Dengan kenaikan tersebut terlihat respons pasar cukup baik. IHSG masuk zona hijau dan rupiah juga mengalami penguatan," ujar Airlangga di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Pada penutupan perdagangan Selasa, nilai tukar rupiah tercatat menguat 130 poin atau sekitar 0,71 persen menjadi Rp18.058 per dolar Amerika Serikat dari posisi sebelumnya Rp18.188 per dolar AS.

Sementara itu, IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) juga ditutup menguat signifikan. Indeks naik 404,51 poin atau sekitar 7,57 persen ke level 5.746,65.

Sebelumnya, Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin sebagai bagian dari upaya memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah sekaligus menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan.

Bank sentral menilai pelemahan rupiah telah bergerak melampaui proyeksi awal sehingga diperlukan kebijakan lanjutan untuk menjaga kepercayaan pasar dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Airlangga menegaskan bahwa langkah tersebut dipandang positif oleh pasar karena menunjukkan kesiapan Indonesia dalam merespons dinamika ekonomi global yang berubah dengan cepat.

"Market melihat Indonesia cukup responsif terhadap berbagai gejolak dan situasi yang berkembang saat ini," katanya.

Meski menghadapi tantangan global, pemerintah tetap optimistis terhadap kondisi ekonomi nasional. Airlangga menilai fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang kuat, ditopang oleh kinerja ekspor yang solid serta indikator makroekonomi yang relatif terjaga.

Ia juga menyoroti capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap kuat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Selain faktor domestik, Airlangga mengungkapkan bahwa sejumlah negara mitra turut memberikan pandangan positif terhadap prospek ekonomi Indonesia. Salah satunya adalah Singapura yang menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh.

Menurutnya, pemerintah Singapura juga memberikan apresiasi terhadap sejumlah kebijakan ekonomi yang diterapkan Indonesia, termasuk kebijakan ekspor satu pintu yang dinilai mampu meningkatkan efisiensi dan daya saing perdagangan nasional.

"Singapura melihat fundamental Indonesia kuat dan mengapresiasi berbagai kebijakan yang diambil pemerintah untuk kepentingan nasional, termasuk kebijakan ekspor satu pintu," ujarnya.

Di sisi lain, Airlangga menyoroti perhatian dunia terhadap ketahanan rantai pasok global yang saat ini menghadapi tekanan akibat konflik dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Dalam situasi tersebut, Indonesia dinilai memiliki posisi yang cukup strategis, terutama di sektor pupuk. Indonesia masih mampu mengekspor sekitar 1,5 juta ton urea ke berbagai negara di kawasan sehingga berkontribusi menjaga pasokan regional.

"Indonesia merupakan salah satu produsen pupuk terbesar di ASEAN," kata Airlangga dikutip Antara.

Dengan fundamental ekonomi yang tetap kuat, pertumbuhan yang terjaga, serta langkah kebijakan yang responsif dari pemerintah dan Bank Indonesia, Indonesia dinilai memiliki modal yang cukup untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global sepanjang tahun 2026.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru