Loading
Pengunjung mengamati produk unggulan kerajinan fesyen lokal yang dijual di galeri produk UMKM Balai Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (15/6/2026). ANTARA FOTO/Maulana Surya/kye.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan tensi geopolitik dunia, industri kreatif Indonesia justru dinilai memiliki peluang besar untuk tetap tumbuh dan bertahan.
Direktur Kajian dan Manajemen Strategis Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf), Agus Syarip Hidayat, menegaskan bahwa sektor ekonomi kreatif berbasis kreativitas manusia memiliki tingkat ketahanan atau resiliensi yang lebih tinggi dibanding sektor yang bergantung pada bahan baku dan rantai pasok global.
Menurut Agus, berdasarkan peta tujuh subsektor prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Presiden Prabowo serta hasil pembahasan bersama Komisi VII DPR RI, UMKM dan ekonomi kreatif berpotensi menjadi penyangga ekonomi nasional di tengah eskalasi geopolitik dunia.
“Subsektor ini paling resilien karena nilai tambahnya berasal dari talenta manusia dan kreativitas, bukan dari bahan baku impor. Karena itu, dampaknya relatif kecil terhadap tarif perdagangan, embargo, maupun gangguan rantai pasok global,” ujar Agus dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Beberapa subsektor yang dinilai paling siap menghadapi tekanan global antara lain industri gim, aplikasi digital, dan animasi. Ketiganya bertumpu pada kemampuan sumber daya manusia sehingga tidak terlalu bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri.
Selain itu, subsektor berbasis kekayaan intelektual seperti musik, film, dan konten digital juga memiliki prospek yang sangat menjanjikan. Pendapatan dari royalti dinilai mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan bagi para pelaku kreatif di Indonesia.
Potensi tersebut terlihat dari meningkatnya apresiasi terhadap karya lokal. Sepanjang 2025, lebih dari 90 persen pelanggan Netflix Indonesia tercatat menonton konten lokal, sementara 35 tayangan Indonesia berhasil menembus daftar Top 10 Global Netflix. Capaian ini turut mendorong nilai pasar industri kreator konten nasional hingga mencapai sekitar Rp1.000 triliun.
Bahkan, pertumbuhan jumlah kreator diperkirakan bisa meningkat empat hingga lima kali lipat dalam lima tahun mendatang.
Agus menjelaskan, aset kreatif berbentuk kekayaan intelektual memiliki risiko rantai pasok yang sangat minim sekaligus membuka peluang royalti internasional yang besar. Karena itu, Kemenekraf terus aktif mendorong tata kelola royalti yang lebih adil bagi kreator Indonesia melalui berbagai forum internasional, termasuk World Intellectual Property Organization (WIPO).
Di sisi lain, subsektor kuliner, fesyen, dan kriya tetap menjadi tulang punggung ekonomi kreatif nasional. Ketiga sektor tersebut mencatatkan nilai ekspor mencapai 26,68 miliar dolar AS selama periode Januari hingga Oktober 2025.
Sementara itu, sektor ekonomi kreatif berbasis pariwisata dan wellness juga masih menunjukkan daya tarik yang kuat bagi investor maupun wisatawan mancanegara. Karakteristiknya yang unik dan berbasis budaya membuat sektor ini relatif tangguh menghadapi berbagai guncangan ekonomi global.
Untuk memperkuat daya saing pelaku ekonomi kreatif, Kemenekraf menjalankan sejumlah program strategis yang langsung menyentuh masyarakat. Program tersebut mencakup peningkatan standar kualitas produk agar setara dengan pasar internasional, sertifikasi ekspor, pengemasan profesional, hingga penguatan identitas merek.
“Tujuannya bukan sekadar menjual lebih banyak produk, tetapi meningkatkan nilai jual produk Indonesia di pasar global,” kata Agus dikutip Antara.
Pemerintah juga memperluas akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi sekitar 170 ribu unit usaha ekonomi kreatif mikro dengan proyeksi penyaluran mencapai Rp40 triliun per tahun. Selain itu, pelaku usaha mendapatkan pelatihan digital, fasilitasi sertifikasi, serta peluang business matching melalui platform Ekrafhub.
Kemenekraf mendorong para pelaku ekonomi kreatif untuk terus menjaga kualitas produk secara berkelanjutan, mengantongi sertifikasi internasional, memanfaatkan pemasaran digital, serta mengembangkan diferensiasi produk yang mengangkat kekayaan budaya Indonesia.
Selain memperluas pasar ekspor ke kawasan ASEAN, pemerintah juga terus menggalakkan hilirisasi produk lokal guna mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku, memperkuat rantai nilai dalam negeri, dan meningkatkan efisiensi biaya produksi.
Di tengah berbagai tantangan global, kreativitas terbukti bukan hanya menjadi sumber inovasi, tetapi juga modal penting bagi Indonesia untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.