Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian. (Net)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) dinilai bukan sekadar upaya menarik lebih banyak investasi asing. Yang jauh lebih penting, PFII harus mampu memastikan perputaran dana dalam mata uang dolar Amerika Serikat (AS) tetap berlangsung di dalam negeri sehingga memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, mengatakan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) PFII merupakan langkah strategis untuk meningkatkan daya saing Indonesia sebagai tujuan investasi sekaligus memperdalam sektor keuangan nasional.
Namun, menurutnya, ukuran keberhasilan PFII tidak cukup hanya dilihat dari besarnya modal asing yang masuk ke Indonesia.
"Yang terpenting adalah bagaimana Indonesia mampu mempertahankan perputaran dana valuta asing agar tetap berada dalam sistem keuangan domestik," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (5/7/2026).
Menurut Fakhrul, selama aktivitas perputaran dolar atau dollar loop masih lebih banyak terjadi di luar negeri, likuiditas valuta asing di Indonesia akan tetap terbatas. Kondisi tersebut membuat nilai tukar rupiah lebih mudah terpengaruh oleh gejolak ekonomi global.
Ia menjelaskan, tantangan ini tidak hanya dihadapi Indonesia. Banyak negara juga berupaya agar devisa hasil ekspor, tabungan masyarakat, maupun dana investasi tidak terus mengalir ke pusat-pusat keuangan internasional.
Sebagai contoh, Korea Selatan terus melakukan reformasi pasar valuta asing sekaligus mengembangkan Seoul sebagai pusat keuangan internasional. Langkah tersebut bertujuan agar semakin banyak aktivitas keuangan global dapat dilakukan langsung dari dalam negeri.
Fakhrul menilai Indonesia memiliki peluang yang sama melalui PFII. Dengan ekosistem yang kredibel dan berstandar internasional, PFII dapat menjadi pusat aktivitas keuangan berbagai pelaku ekonomi, mulai dari eksportir, investor institusi, dana pensiun, sovereign wealth fund, hingga investor global.
Melalui PFII, berbagai aktivitas seperti penyimpanan dana, pembiayaan, transaksi lindung nilai (hedging), hingga perdagangan berbagai instrumen keuangan diharapkan dapat dilakukan dari Indonesia.
Menurut Fakhrul, inilah yang menjadi fondasi terbentuknya ekosistem dolar domestik (domestic dollar ecosystem).
"Ketika devisa hasil ekspor, tabungan residen, dan dana investasi dapat terus berputar di Indonesia, stabilitas nilai tukar akan lebih kuat, biaya pendanaan menjadi lebih efisien, dan ketahanan ekonomi nasional ikut meningkat," katanya dikutip Antara.
Apabila dirancang secara tepat, PFII berpotensi menjadi salah satu pilar penting dalam memperkuat sektor keuangan Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing nasional di tengah persaingan pusat-pusat keuangan internasional di kawasan Asia.