Rupiah Melemah ke Rp18.066 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak Jadi Pemicu


 Rupiah Melemah ke Rp18.066 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak Jadi Pemicu Rupiah Melemah ke Rp18.066 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak Jadi Pemicu. (Kontan)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat pelaku pasar memilih aset yang dinilai lebih aman, sehingga mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan. Kenaikan harga minyak dunia serta kekhawatiran terhadap inflasi di Amerika Serikat juga memperbesar tekanan terhadap pergerakan rupiah.

Pada perdagangan Kamis (9/7/2026) pagi, rupiah melemah 52 poin atau 0,29 persen menjadi Rp18.066 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp18.014 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat memanasnya situasi di Timur Tengah.

"Rupiah melemah bersama mayoritas mata uang Asia seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menekan sentimen risiko di kawasan," ujar Josua kepada Antara di Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Konflik Timur Tengah Tekan Sentimen Pasar

Menurut Josua, eskalasi dipicu oleh serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran yang kembali meredupkan harapan tercapainya kesepakatan damai di kawasan.

Situasi tersebut juga memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia. Jika gangguan terus berlanjut, pasokan energi global berpotensi terganggu dan mendorong harga minyak semakin tinggi.

Di sisi lain, Amerika Serikat juga mencabut konsesi penting yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyak ke pasar internasional. Kebijakan ini diperkirakan akan memperketat pasokan minyak dunia dalam beberapa pekan mendatang.

Harga Minyak Naik, Rupiah Kian Tertekan

Meningkatnya ketegangan geopolitik membuat harga minyak mentah dunia melonjak hingga menembus 75 dolar AS per barel. Kondisi tersebut biasanya memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, karena meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi dan biaya impor energi.

Tak hanya itu, pasar juga mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) periode Juni 2026. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa para pejabat bank sentral Amerika Serikat masih mengkhawatirkan tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.

Sentimen tersebut memperkuat ekspektasi bahwa kebijakan moneter AS akan tetap ketat, sehingga dolar AS cenderung menguat terhadap berbagai mata uang dunia dikutip Antara.

Proyeksi Pergerakan Rupiah

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen global tersebut, Josua memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak dalam kisaran Rp17.975 hingga Rp18.125 per dolar AS.

Pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, serta arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat sebagai faktor utama yang memengaruhi nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru