IHSG Berpotensi Bergerak Sideways, Investor Pantau The Fed, AI hingga Sentimen Timur Tengah


 IHSG Berpotensi Bergerak Sideways, Investor Pantau The Fed, AI hingga Sentimen Timur Tengah IHSG Berpotensi Bergerak Sideways, Investor Pantau The Fed, AI hingga Sentimen Timur Tengah. (Antaranews)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berada dalam fase sideways pada perdagangan Kamis (16/7/2026). Pelaku pasar masih menimbang berbagai sentimen, mulai dari meredanya tekanan inflasi di Amerika Serikat, perkembangan kecerdasan buatan (AI), hingga meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Di sisi lain, dari dalam negeri investor juga mencermati rencana pemerintah membangun Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) serta meningkatnya porsi kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) oleh Bank Indonesia. Kombinasi faktor global dan domestik tersebut diperkirakan akan menentukan arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek.

Pada awal perdagangan, IHSG dibuka menguat 28,51 poin atau 0,47 persen ke level 6.068. Sementara Indeks LQ45 ikut naik 2,61 poin atau 0,44 persen ke posisi 601,50.

IHSG Masih Berpeluang Menguat Terbatas

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, mengatakan investor sebaiknya tetap mengikuti arah tren pasar sambil menerapkan strategi trailing stop untuk mengamankan keuntungan yang telah diperoleh.

Menurutnya, penambahan posisi secara bertahap atau averaging up dapat dilakukan apabila IHSG mampu bertahan di atas level 5.987 dan melanjutkan penguatan menuju area resistance 6.121 hingga 6.171.

Inflasi AS Mereda, Peluang Kenaikan Suku Bunga Makin Kecil

Dari pasar global, sentimen positif datang dari data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat periode Juni 2026. Inflasi produsen tercatat lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sehingga memperkuat keyakinan bahwa tekanan inflasi mulai mereda.

Kondisi tersebut membuat peluang kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan akhir Juli diperkirakan hanya sekitar 10 persen.Menurut Liza, perhatian investor kini mulai bergeser ke musim laporan keuangan kuartal II, terutama kinerja perusahaan teknologi dan sektor AI yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pasar berikutnya.

AI Mulai Masuk Pertimbangan Kebijakan Moneter

Menariknya, Ketua The Fed Kevin Warsh menilai perkembangan teknologi kecerdasan buatan berpotensi meningkatkan permintaan terhadap komponen teknologi, khususnya chip.

Lonjakan permintaan tersebut dikhawatirkan dapat mendorong kenaikan harga dan memicu tekanan inflasi dalam beberapa kuartal mendatang. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan AI kini mulai menjadi salah satu variabel yang diperhatikan dalam perumusan kebijakan moneter.

Geopolitik Timur Tengah Kembali Memanas

Pasar juga masih dibayangi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran.

Situasi semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan memperluas operasi militer apabila Iran tidak kembali ke meja perundingan.Menurut Liza, eskalasi konflik tersebut meningkatkan premi risiko geopolitik sekaligus mendorong kenaikan harga minyak dunia.

PFII Jadi Harapan Baru Pasar Keuangan Indonesia

Dari dalam negeri, pemerintah tengah menyiapkan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) sebagai kawasan keuangan bertaraf global.

Pemerintah menawarkan berbagai insentif, mulai dari tarif pajak hingga 0 persen selama maksimal 50 tahun, kepastian hukum, hingga penyederhanaan regulasi guna menarik investor internasional.

PFII juga diharapkan mampu meningkatkan daya saing Indonesia terhadap pusat keuangan seperti Singapura, Dubai, dan Labuan, sekaligus menarik kembali investasi yang selama ini ditempatkan melalui special purpose vehicle (SPV) di luar negeri.

Kawasan tersebut nantinya akan menjadi tempat berdirinya berbagai lembaga jasa keuangan, seperti investment bank, perusahaan asuransi, dana pensiun, dan institusi keuangan lainnya dikutip Antara.

Peran BI di Pasar Obligasi Semakin Besar

Di sisi lain, porsi kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) oleh Bank Indonesia terus meningkat menjadi 27,41 persen per 10 Juli 2026, dibandingkan 22,61 persen pada akhir 2025.

Sebaliknya, kepemilikan oleh perbankan maupun investor asing justru mengalami penurunan.

Menurut Liza, kondisi ini menunjukkan peran BI yang semakin besar dalam menjaga stabilitas pasar obligasi di tengah lemahnya permintaan investor.

Meski mampu meredam volatilitas pasar, kondisi tersebut juga mencerminkan meningkatnya ketergantungan pembiayaan pemerintah terhadap bank sentral. Hal itu terlihat dari imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun yang masih berada di level 7,28 persen.

Bursa Global Bergerak Variatif

Pada perdagangan Rabu (15/7), bursa saham global bergerak beragam.

Di Eropa, Euro Stoxx 50 turun 0,15 persen, FTSE 100 Inggris melemah 0,13 persen, DAX Jerman terkoreksi 0,59 persen, sedangkan CAC 40 Prancis naik 0,19 persen.

Wall Street juga ditutup bervariasi. Indeks S&P 500 menguat 0,38 persen, Dow Jones naik 0,29 persen, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 0,28 persen.

Adapun bursa Asia pada perdagangan pagi ini juga bergerak campuran. Indeks Nikkei turun 2,69 persen, Shanghai melemah 0,52 persen, Hang Seng menguat 1,67 persen, sedangkan Strait Times turun 0,40 persen.

 

 

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru