Kegiatan nobar pertandingan Piala Dunia 2026 Portugal Vs Kroasia di Palembang, Jumat (3/7/2026). (ANTARA/M Imam Pramana)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Piala Dunia 2026 ternyata tidak hanya menghadirkan euforia sepak bola bagi masyarakat Indonesia. Di balik gegap gempita pertandingan, ajang olahraga terbesar di dunia ini juga menjadi penggerak roda ekonomi nasional dengan nilai yang sangat besar.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mencatat, aktivitas yang berkaitan dengan Piala Dunia 2026 menghasilkan perputaran ekonomi langsung maupun tidak langsung hingga Rp5,03 triliun. Dampaknya dirasakan oleh berbagai sektor, mulai dari perusahaan besar hingga pelaku UMKM di berbagai daerah.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pemberdayaan Ekonomi Daerah, Kukrit Suryo, mengatakan nilai tersebut berasal dari rangkaian aktivitas ekonomi sejak masa persiapan hingga penyelenggaraan turnamen.
Perputaran ekonomi itu mencakup belanja iklan dan penyiaran televisi, sponsorship, promosi produk, peningkatan penjualan perangkat elektronik dan merchandise, hingga transaksi di sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka).
Tak hanya itu, kegiatan nonton bareng (nobar), Festival Rakyat 2026, hingga penjualan produk UMKM juga ikut memberikan kontribusi besar terhadap geliat ekonomi selama turnamen berlangsung.
Menurut Kukrit, Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa sebuah ajang olahraga internasional mampu memberikan dampak ekonomi yang luas, tidak hanya bagi perusahaan besar, tetapi juga bagi pelaku usaha kecil dan masyarakat.
"Piala Dunia 2026 menjadi contoh bagaimana sebuah ajang olahraga internasional mampu menggerakkan aktivitas ekonomi lintas sektor," ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Ia menambahkan, keberhasilan tersebut lahir dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, lembaga penyiaran, pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga masyarakat.
Belanja Iklan hingga Horeka Jadi Penyumbang Terbesar
Berdasarkan perhitungan Kadin, nilai ekonomi Rp5,03 triliun berasal dari beberapa sektor utama, yaitu:
Selain dampak langsung tersebut, Kadin juga melihat adanya efek pengganda (multiplier effect) yang akan terus berlanjut.
Meningkatnya aktivitas ekonomi selama Piala Dunia mendorong pelaku usaha berinvestasi pada televisi, proyektor, set-top box, sistem audio, penambahan kapasitas tempat duduk, hingga fasilitas makanan dan minuman.
Menurut Kukrit, kondisi ini sejalan dengan pertumbuhan sektor akomodasi, makanan, dan minuman yang pada Triwulan I 2026 tumbuh 13,14 persen secara tahunan, menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tertinggi.
Nobar Jadi Mesin Penggerak UMKM
Besarnya dampak ekonomi juga diperkuat hasil survei Lokadata yang dilakukan pada 7–13 Juli 2026.
Chief Data Officer Lokadata, Suwandi Ahmad, mengatakan antusiasme masyarakat mengikuti Piala Dunia ikut menciptakan perputaran uang hingga ke tingkat komunitas.
Hasil survei menunjukkan 78,1 persen responden mengikuti kegiatan nonton bareng setidaknya satu kali selama turnamen.
Rata-rata pengeluaran masyarakat mencapai Rp51 ribu setiap kali nobar, atau sekitar Rp145 ribu per orang selama penyelenggaraan Piala Dunia.
Sebagian besar dana tersebut digunakan untuk membeli makanan dan minuman, paket data internet, serta berbagai kebutuhan pendukung lainnya.
"Sebagian besar pengeluaran itu digunakan untuk membeli makanan dan minuman, paket data, serta berbagai kebutuhan pendukung lainnya, sehingga manfaat ekonominya banyak dirasakan oleh pelaku UMKM," kata Suwandi dikutip Antara.
Dengan besarnya antusiasme masyarakat, Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi pesta sepak bola dunia, tetapi juga menjadi momentum yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui konsumsi, investasi, dan peningkatan aktivitas usaha di berbagai sektor.