Jumat, 11 September 2026

IHSG Diproyeksi Melemah, Investor Pilih Tunggu Keputusan The Fed dan Arah Baru Bank Indonesia


 IHSG Diproyeksi Melemah, Investor Pilih Tunggu Keputusan The Fed dan Arah Baru Bank Indonesia Pekerja mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan IHSG. (Net)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berada dalam tekanan pada awal pekan ini. Pelaku pasar memilih bersikap wait and see sambil menantikan hasil rapat bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), yang diyakini akan menjadi penentu arah pasar keuangan global.

Pada pembukaan perdagangan Senin (27/7/2026), IHSG turun 10,63 poin atau 0,17 persen ke level 6.185,80. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga melemah 2,07 poin atau 0,34 persen ke posisi 612,72.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, memperkirakan IHSG bergerak dalam kisaran support 6.060 dan resistance 6.300.

Menurutnya, selama indeks masih mampu bertahan di atas level support tersebut, pelemahan yang terjadi masih tergolong koreksi yang wajar sebagai respons terhadap berbagai sentimen pasar.

Harga Minyak Turun, Jadi Angin Segar bagi Indonesia

Di tengah tekanan global, Hendra melihat masih ada kabar positif yang berpotensi menahan laju pelemahan IHSG, yakni turunnya harga minyak mentah dunia.

Harga minyak Brent yang sebelumnya sempat mendekati 100 dolar AS per barel kini turun sekitar 4,5 persen ke kisaran 87 dolar AS per barel.

Penurunan harga minyak dinilai dapat meredakan kekhawatiran terhadap inflasi global, mengurangi tekanan kenaikan suku bunga bank sentral, sekaligus menekan biaya energi bagi dunia usaha.

Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak, kondisi ini juga berpotensi memberikan dampak positif terhadap inflasi domestik, neraca perdagangan, hingga menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Fokus Investor Tertuju pada The Fed

Meski demikian, perhatian utama investor tetap tertuju pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung pada 28–29 Juli 2026.

Keputusan mengenai arah suku bunga acuan The Fed diperkirakan akan memengaruhi arus modal global, termasuk ke pasar negara berkembang seperti Indonesia dikutip Antara.

Selain The Fed, pasar juga akan mencermati sejumlah agenda penting lainnya, antara lain:

  • Kebijakan suku bunga Bank of Japan (BoJ) dan Bank of England (BoE).

  • Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat.

  • Pertumbuhan ekonomi AS kuartal II-2026.

  • Data durable goods orders AS.

  • Rapat Politbiro China.

  • Data PMI manufaktur China.

Seluruh agenda tersebut diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan pasar keuangan sepanjang pekan.

Pengunduran Diri Perry Warjiyo Jadi Sorotan

Dari dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada kabar pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia.

Meski menjadi perhatian pasar, Hendra menilai kekhawatiran investor masih relatif terbatas karena Destry Damayanti telah ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur BI.

Menurutnya, Destry merupakan bagian dari tim yang selama ini merumuskan kebijakan moneter Bank Indonesia sehingga pasar memperkirakan tidak akan terjadi perubahan kebijakan secara drastis selama masa transisi.

Hal itu juga tercermin dari pergerakan nilai tukar rupiah yang masih relatif stabil di kisaran Rp17.953 per dolar AS, atau hanya melemah sekitar 0,23 persen.

"Bagi investor, posisi Gubernur BI sangat strategis karena berkaitan langsung dengan kebijakan suku bunga, stabilitas nilai tukar, pengendalian inflasi, hingga kebijakan makroprudensial yang berdampak pada pasar obligasi maupun IHSG," ujar Hendra.

Bursa Global Beragam

Dari pasar global, bursa saham Eropa berhasil ditutup menguat pada perdagangan Jumat (24/7).

Indeks Euro Stoxx 50 naik 1,14 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,91 persen, DAX Jerman bertambah 1,36 persen, sementara CAC 40 Prancis naik 0,88 persen.

Sebaliknya, Wall Street ditutup bervariasi. Dow Jones Industrial Average menguat 0,46 persen, S&P 500 naik tipis 0,05 persen, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 1,15 persen.

Kombinasi sentimen global, keputusan bank sentral, serta perkembangan kebijakan ekonomi di dalam negeri diperkirakan masih akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan IHSG dalam beberapa hari ke depan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru