Reli Mata Uang Pasar Berkembang Hanya Sementara, USD Sentuh Level Tertinggi 2018


 Reli Mata Uang Pasar Berkembang Hanya Sementara, USD Sentuh Level Tertinggi 2018 Jameel Ahmad, Global Head of Currency Strategy & Market Research FXTM. (Youtube)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Relief rally yang memungkinkan mata uang pasar berkembang untuk mencoba stabil pasca reaksi sangat bergejolak terhadap krisis Lira Turki sepertinya hanya berlangsung sementara.

Jameel Ahmad, Global Head of Currency Strategy & Market Research FXTM menjelaskan bahwa sebagian besar mata uang pasar berkembang Asia melemah pada saat laporan ini dituliskan, karena ketegangan politik antara Turki dan Amerika Serikat terus memanas dan Dolar mencapai level tertinggi baru di tahun 2018.

"Depresiasi mata uang pasar berkembang sepertinya akan meluas ke wilayah Eropa, Timur Tengah, dan Afrika saat pasar Eropa dibuka hari ini, dan kemungkinan juga ke pasar FX Amerika Latin saat Wall Street dibuka,"ungkap Jameel.

Satu-satunya mata uang pasar berkembang yang tidak melemah adalah Rupee India kata Jameel justru sedikit menguat terhadap Dolar AS setelah menyentuh level terendah baru di awal pekan ini.

Mengingat bahwa Dolar menguat terhadap sebagian besar mata uang lainnya setelah mencapai level tertinggi baru di tahun 2018, lata Jameel ada kecurigaan pasar bahwa Bank Sentral India (RBI) mungkin telah melakukan intervensi pasar FX untuk memperkuat Rupee. Bank Indonesia (BI) baru saja meningkatkan suku bunga sebagai upaya mencegah Rupiah untuk merosot lebih rendah lagi.

"Upaya BI sebelumnya untuk mengubah kebijakan moneter tidak diterima oleh investor, terutama karena aksi beli USD yang terus berlanjut,"kata Jameel.

Lebih lanjut Jameel mengatakan Lira Turki masih terus terombang-ambing tapi tampaknya mencoba untuk kembali menguat terhadap Dolar AS untuk hari ketiga berturut-turut setelah krisis Lira Turki menyedot perhatian dunia.

"Lira menguat walaupun Turki meningkatkan tarif impor terhadap berbagai produk AS. Menarik untuk kita pantau apakah pemerintahan Trump akan memberi tanggapan yang mengguncang pasar,"paparnya.

Memburuknya ketegangan dagang dan diplomatik antara Amerika Serikat dan Turki menurut Jameel mengingatkan pasar bahwa perang dagang global bukan hanya melibatkan Amerika Serikat dan Tiongkok. Ada banyak ekonomi lainnya di seluruh dunia yang merasa terganggu oleh proteksionisme pemerintahan Trump.

Satu pertanyaan yang muncul dan harus diperhatikan investor di saat Dolar mencapai rekor tertinggi baru tahun 2018 - seberapa lama reli Dolar dapat berlanjut?

Dolar yang menguat tambah Jameel, bertolak belakang dengan keinginan pemerintahan Trump, dan ada argumen bahwa ini mengurangi stimulus fiskal yang diusung Trump bersama kebijakan proteksionisme karena harga impor ke Amerika Serikat menjadi meningkat.

"Saya akan sangat terkejut jika Presiden Trump tidak mengemukakan ketidakpuasannya atas apresiasi USD di waktu dekat,"pungkas Jameel.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru