Loading
Ilustrasi - Bendera Uni Eropa Antaranews. Wikimedia Commons)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Eropa kembali memuncak. Kali ini, pemicunya bukan soal perang di Timur Tengah atau krisis energi, melainkan perkara yang terdengar “tidak biasa”: Greenland.
Namun dampaknya sangat serius—hingga membuat Uni Eropa mulai mempertimbangkan langkah balasan yang selama ini dikenal sebagai “bazooka” perdagangan.Eropa pertimbangkan senjata dagang terkuat
Menurut laporan yang dikutip dari CNBC Daily Open, sejumlah negara Eropa disebut tengah membuka opsi untuk memakai Instrumen Anti-Paksaan (Anti-Coercion Instrument/ACI), perangkat hukum dagang yang bisa digunakan Uni Eropa saat ada pihak luar melakukan pemaksaan ekonomi.
Dalam rapat darurat di Brussels pada Minggu sore waktu setempat, Prancis dilaporkan mendorong Uni Eropa agar benar-benar menggunakan instrumen tersebut.ACI bukan sekadar tarif balasan biasa. Kalau diaktifkan, Uni Eropa dapat mengambil tindakan luas—mulai dari pembatasan pasar perdagangan dan keuangan, hingga merambah ke isu yang lebih “sensitif”, seperti:
Dengan kata lain, ACI bukan gertakan kosong. Ia adalah paket langkah yang bisa membuat hubungan dagang dua blok ekonomi terbesar dunia makin panas.Trump ancam tarif jika kesepakatan Greenland tak terjadi
Sumber yang sama menyebutkan, pemicu utama situasi ini adalah ancaman Presiden AS Donald Trump yang dikabarkan akan memberlakukan tarif kepada delapan negara Eropa, bila tidak tercapai kesepakatan terkait “penjualan Greenland”.
Di saat bersamaan, Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan. Ia menyatakan bahwa ancaman terbaru AS—termasuk tarif—tidak akan mengubah sikap pemerintahan mandiri di pulau itu.
Pernyataan ini mempertegas bahwa Greenland tidak melihat ancaman tarif sebagai sesuatu yang bisa membuat mereka goyah.
Uni Eropa Siapkan Tarif Balasan €93 Miliar
Sebagai respons, Uni Eropa dilaporkan sedang mengkaji paket tarif balasan senilai €93 miliar atau sekitar US$108 miliar. Jika benar diterapkan, ini bisa menjadi salah satu eskalasi dagang terbesar sejak gelombang tarif era Trump pada periode sebelumnya.
Namun tidak semua negara anggota UE sepakat. Jerman disebut cenderung berhati-hati karena ekonominya sangat bergantung pada ekspor. Analis menilai Berlin masih memilih strategi yang lebih “dingin”, supaya perang dagang tidak menghantam industri mereka sendiri.
Industri Otomotif hingga Barang Mewah Paling Terpapar
Masalahnya, apa pun keputusan UE nanti, tarif Trump sulit dihindari dampaknya. Sektor yang disebut paling rentan mencakup:
Kombinasi dari nama besar ini menunjukkan satu hal: kalau perang dagang membesar, yang terguncang bukan hanya politisi, melainkan juga rantai produksi global dan harga pasar internasional.
Pasar Langsung Bereaksi: Saham Turun, Emas-Perak Terbang
Begitu kabar potensi “bazooka” dagang itu menyebar, pasar pun langsung merespons.Kontrak berjangka saham AS mengindikasikan Dow Jones berpotensi dibuka turun lebih dari 300 poin. Di Eropa, indeks Stoxx 600 jatuh karena saham-saham otomotif terpukul.
Sebaliknya, investor menyerbu aset yang dianggap aman. Emas dan perak melesat, bahkan menyentuh titik tertinggi baru—hanya beberapa hari setelah sama-sama memecahkan rekor sebelumnya.
Dan ini disebut baru reaksi putaran awal. Jika UE benar-benar membalas, para analis memperkirakan efeknya akan jauh lebih besar dan lebih luas.
Pertarungan Belum Selesai—Justru Bisa Makin Panas
Situasi ini menempatkan Eropa pada dilema besar:bertahan dan terlihat lemah di hadapan tekanan tarif, atau membalas dengan senjata ekonomi yang bisa memperparah perang dagang.
Satu hal yang pasti: Greenland kini bukan sekadar pulau di kawasan Arktik. Ia telah berubah menjadi titik api geopolitik—yang menggoyang bursa saham dan memaksa dunia menghitung ulang risiko global.