Senin, 26 Januari 2026

Kanada Ditekan AS, Trump Siap Kenakan Tarif 100 Persen Jika Gandeng China


 Kanada Ditekan AS, Trump Siap Kenakan Tarif 100 Persen Jika Gandeng China Arsip foto - Presiden AS Donald Trump (dua kiri) menyambut Perdana Menteri Kanada Mark Carney (dua kanan) di Gedung Putih di Washington, D.C., Amerika Serikat (6/5/2025). ANTARA/Xinhua/Hu Yousong/aa.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memanaskan hubungan dagang Amerika Utara. Kali ini, sasaran ancamannya adalah Kanada. Trump menegaskan, Ottawa akan dikenai tarif impor hingga 100 persen jika nekat mempererat kerja sama dagang dengan China.

Peringatan keras itu disampaikan Trump lewat platform Truth Social, Sabtu (24/1/2026). Ia menyebut setiap produk Kanada yang masuk ke Amerika Serikat akan langsung “dihukum” tarif tinggi bila kesepakatan dagang dengan China benar-benar terwujud.

Trump bahkan menyindir Perdana Menteri Kanada Mark Carney dengan menyebutnya sebagai “gubernur”. Menurut Trump, Carney akan membuat kesalahan besar jika membiarkan Kanada menjadi “jalur transit” bagi produk-produk China menuju pasar AS.

Nada peringatan Trump tak berhenti di situ. Ia melukiskan skenario suram jika Kanada semakin dekat dengan China, mulai dari hancurnya dunia usaha hingga rusaknya tatanan sosial. Dalam unggahan lain, Trump menegaskan bahwa “pengambilalihan Kanada oleh China” adalah hal yang sama sekali tidak bisa diterima dan, menurutnya, tak akan pernah terjadi.

Pemerintah Kanada buru-buru meluruskan isu tersebut. Menteri yang membidangi Perdagangan Kanada–AS, Dominic LeBlanc, menegaskan bahwa pembicaraan terbaru dengan Beijing bukan menuju perjanjian perdagangan bebas. Ia menyebut perundingan itu hanya menyelesaikan beberapa sengketa tarif tertentu yang selama ini menghambat ekspor.

LeBlanc menekankan bahwa prioritas utama Ottawa tetap memperkuat hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat. Ia mengutip pernyataan Carney sebelumnya bahwa Kanada dan AS telah lama membangun kemitraan yang kuat, baik di bidang ekonomi maupun keamanan. Di saat yang sama, Kanada juga berupaya memperluas pasar global tanpa mengorbankan kepentingan nasional.

Di tengah tekanan eksternal, Carney mengajak warga Kanada untuk lebih mendukung produk dan pelaku usaha dalam negeri. Dalam pesan video, ia menyebut perekonomian negaranya “sedang terancam dari luar” dan membutuhkan solidaritas nasional. Pemerintah, kata Carney, tengah menggenjot pembangunan jutaan rumah agar lebih terjangkau serta mempercepat pengadaan alat pertahanan demi menjaga kedaulatan negara.

“Kita mungkin tak bisa mengendalikan keputusan negara lain. Tapi kita bisa menjadi pelanggan terbaik bagi diri kita sendiri,” ujar Carney.

Pekan lalu, Kanada memang mengumumkan kesepakatan dagang secara prinsip dengan China, termasuk penurunan tarif kendaraan listrik asal China sebagai imbalan pengurangan bea ekspor produk pertanian Kanada. Langkah inilah yang tampaknya memicu reaksi keras dari Trump.

Ketegangan AS–Kanada sendiri telah berlangsung sejak Trump kembali menjabat pada Januari tahun lalu. Carney menolak keras tekanan tarif dari Washington, bahkan menentang wacana Trump yang sempat menyebut Kanada sebagai “negara bagian ke-51” AS. Hubungan kedua negara kian memburuk setelah Trump menarik undangan bagi Kanada untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian yang ia bentuk, menyusul pernyataan Carney di Forum Ekonomi Dunia (WEF).

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru