Loading
Beberapa tren pernikahan Gen Z yang viral di media sosial. (Freepik/@v.ivash)
SETIAP dua dekade, tren pernikahan selalu punya "wajah" baru. Sekarang, giliran Gen Z yang memegang kendali. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang seringkali manut pada kemauan orang tua, Gen Z hadir dengan prinsip: "My wedding, my rules."
Menurut perencana pernikahan José Rolón, Gen Z adalah generasi yang berani mendobrak tradisi lama. Mereka nggak lagi melakukan sesuatu cuma karena "biasanya memang begitu." Fokusnya sekarang adalah makna, suasana (vibe), dan tentu saja—estetika yang Instagrammable.
Lebih Mandiri, Lebih Personal
Menariknya, Gen Z cenderung lebih mandiri secara finansial dalam membiayai hari bahagia mereka. Karena bayar pakai kantong sendiri, mereka jadi punya kontrol penuh. Gak ada lagi drama harus mengundang kerabat jauh yang nggak dikenal.
Fotografer pernikahan Alicia Rinka mencatat bahwa Gen Z sangat memprioritaskan autentisitas. Mereka lebih suka venue yang nggak biasa, sangat peduli pada isu keberlanjutan (sustainability), dan inklusivitas. Pernikahan bukan lagi sekadar upacara, tapi sebuah statement identitas.
Ke Mana Larinya Uang Mereka?
Meskipun angka total pengeluaran mungkin mirip dengan Milenial (berkisar di angka yang cukup signifikan tergantung skala), alokasi budget-nya berubah drastis:
7 Faktor Utama yang Memengaruhi Angka Pernikahan Gen Z
Kenapa biaya nikah sekarang terasa berbeda? Ini beberapa faktor kuncinya:
1. Kenaikan Biaya Hidup (Inflasi)
Tak bisa dipungkiri, harga bahan baku hingga sewa venue naik. Hal ini memaksa Gen Z jadi lebih selektif. Mereka sering bertanya, "Ini beneran perlu nggak, ya?" sebelum mengeluarkan uang.
2. Tren "Sober Wedding" (Minim Alkohol)
Berbeda dengan pesta zaman dulu, Gen Z banyak yang beralih ke konsep mocktail bar atau bahkan coffee station yang lebih hemat biaya sekaligus lebih ramah untuk semua tamu.
3. Investasi pada Fotografi & Videografi
Bagi Gen Z, dokumentasi adalah segalanya. Mereka lebih memilih membayar fotografer mahal yang punya gaya candid dan otentik daripada dekorasi pelaminan yang megah tapi membosankan.
4. Transparansi Vendor
Gen Z nggak suka harga "bisik-bisik". Mereka lebih memilih vendor yang transparan dengan paket à la carte yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan (dan kantong) mereka.
5. Desain yang Mendobrak Pakem
Lupakan buket bunga besar atau korsase seragam. Gen Z lebih suka membawa tas tangan pengantin yang unik atau menggunakan elemen dekorasi yang bisa didaur ulang.
6. Prioritas Pengalaman Tamu
Daripada pesta formal yang kaku, Gen Z lebih suka pesta setelah pernikahan (after-party) yang seru dengan DJ atau hiburan interaktif yang bikin tamu betah.
7. Kemandirian Finansial
Data menunjukkan sekitar sepertiga Gen Z membayar penuh pernikahan mereka sendiri. Inilah yang membuat mereka merasa berhak membuang tradisi yang dianggap tidak relevan.
Pesan Untuk Kamu yang Lagi Planning Nikah
Intinya, pernikahan Gen Z adalah tentang merayakan cinta dengan cara yang paling jujur. Seperti kata Courtney Alev dari Intuit Credit Karma, "Ingatlah bahwa intinya adalah merayakan cinta Anda. Gaun dan hiasan meja bukanlah hal yang paling akan diingat selamanya."
Jadi, buat kamu para Gen Z, jangan takut untuk beda. Mau nikah di taman belakang atau cuma di KUA lalu makan enak bareng sahabat? Go for it! Yang penting, memori yang tercipta nggak bikin kantong jebol setelah acara selesai.