Loading
Dunia Makin Panas, 4 dari 10 Orang Akan Hidup di Suhu Ekstrem, Indonesia Termasuk. (Pixabay)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Jumlah orang yang tinggal di wilayah dengan suhu ekstrem diperkirakan akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2050 jika pemanasan global mencapai 2 derajat Celsius. Temuan ini diungkap dalam sebuah studi terbaru yang memetakan dampak perubahan iklim terhadap kondisi suhu dan pola permintaan energi di seluruh dunia.
Para peneliti menyebut tidak ada satu pun wilayah yang akan kebal terhadap dampak tersebut. Meski kawasan tropis dan belahan bumi selatan diproyeksikan mengalami dampak paling berat, negara-negara di belahan bumi utara juga menghadapi tantangan besar karena infrastruktur dan lingkungan binaan mereka selama ini dirancang untuk iklim dingin.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Sustainability ini merupakan analisis paling rinci sejauh ini mengenai seberapa cepat dan luas suhu ekstrem akan menyebar seiring meningkatnya pemanasan global akibat aktivitas manusia. Dunia telah mengalami kenaikan suhu sekitar 1 derajat Celsius dibandingkan era praindustri satu dekade lalu, diperkirakan mencapai 1,5 derajat Celsius dalam dekade ini, dan berpotensi menembus 2 derajat Celsius pada pertengahan abad jika emisi bahan bakar fosil tidak ditekan secara signifikan.
Kenaikan suhu tersebut, dilansir The Guardian, akan mengubah pola konsumsi energi global. Dalam beberapa dekade ke depan, kebutuhan energi untuk pemanas di belahan bumi utara diperkirakan menurun, sementara permintaan pendingin ruangan di belahan bumi selatan melonjak tajam. Studi terpisah menunjukkan bahwa menjelang akhir abad ini, konsumsi energi untuk pendinginan akan melampaui dan jauh melebihi kebutuhan pemanasan.
Dalam penelitian ini, suhu ekstrem didefinisikan berdasarkan jumlah hari dalam setahun ketika suhu menyimpang dari rata-rata ideal 18 derajat Celsius. Dengan menggunakan model komputer, para ilmuwan memetakan wilayah yang akan mengalami perubahan paling drastis serta jumlah penduduk yang terdampak.
Jika ambang batas pemanasan 2 derajat Celsius terlampaui, jumlah orang yang mengalami panas ekstrem diproyeksikan meningkat dari 1,54 miliar orang pada 2010 menjadi 3,79 miliar orang pada 2050. Angka tersebut setara dengan sekitar 41 persen dari total populasi global yang diperkirakan pada pertengahan abad ini.
Sebagian besar populasi terdampak akan berada di negara-negara berpenduduk besar seperti India, Nigeria, Indonesia, Bangladesh, Pakistan, dan Filipina. Namun, lonjakan suhu berbahaya paling signifikan diperkirakan terjadi di Republik Afrika Tengah, Nigeria, Sudan Selatan, Laos, dan Brasil.
Temuan lain yang mengejutkan para peneliti adalah bahwa pergeseran terbesar justru terjadi pada fase awal pemanasan, mendekati kondisi dunia saat ini yang berada di kisaran 1,5 derajat Celsius. Hal ini menambah urgensi perlunya langkah adaptasi yang cepat di sektor kesehatan, ekonomi, dan sistem energi.
Salah satu penulis studi, Radhika Khosla dari Smith School of Enterprise and the Environment Universitas Oxford, mengatakan temuan ini menegaskan pentingnya bertindak lebih awal. Ia menilai kenaikan suhu di atas 1,5 derajat Celsius akan berdampak luas pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan dan kesehatan hingga migrasi dan pertanian.
Menurut Khosla, bahkan negara-negara maju di belahan bumi utara tidak akan luput dari tekanan panas ekstrem. Banyak negara belum siap menghadapi perubahan ini karena bangunan dan infrastruktur yang sudah tua dan tidak efisien untuk kondisi panas.
Ia mencontohkan Inggris, di mana sistem bangunan dan energi dirancang untuk cuaca dingin. Pada 2023, National Grid Inggris bahkan terpaksa kembali mengoperasikan pembangkit listrik tenaga batu bara untuk memenuhi lonjakan permintaan listrik akibat penggunaan pendingin ruangan selama gelombang panas yang tidak biasa.
Para peneliti menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan dengan emisi nol bersih tetap menjadi satu-satunya jalan yang terbukti untuk membalikkan tren menuju dunia yang semakin panas, seraya menyerukan agar para pembuat kebijakan kembali mengambil inisiatif sebelum dampaknya kian sulit dikendalikan.