Loading
Studi Ungkap Separuh Emisi CO2 Global Berasal dari 32 Perusahaan Bahan Bakar Fosil. (Pixabay)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa separuh emisi karbon dioksida global pada 2024 berasal dari hanya 32 perusahaan bahan bakar fosil. Temuan ini tertuang dalam laporan Carbon Majors yang menyoroti semakin terkonsentrasinya sumber emisi penyebab krisis iklim di tangan segelintir produsen energi raksasa.
Jumlah tersebut menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencatat 36 perusahaan. Namun, para peneliti menilai tren ini justru mengkhawatirkan karena emisi global kian didominasi oleh kelompok perusahaan beremisi tinggi. Produsen bahan bakar fosil milik negara mendominasi daftar, dengan 17 dari 20 emiten teratas berada di bawah kendali pemerintah.
Saudi Aramco, dilansir The Guardian, tercatat sebagai pencemar terbesar yang dikendalikan negara, dengan emisi mencapai 1,7 miliar ton CO2, sebagian besar berasal dari ekspor minyak. Jika disamakan sebagai sebuah negara, emisi Aramco akan menempatkannya sebagai pencemar karbon terbesar kelima di dunia, tepat di bawah Rusia.
Sementara itu, ExxonMobil menjadi pencemar terbesar milik investor, dengan emisi sekitar 610 juta ton CO2, setara pencemar terbesar kesembilan dunia dan melampaui Korea Selatan.
Laporan tersebut juga menyoroti bahwa negara-negara pengendali perusahaan bahan bakar fosil besar, seperti Arab Saudi, Rusia, Tiongkok, Iran, Uni Emirat Arab, dan India, termasuk pihak yang menentang usulan penghapusan bahan bakar fosil dalam KTT iklim PBB COP30. Padahal, lebih dari 80 negara telah menyatakan dukungan terhadap rencana tersebut.
Para ahli mencatat bahwa sejak pandemi Covid-19, emisi karbon global kembali meningkat setiap tahun dan mencapai rekor tertinggi. Untuk memenuhi target Perjanjian Paris membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celsius, emisi seharusnya turun 45 persen pada 2030, target yang kini dinilai hampir mustahil tercapai. Meski demikian, pembatasan sekecil apa pun terhadap kenaikan suhu tetap dianggap krusial untuk menekan dampak ekstrem perubahan iklim.
Emmett Connaire dari lembaga think tank InfluenceMap mengatakan emisi global kini semakin terkonsentrasi pada kelompok produsen besar, sementara produksi bahan bakar fosil secara keseluruhan terus meningkat. Konsolidasi industri energi, seperti akuisisi Pioneer Natural Resources oleh ExxonMobil dan Hess oleh Chevron, dinilai memperkuat dominasi segelintir perusahaan terhadap emisi global.
Baca juga:
Hadapi Perubahan Iklim Global Pemda Sikka Gelar Konsultasi Publik Kajian Lingkungan Hidup StrategiKritik keras juga datang dari aktivis iklim. Tzeporah Berman dari Inisiatif Perjanjian Non-Proliferasi Bahan Bakar Fosil menyebut perusahaan-perusahaan besar tersebut tidak hanya mendominasi emisi, tetapi juga aktif melemahkan upaya iklim dan ambisi pemerintah. Ia menilai dukungan 80 negara terhadap rencana penghapusan bahan bakar fosil sebagai langkah penting menuju transisi energi yang adil.
Mantan Kepala Iklim PBB, Christiana Figueres, mengatakan data Carbon Majors menunjukkan bahwa para emiten besar berada di sisi sejarah yang keliru. Menurutnya, meskipun investasi global pada energi bersih dan elektrifikasi hampir dua kali lipat dibanding bahan bakar fosil, perusahaan-perusahaan besar masih bertahan pada produk yang dinilai usang dan mencemari lingkungan.
Basis data Carbon Majors kini semakin banyak digunakan sebagai dasar tuntutan hukum dan kebijakan. Data tersebut telah membantu mengaitkan emisi perusahaan bahan bakar fosil dengan gelombang panas mematikan dan kerugian ekonomi triliunan dolar akibat panas ekstrem. Bukti serupa juga digunakan dalam kasus hukum iklim di Jerman serta undang-undang superfund iklim di New York dan Vermont yang mewajibkan perusahaan besar berkontribusi pada perlindungan masyarakat dari dampak iklim.
Saudi Aramco menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut, sementara ExxonMobil tidak menanggapi permintaan klarifikasi.