Utusan Khusus Presiden untuk Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo saat menyambangi Samarinda dalam Groundbreaking PLTA Batoq Kelo, Senin (25/5/2026). ANTARA/Ahmad Rifandi.
SAMARINDA, ARAHKITA.COM – Pemerintah Indonesia terus mempercepat langkah menuju kemandirian energi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Salah satu strategi utama yang kini didorong adalah pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) guna mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri.
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengatakan konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat memberikan dampak langsung terhadap stabilitas energi dunia, termasuk Indonesia.
Dalam keterangannya di Samarinda, Senin (25/5/2026), Hashim menilai situasi global saat ini menjadi pengingat penting bahwa Indonesia harus segera memperkuat ketahanan energi nasional.
Menurutnya, ancaman penutupan Selat Hormuz dapat mengganggu distribusi minyak mentah dunia dan berdampak pada pasokan energi dalam negeri. Jalur tersebut selama ini menjadi salah satu titik vital perdagangan minyak global.
Meski begitu, pemerintah memastikan pasokan energi nasional masih dalam kondisi aman. Hashim mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto telah memperoleh komitmen pasokan minyak dari Vladimir Putin. Rusia disebut siap memasok sekitar 150 juta barel minyak untuk Indonesia pada tahun ini.
Kesepakatan tersebut dinilai strategis untuk menjaga keamanan energi nasional sekaligus mempertahankan stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah tekanan global.
Pemerintah juga menegaskan stabilitas harga energi tetap diupayakan tanpa menghapus subsidi bagi masyarakat kecil. Namun, Indonesia dinilai tidak bisa terus bergantung pada pasokan energi impor karena ancaman geopolitik dapat kembali terjadi sewaktu-waktu.
“Potensi konflik di Timur Tengah yang meluas bisa kembali mengganggu distribusi minyak dunia. Karena itu, Indonesia harus mempercepat kemandirian energi,” ujar Hashim dikutip Antara.
Karena itulah, pengembangan energi baru dan terbarukan kini menjadi agenda yang semakin penting. Pemerintah mulai mendorong optimalisasi berbagai proyek energi bersih, termasuk pengembangan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Batoq Kelo berkapasitas 300 megawatt.
Menurut Hashim, pemanfaatan sumber daya energi domestik menjadi langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan energi nasional yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Selain memperkuat ketahanan energi, langkah tersebut juga menjadi bagian dari komitmen Indonesia menuju target emisi nol bersih atau net zero emission.
Hashim menegaskan pemerintahan Presiden Prabowo tetap berkomitmen mencapai target emisi nol bersih pada 2060, bahkan terbuka kemungkinan tercapai lebih cepat.
“Indonesia ingin membangun sistem energi yang mandiri, berkelanjutan, dan lebih tahan menghadapi gejolak global,” katanya.