Loading
Aktris Tilda Swinton berpose dalam sesi foto untuk film Memoria di Festival Film Cannes. (Antara)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Aktris peraih Oscar Tilda Swinton menilai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak akan mampu menggeser kekuatan sinema selama para pembuat film tetap menghadirkan karya yang orisinal dan penuh kejutan.
Dalam sesi masterclass di Festival Film Cannes, Prancis, Swinton menegaskan bahwa ancaman AI hanya berlaku bagi film-film yang dibuat dengan pola terlalu formulaik dan mudah ditebak penonton.
“Saya percaya selama apa yang kita hasilkan tidak mengikuti formula dan dalam beberapa hal membosankan bagi penonton, AI tidak punya peluang,” kata Swinton seperti dikutip dari Variety, Kamis (21/5/2026).
Aktris asal Inggris yang meraih Piala Oscar lewat film “Michael Clayton” itu menilai manusia masih memiliki keunggulan yang tidak bisa ditiru teknologi, terutama dalam menciptakan pengalaman sinematik yang spontan dan emosional.
“Yang perlu kita lakukan adalah apa yang hanya dapat dilakukan manusia: membuat pengalaman yang berantakan dan penuh petualangan sehingga penonton tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan menikmati pengalaman itu,” ujarnya.
Baca juga:
Seskab Teddy Jelaskan Alasan Prabowo Absen dari KTT G20, Gibran Ditunjuk Jadi Wakil IndonesiaSwinton juga menyoroti perubahan besar yang terus terjadi di industri hiburan, termasuk munculnya layanan streaming yang sempat dianggap mengancam keberadaan bioskop. Namun menurutnya, persoalan utama bukanlah persaingan platform, melainkan hadirnya tontonan yang terasa repetitif dan kehilangan kejutan.
Pemeran White Witch dalam film “Chronicles of Narnia” itu mengatakan penonton tidak ingin mengeluarkan uang untuk menyaksikan film yang terasa seperti cerita lama yang sudah berkali-kali ditonton.
“Itulah yang harus kita waspadai,” katanya.
Bagi Swinton, dunia sinema sebenarnya sudah berkali-kali menghadapi tantangan besar. Kehadiran televisi, video, hingga platform streaming pernah diprediksi akan membuat bioskop kehilangan relevansi. Namun industri film tetap bertahan karena selalu ada kreator yang berani bereksperimen.
Karena itu, ia optimistis era AI juga bisa dilewati selama sineas tetap mempertahankan sisi manusiawi dalam proses kreatif mereka.
“Ini adalah bisnis manusia. Manusia yang membuat sinema, bukan?” kata Swinton.